Sosok Tampan

Pria tampan pemilik vila

Baju ganti serta perlengkapan lainnya kumasukkan ke tas ransel, tidak lupa kotak kecil yang terbungkus indah diselipkan ke dalamnya. Rika--sahabatku--memperhatikan  semua kegiatan dengan seksama, lalu bertanya, "Kamu yakin akan datang ke vila itu, Si?" 

Aku menaikkan kedua alis sambil menjawab, "Sepertinya begitu. Aku penasaran dengan Adri, apa benar dia setampan foto yang ada di media sosial? Apalagi sudah mengenalnya lama dan telah berkomitmen menjadi pacarnya enam bulan belakangan ini. Walau belum pernah melihatnya langsung, hati telah terisi namanya, Ka."

"Tapi, enggak perlu menyambanginya di vila, Si. Jauh, loh ... jarak Jakarta dengan Pengalengan." Rika kembali menunjukkan kekhawatirannya padaku. Menurut Rika, ia mempunyai firasat buruk tentang Adri, sosok pria yang aku kenal di salah satu aplikasi pertemanan.

"Hahaha, sudahlah, Rik, tenang saja. Aku akan membawa perlengkapan memanah, jika Adri cowok enggak benar, anak panah akan bersarang tepat di bawah perutnya." Aku tertawa terbahak-bahak berusaha menenangkan Rika.

Setelah memastikan akan baik-baik saja, Rika melepasku pergi. Pintu mobil ditutupnya perlahan, kembali dia berucap, "Hati-hati, Si." Aku mengangguk dan mulai mengemudi menuju suatu daerah di Jawa Barat. Jendela kubuka lebar-lebar agar udara pagi yang masih sejuk dan asri dapat leluasa masuk ke dalam ke mobil.

Mencari alamat vila terasa agak sulit, padahal sudah menggunakan aplikasi pencarian lokasi paling canggih. Kalau saja Adri tidak berulang tahun dan akan memperkenalkan aku pada orang tuanya, enggan rasanya datang ke vila tersebut. Sesaat bayangan Adri yang tampan dengan mata tajam menari-nari di pelupuk mata sehingga mempercepat laju kendaraan. Tak sabar ingin bertemu dengannya, apalagi mengingat perkataan manisnya, ingin menjadikanku bagian dari keluarganya. Aaah ... Adri, sosokmu membuat Sisi Ayuningtias menjadi nekad.

Setelah mengendarai mobil kurang lebih empat jam sampailah di sebuah vila yang tempatnya tersembunyi di antara lebatnya pohon pinus. Tampak dua buah mobil keluaran terbaru terparkir di halamannya. Seorang wanita setengah baya dan dua orang laki-laki muda yang wajahnya mirip Adrimenyambut saat aku turun dari mobil.

"Selamat datang di vila keluarga Sukmajaya, saya Ratih Sukmajaya pemilik vila. Kalau boleh tahu, apa keperluannya datang ke sini?" tanya wanita setengah baya yang ternyata Ibunya Adri.

"Nama saya Sisi. Saya di undang Adri Sukmajaya merayakan ulang tahunnya." Mendengar ucapanku, ketiga orang yang ada di hadapan terlihat kaget, terutama Ibu Ratih. Namun, terlihat langsung bisa menguasai dirinya dan menyuruhku masuk. Sebuah ruangan yang tertata apik dengan bingkai foto besar tampak di hadapanku. Wajah Adri terlihat di foto tersebut.

"Adri juga yang menyuruh kami datang ke vila hari ini," ujar Ibu Ratih yang sedikit terisak saat menyebut nama Adri. Kedua pria muda yang bersamanya terlihat menenangkannya.

"Oh, iya, lalu di mana Adrinya, Bu?" tanyaku dengan mata menyapu ruangan.

"Begini, Nak Sisi. Ini adalah adik kandung dari Adri. Arga dan Bara, menurut Nak Sisi, siapa yang pantas menjadi pendamping hidupmu di antara mereka berdua?" Tanpa tedeng aling-aling Ibu Ratih bertanya dengan tatapan sulit diartikan. 

Mataku terbelalak mendengar ucapan Ibu Ratih, "Maksud Ibu? Saya kesini atas permintaan Adri. Sekarang Adrinya mana? Saya ingin bertemu dia!" Geram, seolah dipermainkan, aku berdiri dan memanggil-manggil nama Adri. Satu persatu pintu kamar di lantai bawah kubuka dengan harapan menemukan sosoknya di dalam. Melihat sikapku, Arga menghampiri dan menarik tanganku menuju belakang vila diikuti Ibu Ratih dan Bara.

Jantung terasa copot saat melihat dua buah makam yang terawat rapi berada di hadapanku. Salah satu nisannya tertulis nama Adri Sukmajaya. Waktu kematiannya tepat di mana aku bertemu dengannya di dunia maya---aplikasi perkenalan.

"Kak Adri sudah meninggal setahun lalu tepat di hari kelahirannya, dikarenakan kanker otak. Keanehan terjadi selama sebulan belakangan ini, kami bertiga selalu didatangi Kak Adri melalui mimpi. Meminta aku atau Bara menikahi seorang wanita. Menurutnya wanita itu baik dan pantas menjadi pendamping kami yang telah berjanji tidak akan melangkahi Kak Adri untuk menikah duluan. Semalam Kak Adri mendatangi Ibu melalui mimpi menyuruh datang ke vila." Suara Arga terasa menusuk hati. Tidak mungkin Adri sudah meninggal. Selama setahun, ia telah mengisi hari-hari kosongku. Tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuh terasa lemas, pandangan pun menjadi gelap, aku tersungkur di pusara Adri.

Aku tersadar di salah satu kamar vila tersebut. Ibu Ratih langsung memberi segelas air putih, lalu bertanya, "Bagaimana, sudah bisa menerima bahwa Adri sudah tiada?"

"Ya, Bu ... sekarang saya pamit balik ke Jakarta," ucapku seraya bangkit dari peraduan. "Jangan dulu, Nak Sisi. Hari sudah malam, khawatir terjadi yang tidak diinginkan di jalan. Lagi pula Nak Sisi belum memberitahukan pilihan antara Arga dan Bara." Ibu Ratih menahan tanganku, tetapi dengan lembut aku menjawab, "Saya terbiasa bepergian jadi tidak usah khawatir, Bu. Masalah Arga dan Bara, saya masih bingung, tolong pengertiannya, ya, Bu."

Ibu Ratih akhirnya mengerti, setelah bertukar nomor kontak, aku pun diijinkan pulang. Sebelum meninggalkan vila, aku sempat melihat sosok yang membuat penasaran berdiri di atas balkon menatap sedih.


Jkt'03