Patung Sang Dewi

Patung Sang Dewi

“Samara!"

Terdengar bisikan lirih yang membuatku terjaga dari rasa kantuk luar biasa akibat kelelahan MOS. Aku menengok ponsel pintarku, waktu menunjukkan jam 23.05 WIB. Aku memeriksa teman-temanku sesama siswa baru, ternyata mereka masih terlelap. Kubuka resleting tenda, melongok keluar.

Ya Tuhan, aku merinding juga saat melihat bangunan SMSR Artdiyasa, sekolah baruku di kala malam. Bangunannya mengusung arsitektur kuno, kokoh, dan berlantai dua. Di halaman terdapat kolam yang airnya senantiasa mengalir dari bejana yang di pegang oleh patung wanita. Konon menurut cerita yang beredar, itu adalah patung Ibu Kamaratih Dewangga, istri pendiri sekolah. Patung Ibu Ratih dikabarkan dipahat oleh Prof. Panji Airlangga S.pd. M.Sn. sendiri. Patung tersebut memang karya masterpiece. Tingginya kurang lebih sangat ideal untuk ukuran wanita, anatominya juga tepat. Seolah saat memahat patung, Prof. Panji pernah menyayat setiap detail kulit, otot, dan tulang mayat sebagai percobaan. Membayangkannya saja aku sudah ngeri, tetapi aku mendadak teringat apa yang dilakukan Leonardo da Vinci dan Michelangelo Buonarroti. Maestro asal Italia yang hidup di jaman Renaissance. Penelitian mereka yang awalnya untuk ilmu pengetahuan dan memastikan anatomi tubuh manusia itu, bisa dibilang memang ilegal. Ah itu dari kacamata remaja belasan tahun sepertiku. Kita kan tidak diizinkan menyentuh atau pun membedah mayat tanpa alasan jelas dan sah secara hukum.

Kembali ke patung Sang Dewi. Bu Ratih digambarkan menggunakan busana tari Jawa kuno. Ada aksesoris di kepala, kebaya, dan selendang. Melihatnya saja, aku sudah bisa menebak jika beliau adalah wanita yang sangat cantik.

"Ara! Kenapa kamu berdiri di halaman sekolah malam-malam?"

Aku tersentak, kemudian menyadari telah berdiri tepat di bawah patung. Aku bahkan tidak sadar telah sampai di tempat ini.

"Tadinya mau ke toilet, Kak," jawabku sekenanya. Beruntung aku bertemu dengan Kakak OSIS yang baik hati dan jarang marah-marah seperti Mbak Nadine ini.

"Dilarang keluyuran sembarangan di sekolah ini. Apalagi menatap patung Mamanya Davin sampai segitunya."

Mamanya Davin? Kak Davin si ketua OSIS ganteng itu? Aku masih enam belas tahun, masa remaja unyu dan tidak bisa cuek melihat cowok bening sedikit, sering jingkrak-jingkrak di pinggir lapangan basket sambil teriak-teriak histeris. Apalagi pas tahu ternyata dia juga putra pendiri sekolah. Wah hebat, hebat.

"Ayok, Kakak antar ke toilet. Kalau kesambet nanti aku yang kena marah lagi," cerocos Kak Nadine.

"Wah thanks ya, Kak," jawabku tersenyum nyengir.

"Di sekolah ini. Kamu mesti punya sopan santun, manut aturan dan jangan diulangi yang kayak tadi. Nggak ada yang berani loh."

"Yang kayak tadi? Maksudnya merhatiin patung tah?"

"Sttttt, jangan keras-keras. Iya."

Pasti ada yang tidak beres. Bikin penasaran saja ini Mbak-mbak. Ceritanya tidak tuntas, cuma berisi peringatan.

"Kak!"

"Jangan nanya aneh-aneh lagi, sudah sana masuk toilet. Jangan lupa baca doa."

Malam itu semua baik-baik saja. Aku juga sudah berusaha melupakan rasa penasaranku terhadap patung Sang Dewi. Aku menjalani semua aktivitasku sebagai siswi kelas X SMSR Artdiyasa jurusan seni lukis. Mulai dari belajar menggambar bentuk, nirmana, anatomi, dasar-dasar seni lukis, sket perspektif, dasar-dasar estetika, lukis pensil, lukis pensil warna, lukis crayon, lukis cat minyak, dan lukis acrylic. Semua yang sebenarnya tidak asing bagiku, karena selain diberi bubur dan biskuit bayi, Papa telah menjejaliku tentang seni sejak dini. Sebenarnya aku hanya mengikuti semua keinginan Papa mengenai masa depanku.

Aku memang berbeda dengan teman-temanku. Selama ini, aku belajar lebih keras dan gigih. Di usia remaja aku sudah memecahkan rekor menggambar cepat. Alangkah senangnya jika Papa bangga padaku, karena dengan begitu, beliau akan sedikit saja memperhatikanku. Papa seorang single parent yang sangat sibuk dan terlampau tenggelam dalam dunianya sendiri.

Oiya. Ada hal istimewa yang terjadi pasca kejadian di depan patung. Sungguh aneh, setiap malam aku sering bermimpi yang sama. Tentang seorang wanita. Dia ... wanita dewasa yang cantik. Aku tidak mengenalnya di dunia nyata, usianya kira-kira sebelas dua belas dengan Papa. Namun karena itu hanya mimpi, jalan ceritanya hanya sekilas dan tidak jelas.

"Dik, kamu melupakan bukumu di kantin," sapa seseorang mengagetkanku. Ini kan si ketua OSIS yang kece badai itu. Aku mengambil bukuku dari tangannya.

"Terima kasih Kak Davin," ucapku sopan. Selain merasa beruntung, aku juga bersyukur karena tidak menghilangkan buku Papa. Beliau bisa murka.

"Sama-sama. Tidakkah bukumu terlalu berat? Seperti bacaan anak kuliah semester enam."

"Ahaha. Bisa saja, Kak. Tidak begitu, Kak," jawabku ngeles. Aku memang sudah tumbuh dewasa sebelum waktunya.

"Ah iya, kamu putri Prof. Abimanyu kan? Seniman kontemporer terkenal itu. Pantas saja."

Dari mana dia tahu? Apa dia menyelidiki asal usulku? Ah geer sekali aku ini. Ternyata Kak Davin mengenaliku? Bagaimana bisa aku tidak bersorak-sorak gembira?

"Kak Davin berlebihan. Bukannya Kak Davin juga putra pendiri sekolah ini? Itu hebat sekali, Kak," pujiku.

Sejak kapan aku sangat peduli dengan status? Apa sejak aku sama noraknya seperti teman-temanku. Berbaris, berjejer hanya untuk minta perhatian ketua OSIS.

"Samara. Nanti malam ada festival seni. Datanglah."

Dia juga tahu namaku, Samara?

"Ah iya, Kak. Insya Allah," jawabku grogi.

***

Tentu saja. Aku masih tidak suka berada di sekolah malam hari, seperti saat MOS itu. Aku bahkan menunduk saat melewati halaman sekolah. Aku juga tidak punya nyali cukup besar untuk menatap patung itu.

Sekolah saat malam sangat mengerikan. Lukisan dan patung-patung seperti hidup. Konon jin-jin menempel di mana-mana. Seperti lukisan wanita berambut panjang terurai, bergaun tidur putih yang membelakangi cermin di lorong sekolah, lukisan harimau Sumatra yang ada di balkon, dan patung garuda di taman. Pokoknya aku benci suasana malam di sini, membuat tidak nyaman dan sesak di dada.

Ini pertama kalinya aku datang ke sebuah festival. Murid sekolah tumpah ruah di depan panggung. Mereka larut oleh hingar-bingar musik. Ada musik modern dan juga tradisional. Ada siswi baru yang sangat ahli nyinden. Mendengar suaranya aku serasa takjub, tetapi di sisi lain, aku merasa agak takut. Bayangkan, di antara seabrek lagu, dia memilih lingsir wengi untuk dilantunkan.

Aku menjauh pelan-pelan. Inikah sebenarnya diriku? Aku tidak suka keramaian, lebih nyaman sendirian, dan tidak banyak memiliki teman.

"Samara!"

Sial, aku mendengar suara itu lagi. Ada bisikan aneh di telingaku, suara misterius yang memanggil namaku. Seperti halnya saat itu, aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku kehilangan kendali diriku. Ke mana aku berjalan dan dengan siapa? Lebih mudah diceritakan jika aku tidak memiliki diriku.

Aku tidak mampu menolak, kini kusadari aku telah berdiri di halaman. Bukan lagi dengan wajah tertunduk seperti di siang hari. Aku menatap langit yang dipenuhi awan gelap hamil tua berarak-arak, bulan purnama sempurna berwarna merah saga, dan angin dingin berembus membekukan pori-pori.

Entah apa yang merasukiku, aku juga melanggar larangan yang dijelaskan Kak Nadine kala itu. Lampu-lampu di teras dan halaman sekolah mendadak padam. Berbekal cahaya bulan aku bisa melihat patung Sang Dewi dengan mulut tercengang, kakiku seakan lemas kehilangan tulang. Aku jatuh terduduk. Bagaimana tidak? Dari mata patung Bu Ratih kulihat cairan merah merembes, air yang mengalir dari bejana juga berubah merah, seluruh kolam juga berubah menyala. Aku semakin panik luar biasa saat mendengar suara anjing menggonggong, kedengarannya sangat ramai, aku sampai tidak tahu itu memang suara sekelompok anjing atau sejenis serigala. Suara tangis wanita juga memecah kesunyian hampir seperti lonceng di tengah pemakaman. Aku juga masih mendengar gamelan mengalun mengiringi suara sinden Jawa nembang sayup-sayup.

Tak terasa air mataku bergulir tak berdaya. Seluruh sendi dan mulutku terkunci, aku tidak bisa berteriak tolong! Aku hanya menjerit dalam hati sambil terus berdoa sebisaku. Sebenarnya aku berupaya lari, tetapi anehnya kakiku sulit digerakkan. Seperti ada yang menahanku untuk pergi. Kuat sekali! Aku mulai ada di tahap sangat ketakutan. Jantungku berdebar cepat, seakan meloncat- loncat. Keringat dingin merembes dari sekujur tubuhku, aku merasa semua berat dan gelap. Entah apa yang terjadi setelah itu, aku sudah tidak tahu lagi.

***

Aku dibangunkan oleh suara jendela membuka dan menutup. Korden beterbangan dibawa angin, matahari telah terik dan tubuhku ternyata tergeletak di ranjang UKS.

Ada Bu Ning Ambarwati wali kelasku. Ada Dita teman sebangkuku dan ada Kak Davin yang ternyata juga menungguku.

Saat mereka semua hendak pergi satu persatu, mulutku mendadak berteriak.

"Kak Davin!"

"Ada apa, Samara?"

"Aku mau bicara penting."

Dahi Davin mengernyit serius, seakan melukis tanya sebenarnya ada apa dengan diriku? Dia duduk kembali di kursi tunggu UKS, menungguku bicara.

"Kak Davin jangan marah ya."

"Untuk?"

"Pertanyaanku."

"Tentang?"

"Jawab yang jujur, Mama Kak Davin ada di mana?"

Wajah Davin langsung pucat pasi, dibuangnya pandangannya ke arah lain. Aku tahu dia kesal, tapi kejadian semalam sudah seperti teror. Sebenarnya aku adalah anak yang cukup realistis, yang bisa saja menganggap semalam hanya mimpi. Akan tetapi aku merasa aneh, ada yang tidak beres.

"Kak. Ini ada hubungannya dengan kejadian semalam. Jujurlah padaku. Ibu Kamaratih ada di mana?" desakku.

Dia tetap diam, matanya tidak berkedip. Tangannya mengepal.

"Kak!" desakku.

"Jangan tanya anak ini, Nduk. Selamanya dia akan bungkam," ucap sebuah suara. Itu Papa? Mungkin Papa ditelepon pihak sekolah.

"Maksud Papa bagaimana?"

"Bu Ratih sudah tiada, tetapi mayatnya tidak pernah ditemukan. Akan tetapi aku tahu dia ada di mana."

"Ada di mana, Pa?"

"Airlangga, ayahmu itu adalah pematung yang buruk. Dia tidak mungkin membuat patung yang sangat bagus, apalagi sebagus di halaman sekolah ini." Jawaban Papa membuatku tersentak ngeri. Jadi dia tidak mengubur jasad istrinya bersama semen di halaman sekolah kan? Itu tidak mungkin.

Mata Davin memerah, sudut matanya meleleh. Apakah sebenarnya Davin tahu apa yang telah terjadi? Namun dia hanya bisa diam.

"Airlangga juga tidak mengenali putrinya sendiri. Dia meletakkannya di depan pintu rumahku karena dibakar api cemburu. Bodoh sekali, jika dia mengira Ratih tidak setia dengannya."

Penjelasan Papa selanjutnya membuatku semakin hilang akal. Putri? Putri Papa cuma aku, apa itu artinya ... aku yang diletakkan Pak Airlangga di depan pintu? Karena merasa cemburu terhadap Papa Abimanyu?

"Kini ayah kalian sudah meninggal. Sudah saatnya patung itu dirobohkan dan dikebumikan dengan layak," ucap Papa seraya bangkit, menuju daun pintu, membukanya lalu membantingnya.

Suasana hening tanpa kata, aku tahu jika hati Kak Davin sama hancurnya sepertiku saat ini. Sungguh ironis, aku mengenal siapa ibuku untuk pertama kalinya dengan cara seperti ini.

#ceritahoror

Trenggalek, 27 Mei 2021

Pic sebelum diedit, diambil dari Pinterest