Instruktur Ganteng itu Bukan Manusia

Ilustrasi

"Penari adalah kasta terendah kaum kita, namun begitu pemujaan tidak akan sah tanpa penari terpilih. Seperti kita ketahui, penari dari ras manusia adalah yang paling sempurna. Maka aku memerintahkan padamu, Gandara, untuk menyusup ke dunia manusia dan mendapatkan penari terbaik."

Ratu kelompok itu memberikan titah pada makhluk tinggi besar serta memiliki tanduk. Makhluk paling perkasa versi golongan mereka. Dia merupakan andalan kaumnya untuk melaksanakan tugas-tugas besar dan berbahaya.

"Penari terpilih kita kali ini bernama Rossie. Aku sudah mengatur pertemuan pertama kalian, sekaligus sebagai momentum persis kamu masuk ke dunia manusia."

Gandara menyembah sang Ratu sebagai lambang dia siap melaksanakan titahnya.

***

Pertandingan berakhir dengan kemenangan di pihak Nicholas dan team basketnya.
Rossie berdebar-debar ketika melihat pemain basket yang cool abis itu berjalan searah dengan tempatnya berdiri. Matanya sulit berkedip saat sosok wajah berhias keringat itu semakin dekat. Entah keberanian dari mana, atau memang Rossie kehilangan kontrol kesadaran saking gugupnya, mencegat Nicholas di tepi lapangan.

"Kak, tadi kamu keren banget mainnya. I-ini buat kamu." Rossie mengulurkan sebuah boneka beruang kira-kira seukuran kaleng wafer berwarna krem. Nicholas memandang Rossie dingin, mengambil boneka itu lalu melemparnya ke ring basket hingga tersangkut di sana. Murid-murid yang menyaksikan adegan itu sebagian tertegun, sebagiannya lagi tertawa mengejek dan mengumpat kenekatan Rossie. Satu dua kalimat bully pun terselip di antaranya.

"Beruang!" ledek Nicholas lirih sebelum berlalu, menuju gerombolan cheerleaders yang berjingkrak  menyambutnya.

Rossie tertegun. Dia melihat beberapa teman perempuan melakukan hal yang sama, kemarin. Tetapi Nicholas menyambut mereka dengan ramah. Kenapa dia seperti itu pada Rossie?

Beruang.
Kata itu terus terngiang di telinganya. Rossie mendekap wajahnya dan berlari ke belakang kelas. Nangis memang bukan solusi, tapi seenggaknya bikin hatinya sedikit merasa lega dibanding tadi.

"Kenapa nangis di sini?"

Rossie buru-buru mengusap air mata lalu menoleh orang yang duduk di sebelahnya.

"Bapak siapa? Guru baru?" Rossie mengamati penampilan lelaki ganteng dan atletis tapi terlalu tua kalau disebut murid itu. Lagipula dia berpakaian kasual. Murid bukan, guru juga bukan. Lalu siapa dia?

"Kenalin, namaku Gandy. Aku instruktur tari yang baru. Ngomong-ngomong, kamu lagi sedih ya? Tahu nggak, menari itu bisa jadi salah satu kegiatan buat ngilangin rasa sedih loh!"

Rossie hanya menanggapinya dengan senyum. Dia memang tidak tahu harus mengomentari apa mengenai tari, karena dia tidak ikut ekskul tari di sekolah.

"Kamu mau nggak, ikut kelas tari?"

"Hah? nggak salah, Pak?" Rossie memastikan, Gandy tidak sedang mengejek tubuhnya yang gempal.

"Ini, kartu anggota gratis buat kamu. Pokoknya, kamu harus rajin ikut nari ya. Aku kasih tahu sebuah rahasia, nanti setelah satu bulan nari badan kamu akan jadi langsing."

Mata Rossie membulat, menyaingi pipinya yang chubby kemerahan membuat Gandy tertawa.

"Panggilnya kak aja ya, jangan pak. Tua banget ya aku?"

"Ngg, nggak kok Pak, eh  Kak."

***

Rossie benar-benar masuk kelas tari. Awalnya, Allysa dan geng cheerleader tidak menyambutnya dengan ramah. Namun karena Gandy memperlakukan Rossie dengan istimewa, mereka tidak berani macam-macam di sanggar.

"Rossie, tunggu." Rossie menahan langkah untuk masuk ke kelas tari demi mendengar suara yang memanggilnya. Ternyata itu Jeremy, "Ini bonekamu." Cowok yang juga salah satu anggota tim basket itu menyodorkan boneka beruang miliknya yang dilempar Nicholas kemarin. Saat tidak ada orang yang melihat, Jeremy mengerahkan kekuatan rahasianya sehingga boneka itu bergerak sendiri lepas dari ring basket.

"Bagaimana bisa ada di kamu?"

"Aku mengambilnya dari ring basket waktu itu."

"Oh, iya. Makasih." Rossie memungut boneka itu dan mendekapnya lalu berniat pergi.

"Rossie, kamu hati-hati ya sama pelatih tari itu."

"Nggak usah khawatir, Kak Gandy sangat baik kok."

Rossie benar-benar masuk ke kelas. Dengan begitu, Jeremy tidak bisa mengikutinya lagi. Hanya Jeremy yang tahu siapa sebenarnya Gandy, sang pelatih ekskul tari. Kemampuannya sudah dia sadari sejak dulu, namun tak ada yang percaya padanya. Kemenangan tim basket yang tak tergeser juga karena kemampuan rahasianya, tapi sosok macho Nicholas menyedot perhatian semua orang.

Sembari menunggu Gandy, para peserta tari iseng-iseng mengisinya dengan menari koreo diiringi musik dance yang enerjik. Kaset yang biasa untuk mengiringi performance tim cheerleader di lapangan, kebetulan dibawa sendiri oleh Allysa dari rumah. Mereka sedang asik ngedance, hingga tak menyadari kedatangan Gandy. Instruktur tari itu memegang kepalanya seolah  menahannya agar tak meledak. Sekonyong-konyong mematikan pemutar musik tanpa peringatan.

"Tarian ini tidak termasuk dalam kurikulum kita." ucapnya sembari memandang wajah para peserta yang notabene murid perempuan. Kata maaf lirih berluncuran dari bibir mereka.

Jeremy masih ada di luar kelas tari, melihat kejadian itu dari jendela. Dengan sedikit konsentrasi dia tahu apa yang terjadi. Gandy tidak tahan dengan jenis musik itu. Mungkinkah kaumnya juga sama?

"Kamu pasti ingin jadi cantik, kan?" tanya Gandy setelah sesi latihan selesai dan semua peserta sudah keluar dari ruangan.

"Serius, Kak?" Rossie terlihat antusias. Matanya membulat seperti waktu itu membuat Gandy gemas.

"Aku akan ajari kamu tari rahasia. Dalam waktu satu bulan, siap-siap aja jadi Cinderella sekolah."

"A-aku mau, Kak!"

Rossie membayangkan sikap Nicholas padanya, satu bulan mendatang. Pasti tak terduga. Sejak hari itu, Gandy mengatur jadwal untuk Rossie belajar menari tapi tidak di kelas tari sekolah, melainkan di sebuah sanggar tari yang megah bearsitektur seperti bangunan Eropa yang artistik dan etnik. Ketika ada di sana, Rossie merasa seperti sedang berada di ruangan dansa istana yang ada di dalam novel sastra. Dia tidak belajar menari sendiri sehingga gadis polos itu tidak memiliki kecurigaan apa pun. Ada beberapa remaja juga yang terlihat sudah fasih dengan gerakan yang diajarkan Gandy. Namun Rossie tidak tahu, mereka bukan manusia seperti dirinya. Mereka adalah teman-teman Gandy di alam sana. Hal yang sesungguhnya aneh namun Rossie tidak mengerti adalah, dia harus menggunakan kostum yang disediakan oleh sanggar itu dan tarian yang diajarkan oleh Gandy sesungguhnya adalah tarian pemujaan. Tak sekedar menari, kelak Rossie adalah persembahan untuk tumbal keabadian dunia mereka.

Gimana dengan Jeremy? Cowok itu mulai waspada melihat perubahan Rossie. Baik dari penampilan, gestur bahkan bentuk tubuhnya sangat signifikan. Jeremy tahu itu bukan proses alamiah. Ada kekuatan dari dunia lain yang  mempengaruhi Rossie.

Satu bulan berlalu dengan cepat. Semua murid baru menyadari perubahan Rossie ketika undangan khusus sebuah teater seni ditujukan khusus padanya dan Nicholas melalui sekolah. Hanya mereka berdua. Tentu saja Rossie merasa gembira, tidak menaruh curiga atau merasakan hal yang janggal. Semua murid perempuan berdecih iri, berharap mendapatkan keberuntungan serupa. Nicholas sekarang bersikap ramah pada Rossie, entah dia sadar atau tidak bahwa partner undangannya ini adalah gadis yang dia sebut beruang waktu itu.

"Nicholas adalah bonus yang tidak diperhitungkan." Gandy alias Gandara menyeringai puas. Ritual pemujaan tinggal dua malam lagi dan semua sudah dipersiapkan dengan matang kecuali satu hal. Jeremy, si bocah berkekuatan rahasia yang tengah mengintai rencana Gandy.

Jeremy masih berpikir keras untuk menyelamatkan dua temannya dari Gandara dan kerajaan iblis yang menunggu persembahan.

***

Malam itu adalah waktu yang ditunggu-tunggu dan merupakan akhir dari tugas Gandara setiap seratus tahun sekali. Kali ini Gandara membawa sepasang persembahan, itu artinya  ritual akan sangat sempurna dan memberi keuntungan lain. Gandara akan bertambah kuat dan kedudukannya akan lebih mulia di dalam golongan.

Rossie dan Nicholas berjalan memasuki kastil temaram. Di dalam aula besar, makhluk beraneka rupa berdiri melingkar, Ratu tampak puas terhadap Gandara dan bersiap menyambut sepasang manusia persembahan. Musik iringan tari yang telah dipelajari oleh Rossie, mengalun secara mistis, menghipnotis mereka berdua. Rossie mulai menari. Tarian  gemulai yang memamerkan tubuh lenturnya. Nicholas terus berjalan menuju singgasana, disambut mesra oleh penguasa dunia kegelapan.

Jeremy dengan bantuan Allysa dan tim cheerleader menggotong pemutar musik mendekati kastil angker yang telah bertahun-tahun mangkrak. Dulu, bangunan itu katanya mau dijadikan perpustakaan umum, namun dibiarkan tak terawat hingga kini dan diambil alih oleh makhluk astral.

"Siap ya, sekarang!" Jeremy memberi aba-aba. Allysa menyalakan musik dari kaset pengiring cheerleader pada voleme tinggi. Musik enerjik langsung membahana di seantero kastil. Makhluk-makhluk itu kini tak mampu mengendalikan diri, menari mengikuti irama. Mereka terus berjingkrak-jingkrak hingga berubah wujud menjadi kasta paling rendah. Terus menari dalam kendali gelombang terlarang. Jeremy menggunakan kesempatan itu menerobos ke dalam acara pemujaan yang dirusaknya, menarik Rossie dan Nicholas keluar dari sana. Setelah yakin aman, Jeremy menaburkan bubuk ajaib untuk menutup lubang penghubung dua dunia. Untuk saat ini, yang penting adalah menyelamatkan Rossie dulu. Meski dia tahu, perbuatannya adalah genderang perang bagi dua dunia.
 

 

 

#ceritahoror

 

[SWD]