Perpustakaan Maut

perpustakaan

Suasana mistis mulai merebak di sekolahku sejak kehadiran seorang siswi baru di kelas. Dia baru pindah dari luar kota. Ani namanya. Cantik parasnya dan segera menjadi primadona dan idola para cowok di seantero sekolah.  Namun sejak kedatangan Ani pula beberapa cowok murid sekolah ini secara tiba-tiba menghilang tidak tahu rimbanya.

Yang pertama menghilang adalah Doni. Dia kakak kelas yang lumayan ganteng dan termasuk siswa yang pintar di sekolah ini. Aktif di olahraga dan menjadi andalan tim basket sekolah kami.  Dua minggu setelah kami lihat dia sering bersama Ani, tiba-tiba saja dia tidak pernah lagi muncul di sekolah.  Lenyapnya Doni menjadi misteri karena menurut orang tuanya dia pergi sekolah dan sejak itu tidak pernah kembali ke rumah. Tidak ada pesan pergi ke mana, hilang dan lenyap bak di telan bumi.  Hilangnya Doni juga sudah dilaporkan ke polisi, namun sudah dua bulan berlalu, tidak ada hasil dan perkembangan berita mengenai Doni.   Ani sendiri juga bilang tidak tahu apa-apa mengenai hilangnya Doni.

Setelah Doni, menyusul Arif, murid sekelasku, dengan cara yang hampir sama. Arif mulai mendekati Ani seminggu setelah Doni menghilang.  Setelah itu, kami sering melihat Ani dan Arif bersama-sama di sekolah baik di kantin, atau bahkan belajar bersama di kelas.   Arif juga sering mengantar Ani pulang ke rumahnya.   Bulan lalu, Arif juga tiba-tiba menghilang. Lenyap tanpa bekas dan pesan. Kalau ditanya, Ani juga tidak tahu apa-apa dan dia juga bilang tidak bertemu dengan Arif di hari cowok itu menghilang.  Ada satu kesamaan antara Arif dan Doni, dua-duanya lumayan ganteng dan sama-sama hobi basket.

Walau begitu, pamor Ani sebagai cewek idola belum lenyap. Dua hari setelah Arif menghilang, kami sering melihat Ani bersama Aji, murid SMA lain yang sekolahnya tidak jauh dari sekolah kami. Sekitar seminggu mereka bersama, setelah itu Aji juga tidak pernah muncul lagi. Pada awalnya, saya mengira hubungan mereka putus saja.  Akan tetapi menurut Siska, sepupu saya yang kebetulan satu sekolah dengan Aji, cowok ini juga hilang lenyap setelah satu minggu sering terlihat bersama Ani.

Mulai saat itu, pamor Ani mulai meredup, walau tetap cantik manis dan murah senyum, tidak ada lagi cowok di sekolah kami yang berani mendekatinya.

“Irma, habis pulang sekolah nanti ayo main ke rumahku,” tiba-tiba saja Ani menegurku sewaktu bertemu di kantin pas jam istirahat.    Aku sedikit kaget, selama ini aku tidak terlalu dekat dengan Ani.  Tetapi aku juga penasaran, ingin tahu di mana rumah Ani dan apa rahasia sehingga beberapa cowok yang dekat dengannya menghilang. Lagi pula aku kan bukan cowok.

Aku yang biasa pulang dan pergi ke sekolah naik angkot, ikut Ani ke rumahnya dijemput dengan Pak Wanto, sopir keluarga Ani.  Ternyata keluarga Ani termasuk golongan berpunya karena lokasi rumahnya di daerah elite.  Rumahnya bertingkat dua dengan halaman yang lumayan luas.  Bahkan ada kolam renang kecil di halaman belakang rumah.

Waktu aku main ke rumahnya. Hanya ada sopir dan dua orang pembantu di rumah Ani. Ani juga bercerita bahwa dia anak tunggal.  Ruang tengah rumahnya sangat luas dan di dekat ruang tamu ada sebuah perpustakaan keluarga. Tidak terlalu luas , namun koleksi buku-bukunya lumayan banyak.

“Ini perpustakaan ayahku, kata ini, kamu boleh melihat-lihat koleksi buku-buku dan juga membacanya. Yang penting buku-bukunya diletakkan kembali ke tempat semula selesai membaca,”   kata Ani sambil minta izin sebentar untuk ganti pakaian di kamar.

Aku melihat-lihat koleksi buku itu. Banyak buku dengan tema sejarah baik dalam bahasa Indonesia, Inggris dan bahasa asing lainnya. 

Sebuah buku tebal dengan cover berwarna merah berjudul Sejarah Asia Tenggara karangan D.G.E Hall kuambil.  Halaman demi halaman aku buka dan secara tidak sengaja aku membaca kisah Mandi Darah di Bubat dimana terdapat kisah Dyah Pitaloka dan Gajah Mada yang tragis.

Suara riuh membahana,  teriakan pasukan yang saling menyerang dan mempertahankan diri ada di sekelilingku.  Entah bagaimana,  aku seakan-akan terlempar dengan mesin waktu dan berada di kancah perang yang sengit ketika salah paham terjadi antar pihak Majapahit dan Pajajaran.  Dan yang paling membuat kaget, aku juga melihat Dono dan Arif.  Mereka berdua bergabung dengan prajurit pengawal Putri Citraresmi alias Dyah Pitaloka. 

“Irma, tolong aku,”

Arif yang sekelas denganku sempat melihat diriku dan kemudian berteriak.  Aku segera mendekati Arif yang kemudian dikiut oleh Dono mencoba berlari menjauh kancah pertempuran. Namun beberapa orang prajurit Majapahit mengejar.  

Aku berlari dan berlari. Diikuti oleh Dono dan Arif. 

“Kala ku pandang kerlip bintang nun jauh di sana
Sayup kudengar melodi cinta yang menggema
Terasa kembali gelora jiwa mudaku
Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut”

Sayup-sayup aku mendengar nada dering lagu Kopi Dangdut di gadjetku.  Aku kembali berada di perpustakaan dengan buku Sejarah Asia Tenggara ada di hadapan.  Namun nafasku masih memburu.  Aku tidak tahu bagaimana Dono dan Arif masih tertinggal di pertengahan abad ke 14. Aku juga tidak tahu bagaimana mereka bisa terjebak di sana.

Tidak lama Ani muncul dan ketika aku ceritakan tentang pengalamanku sejenak kembali ke masa lampau, dia sama sekali tidak percaya.

“Irma, mungkin kamu tertidur dan bermimpi.”

Sore itu, aku ulang ke rumah dengan penasaran. Lain waktu aku akan main kembali ke rumah Ani dan mencoba mencari Doni dan Arif melalui buku di perpustakaan itu.

Tiga hari kemudian, aku kembali diajak ke rumah Ani. Ketika Ani ganti pakaian dan aku menunggu di perpustakaan, kesempatan ini kugunakan untuk melihat0lihat dan mencoba mencari buku Sejarah Aisa Tenggara itu. Namun buku itu tidak kujumpai. Akhirnya aku ketemu sebuah buku berjudul “The History of The Arabs”, karangan Phillip. K. Hitti.  

Secara tidak sengaja aku membuka bab XXXVII yang menceritakan tentang zaman kejayaan Kalifah Ummayad Abdulrahman di Andalusia, atau tepatnya di ibukotanya di Cordoba yang terletak di sungai Guadalquivir.   Dan secara gaib pula aku merasa terlempar kembali ke masa lampai. Ke abad ke X ketika istana Al Zahra yang sangat megah baru selesai dibangun.   Dan di antara pengawal Kalifah aku berjumpa dengan Aji.  Dia tampak gagah dalam pakaian perangnya sebagai pengawal. Aku memanggilnya, tetapi dia hanya menoleh dan tersenyum. Maklum Aji sendiri tidak begitu mengenalku.  

Tidak lama berada di Cordoba, suara nada dering Kopi Dangdut kembali membawaku ke abad 21. Kali ini aku tidak berkeringat dan terengah-engah, aku ingin kembali lagi ke sana dan mengagumi keindahan istana Al-Zahra.  

Dan Ani sudah ada di belakangku, sambil berkata:

“Irma, apakah kamu bermimpi lagi, ke mana kamu pergi kali ini?”

“Cordoba, di zaman keemasan Andalusia,” jawabku.

Pertemuan gaibku dengan Dono, Arif dan Aji di perpustakaan di rumah Ani membuatku penasaran. Aku ingin kembali lagi ke sana dan kalau bisa menyelamatkan mereka kembali ke abad XXI.

Dengan tekad itu, aku kembali main ke rumah Ani. Kali ini aku mencoba kumencari dua buku yang renah aku baca, yaitu Sejarah Asia Tenggara, dan The History of The Arabs.  Akan tetapi kedua buku tersebut seperti hilang entah dimana. 

Dan tiba-tiba saja, tanpa disadari aku mengambil kumpulan artikel Majalah Tempo mengenai kerusuhan Mei 1998. Aku membulak-balik artikel tersebut dan sampai di artikel tentang penjarahan di Yogya Plaza di Klender. Dan secara gaib pula aku terseret dalam pusaran mesin waktu. Kembali ke pertengahan Mei 1998 yang kelam itu.

Aku berada di tengah kerumunan masa, Sepertinya di depan Mal Klender. Orang-orang berteriak masuk-masuk. Dan aku ikut dalam pusaran masa masuk ke dalam mal itu. Berdesakan kami masuk dan tidak lama kemudian asap mulai membumbung di dalam mal. Rupanya mal ini sengaja dibakar. Namun pintu keluarnya sengaja di tutup.

Aku berlari mencoba mencari jalan keluar. Namun asap makin tebal, dan bersama ratusan orang lain aku jatuh pingsan.

Sesudah itu, Gelap, Gelap dan Gelap.

#ceritahoror

Bekasi, 25 Mei 2021