Pos 4

Ilustrasi, Murianews.com

Suara napas berpacu seiring gemericik air sungai malam itu. Suasana semakin mencekam terbawa desau angin dan gemerisik dedaun di sekitar sungai. Kutengok jam di pergelangan tangan seraya memicingkan mata. Hampir pukul delapan malam. Aku bersama Naza dan Eka sudah merasa lelah setelah menyusuri jalan setapak di pinggiran sungai. Tiga pos telah terlewati. Acara jurit malam yang digelar sekolah tahun ini untuk kenaikan ke tingkat pandega begitu menguras tenaga. 

"Aku capek. Rehat dulu, dong!" pintaku pada Naza. 

"Hm, dasar perempuan. Manja!" Eka menyahut sekenanya. Namun Naza memberi isyarat untukku agar duduk sejenak di akar besar yang menjulur sehingga bisa dijadikan sebagai tempat untuk sekedar menata irama napasku. Dua buah lampu senter cukup menjadi andalan kami menuju pos berikutnya, karena sinar bulan malam ini sangat bersahabat. 

Sebenarnya aku tidak ingin menjadi regu mereka, tapi kakak pembina yang menentukan secara acak berdasarkan lot yang keluar setelah dikocok dalam sebuah kaleng susu. Setiap regu yang terdiri atas tiga orang saja, harus berjalan menyusuri area sekitar bumi perkemahan berbekal selembar peta menuju lima pos yang telah ditentukan. 

"Yuk, lanjut! Masih dua pos lagi. Jangan buang-buang waktu!" Suara Eka memecah kesunyian. 

Aku berdiri dengan malas, seiring suara decak dari mulut Naza, cowok yang notabene idola para siswi kelas delapan, termasuk aku, he he. 

Naza sosok yang supel, perhatian, dan penuh tanggung jawab. Lain dengan Eka, seolah tidak peduli dengan perasaan wanita sepertiku. Akhirnya dengan terpaksa aku mengikuti langkahnya, karena dialah sang ketua. Sedang Naza sengaja berada paling belakang. Berjalan di remang malam bukan hal mudah bagiku. Namun aku agak tenang, karena Naza sepertinya paham akan hal itu. 

Setelah sejauh 500 meter, tiba-tiba bau busuk menyengat terbawa angin hingga menusuk indera penciuman, membuatku mual, lalu buru-buru menutup hidung dan mulut dengan kedua tangan ini.  

"Kamu nggak pa-pa, An?" tanya Naza sambil menatapku dalam-dalam. 

Aku menggelengkan kepala beberapa kali. Eka masih tampak tak peduli. Ia terus berjalan tanpa menoleh ke arahku. Belum henti rasanya menahan aroma yang menguar, tiba-tiba terdengar langkah tertatih menyusuri semak di depan kami. Sontak Eka menghentikan langkah, memastikan siapakah sosok di depan sana. Tiba-tiba pula sebuah tangan menahan pundakku. Ternyata Naza. Namun buru-buru lelaki yang sejengkal lebih tinggi itu melepaskan tangannya dengan diikuti anggukan lembut. Andai saja bukan karenanya, bisa-bisa aku malahan menabrak Eka.

"Waspada! Bisa jadi dia kakak pembina yang sedang menyamar," seru Eka. Aku dan Naza mengangguk saja. 

Tanpa kami sangka, sosok yang tersorot lampu senter Eka membalikkan badan. Aku terkejut bukan kepalang, hingga hampir memeluk tubuh Naza. Untung secepatnya aku urungkan. Sosok nenek tua dengan tongkat kayu sedang memperhatikan kami satu-persatu. Rambut yang tergerai tak rapi ikut bergerak mengikuti kepalanya. 

"Kalian mau menuju pos 4?" Sapanya sambil tersenyum dengan ramah. Wajahnya tak begitu jelas karena kini penerangan kami mengarah ke tempat lain.

"I-iya, Nek. Nenek mau kemana?"

Dengan bahasa agak terbata, si nenek menjelaskan bahwa dia mau pulang ke  gubuknya di pinggir hutan, sambil menunjukkan arahnya. Dahi Eka mengernyit. Berdasar peta yang dibawa, rumah nenek searah dengan pos yang akan kami tuju. Rupanya Eka tak sedingin yang aku kira. Ia menawarkan mengantar nenek itu sampai ke tujuan. Dalam hati, aku berharap semua itu adalah bagian dari ujian jurit malam. Karena dengan membantunya, kami akan mendapatkan nilai lebih dari kakak pembina nanti.

Kami berjalan berempat dengan posisi si nenek paling depan. Kali ini harus extra sabar, karena nenek berjalan sangat lambat. Justru membuatku bernapas lega, tidak harus mengimbangi gerak kaki Eka, sang jawara atlit lompat jauh itu. 

Dalam perjalanan, si nenek berceloteh tentang putrinya yang juga sedang mengikuti acara pramuka malam itu. Arum namanya. Eka menyahut seperlunya saja. Sementara aku dan Naza hanya jadi pendengar setia. 

"Makasih, Anak Muda. Kalian sudah antar nenek. Tuh gubuk nenek, mari mampir!" 

Kami bertiga hanya saling pandang. Gubuk di depan kami tampak tua. Di depannya hamparan rumput liar dan beberapa bunga, entah apa. Sang nenek tinggal sendirian di tempat terpencil ini? Batinku tak percaya.

"Makasih, Nek. Mohon maaf, kami harus lanjut perjalanan menuju pos 4," aku menyela sebelum Eka sempat menjawab, dan disambut anggukan dari Naza. 

Sebelum pergi, si nenek berpesan agar kami selalu berhati-hati. Jangan menoleh ke belakang apa pun yang terjadi. Kami mengiyakan saja. Bersamaan langkah kami, terdengar suara pintu kayu dibuka dan ditutup kembali, seperti di film-film horor yang pernah aku tonton. Seram. Jantungku berdetak lebih kencang. Berikutnya, aku mendengar suara tawa sang nenek seolah masih berada di sekitar kami. Merasa penasaran, aku menoleh, memastikan nenek sudah masuk ke dalam rumah. 

"Za! Liat!" Tubuhku gemetar hebat. Bulu kudukku meremang. Eka dan Naza buru-buru menarik tanganku. Mereka berdua membawaku berlari dan terus berlari hingga merasa telah jauh meninggalkan rumah si nenek yang ternyata hanya sebuah pohon besar. Tak ada bangunan apa-apa di sana. 

Tak sadar aku meneteskan air mata. "Za, aku takut." 

Dengan cepat Naza mengulurkan botol mineral ke hadapanku. Sementara Eka mengamati sekitar lokasi, memastikan semua aman agar kami bisa istirahat sejenak. 

"Udah dikasih tau jangan noleh, masih aja bandel." 

Aku tergugu. Rupanya isakku pun tak membuat Eka berbelas kasih. 

"Dah lah, Ka. Biarkan Dian aman dulu."

Beberapa menit kemudian aku berangsur tenang dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Baru beberapa langkah, tampak sebuah gubuk dengan papan tergantung bertuliskan Pos 4. Alhamdulillah, batinku lega. 

Kami mempercepat langkah, lalu berbaris tepat di hadapan kakak pembina yang telah menanti di sana. Mengapa dia sendirian? Bukankah pos sebelumnya ada tiga pembina? Ah, sudahlah. Setidaknya kami sudah menaklukkan empat titik yang ditentukan. Perempuan dengan seragam pramuka lengkap atributnya itu tidak mempedulikan kehadiran kami. Dia tampak menunduk. Tangannya bergerak-gerak, sedang menulis sesuatu di sebuah buku dengan posisi tubuh miring menghadap pos. Eka langsung memberi aba-aba.

"Selamat malam, Kakak. Terimalah hormat kami, Bunga ..."

Naza mencolek lenganku. "Sedap."

"Malam. Kami siap menuju pos berikutnya."

Kami pun terdiam dengan posisi sempurna, menunggu instruksi berikutnya. Namun, perempuan itu masih saja fokus pada bukunya. Lama sekali.

"Kami sudah siap, Kak." 

Dalam hati aku pun merasa tidak sabar. Mentang-mentang pembina, dia bisa seenaknya saja memperlakukan kami. Mana kaki mulai digigiti nyamuk lagi. 

Ya ampun! Sudah hampir sepuluh menitan, dia masih saja terdiam. Aku yang tak tahan, menggesek-gesekkan sepatuku ke betis yang terasa gatal, sehingga membuat Eka memelototkan mata. 

"Gatal, tau!" bantahku.

Bersamaan itu, kakak pembina memutar tubuhnya tepat ke arah kami. Tangannya tak bergerak-gerak lagi. Perlahan ia mendongakkan kepala tanpa berkata-kata. Aku terperanjat sambil menutup mulut, menahan histeris. Napas seolah berhenti. Kakiku berat, tak bisa bergerak lagi. Wajah perempuan itu pucat pasi, bola matanya putih semua, dengan mulut menganga. Rambutnya bergoyang-goyang ditiup angin. Aku semakin terbelenggu, tak bisa memalingkan muka dari tatapan yang semakin menghujam. Di dada sang pembina tersemat sebuah nama, Arum. Perlahan tubuhku lemas tak berdaya saat senyumnya mengembang, menampakkan gigi yang menghitam, seolah menyapa kami bertiga. Entah apa yang terjadi selanjutnya, semua terasa gelap gulita. Dan tiba-tiba aku sudah berada di dalam tenda.

"Kamu nggak pa-pa, An?" tanya Naza dengan cemasnya. Aku sadar karena rasa panas aroma terapi yang sengaja dioleskan ke hidungku. Kutatap sekelilingku sudah banyak teman yang berusaha membuatku terbangun. 

Seorang tokoh warga yang sengaja dihadirkan, menceritakan tentang kemunculan Arum akhir-akhir ini. Perempuan yang tersesat saat mengikuti kegiatan jurit malam. Dia terlepas dari rombongan, dan tak pernah kembali hingga malam itu. Sedangkan seorang nenek yang kami jumpai adalah ibu Arum yang meminta jasadnya di makamkan di sekitar lokasi hilangnya sang putri semata wayang, agar bisa menjumpainya lagi di lain dunia. 

Keesokan harinya, acara perkemahan sengaja dihentikan atas himbauan warga. Truk datang menjemput kami semua. Sebelum meninggalkan lokasi, kami sengaja mengirimkan doa untuk ketenangan Arum dan ibunya di alam sana. Samar-samar kulihat sosok berseragam pramuka sedang memperhatikan kami dari kejauhan. Aku buru-buru menghindari tatapannya. Naza spontan menarik tanganku karena angkutan sudah menunggu. 

"Cie cie yang semalam digendong sama artis kita," ledek teman-teman saat berada di bak truk. Aku hanya bengong saja. 

"Tau, nggak, semalam Naza membopongmu menuju tenda sendirian? Padahal jauh, lo!" Pipiku bersemu merah. Naza hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat yang saling bersahutan. Sementata di sudut sana, kulihat Eka memalingkan muka. 

Berakhirnya kegiatan hari itu adalah awal kedekatanku dengan Naza, karena sebelum pulang, dia dengan terbata mengungkapkan perasaannya, bahwa dia jatuh cinta padaku sejak lama. Malam itu adalah keberuntungan baginya, juga bagiku tentunya. 


#cerita_horor