Ramalan Mbok Bon

ramalan mbok bon

Ayahku baru saja pensiun bulan lalu ketika usianya memasuki 60 tahun. Kalau sebelum pensiun ayah sempat memegang jabatan lumayan tinggi di ujung kariernya di pemerintahan, kini ayah hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Walau sesekali masih berkunjung ke rumah teman-temannya, Ayah lebih banyak berdiam diri dan tampak murung. Mungkin ini yang dimaksud dengan post power syndrom.

Sebagai anak bungsu yang baru berusia 16 tahun, aku sangat dekat dan merupakan putra kesayangan ayah. Mungkin karena aku adalah satu-satu nya anak lelaki yang lahir sewaktu ayah sudah berusia lebih dari 40 tahun. Tiga kakakku semuanya perempuan dan yang ketiga berbeda lebih 10 tahun usianya denganku.

Suatu malam, aku masuk ke kamar ayah dan ingin menanyakan kabar ayah sekaligus bertukar pikiran. Siapa sangka, ayah kemudian bercerita tentang rahasia hidupnya yang membuat aku kaget, takut dan sekaligus setengah percaya. Begini kisahnya:

1978

Saya duduk di kelas 3 SMA. Seharusnya akhir tahun ini kami semua sudah lulus dan awal tahun 1979 bisa melanjutkan ke Universitas. Tetapi tahun ajaran ditambah satu semester sehingga kami baru akan lulus tahun depan.

Siang itu, sekolah baru saja usai dan karena iseng, saya mampir ke kantin di belakang sekolah. Suasana kantin kebetulan sepi dan Mbok Bon, sedang merapikan barang-barang dagangannya. Saya langsung duduk di kursi plastik dan mengambil beberapa potong pisangoreng dan bakwan.

“Nak Hendi koq belum pulang?” tanya Mbok Bon.

"Mbok, Saya lagi malas. Kebetulan wesel dari orang tua di kampung belum datang. Jadi saya makan gorengan di sini dan hutang dulu ya.” Saya kemudian mengambil buku kecil catatan hutang di Mbok Bon. 2 goreng pisang dan 3 bakwan serta teh manis 35 Rupiah saja. Saya mencatat total hutang sudah lebih 2000 Rupiah.

Mbok Bon ini sangat baik terhadap murid-murid di sekolah ini, terutama yang mengaku anak kos dan berasal dari luar kota. Dia rupanya maklum bahwa saya dan sebagian teman sering menerima kiriman wesel yang terlambat. Namun sayang kepercayaan Mbok Bon sering disalahgunakan oleh kami. Makan 5 tahu dan bakwan, sering kami catat cuma 2 atau 3. Walau pun begitu, Mbok Bon tidak pernah bangkrut.

“Nak Hendi, Mbok mau bercerita kepada kamu sebuah rahasia,“ nada suara Mbok Bon tampak serius dan sedikit berbisik, walau tidak ada seorang juga di sekitar.

Mbok Bon kemudian bercerita bahwa dia sudah berjualan di kantin atau lebih tepatnya warung di sekolah ini sejak muda. Sejak sekolah ini baru buka di waktu zaman revolusi kemerdekaan. Kami memanggilnya Mbok Bon karena suaminya Pak Bon adalah tukang kebun di sekolah ini.

“Nak, sebenarnya Mbok tahu bahwa kamu dan sebagian kawan-kawan kamu sering tidak jujur jajan di sini. Baik yang membayar tunai atau yang sering berhutang, “ kata Mbok Bon sambil tersenyum.

Dia juga menjelaskan kalau sebagian besar anak di sekolah ini sebenarnya jujur dan jarang berhutang. Mbok Bon kemudian menyebutkan beberapa nama geng saya yang suka tidak jujur kalau jajan. Saya menjadi malu dan berjanji tidak akan mengulangi kebiasaan ini.

“Lalu apa rahasia yang akan Mbok ceritakan ? “ tanyaku penasaran.

Mbok Bon melihat ke sekeliling, suasana sepi . Dia menyuruh saya mendekat dan sebelumnya minta bahwa saya tidak akan membocorkan rahasia ini kepada orang lain.

Menurut Mbok Bon, baru belakangan ini dia memiliki kemampuan untuk melihat kejujuran seseorang. Orang yang tidak jujur dan sering berbohong akan memiliki aura buruk di sekitar wajah. Dan Mbok Bon bisa mengetahui hal ini bila dia sudah sangat sering melakukan hal ini kepada dirinya. Mereka yang sering berbohong sewaktu jajan bisa dilihat dari aura buruk di sekitar wajah.

“Dan yang menakutkan adalah kalau sudah terlalu sering curang waktu jajan, saya bisa melihat pada usia berapa anak itu akan meninggal, dan semakin sering dia curang, maka usianya akan semakin pendek.“

Bulu kuduk saya merinding mendengar kata-kata Mbok Bon, bersamaan dengan itu angin berdesir meniup pohon-pohon cemara yang ada di sekitar sekolah.

Walau terlihat serius, dalam hati saya tidak percaya perkataan Mbok Bon ini. Mungkin dia hanya menakut-nakuti saya agar tidak mengulangi curang jajan di warungnya. Sekalipun demikian saya tetap salut dan hormat kepada Mbok Bon yang tidak pernah marah kepada anak-anak yang curang.

“Kalau begitu Mbok mau menceritakan kepada saya usia teman-teman saya yang sering curang. Saya janji tidak akan menceritakan kepada mereka, “

“Baiklah. Ada 4 anggota geng kamu, Si Adi, Mbok lihat dia akan berusia tidak terlalu panjang. Dia juga yang paling sering curang sehingga usia nya makin pendek. Menurut penglihatan Mbok dia akan meninggal pada usia 41 tahunan, kalau dia bisa memperbaiki, paling lambat dia akan meninggal pada usia 42 tahun“.

Mbok melanjutkan dengan Harman pada usia 52 tahu, Andy, 56 tahun, dan Joni, 60 tahun.

Mbok Bon sejenak berhenti. Dia tidak mau memberitahu pada usia berapa saya akan meninggal. Katanya karena saya masih tergolong baik sehingga Mbok belum bisa melihat aura buruk di wajah saya.

Bulan berganti tahun. Tahun 1979 menjelang. Saya mulai melupakan kejadian itu dan anehnya saya tidak jera juga curang kalau jajan di warung Mbok Bon.

Akhirnya Mei 1979 tiba. Saya lulus dan harus meninggalkan sekolah itu. Saya ingat sama Mbok Bon dan bertujuan untuk membayar semua hutang saya. Menurut catatan di buku, jumlahnya sekitar 2 ribu Rupiah. Saya membayar hutang kepada Mbok Bon dan saya melebihkan 3 ribu Rupiah lagi sambil berkata bahwa ini untuk membayar hutang yang tidak tercatat.

 

Sejenak ayah berhenti bercerita. Dia menyeruput sejenak kopi susu yang dibuat ibu.

“Lalu bagaimana nasib teman-teman ayah?“

“Adi meninggal karena kecelakaan mobil pada usia 42 tahun, Harman meninggal karena sakit jantung pada usia 52 tahun, sedangkan Andi meninggal karena dibunuh pada usia 56 tahun.”

“Bagaimana dengan Om Joni?”

“Dia baru saja meninggal karena tenggelam di pantai pada usia 60 tahun.”

“Semua ramalan Mbok Bon sangat tepat, untungnya Mbok Bon tidak memberitahu usia ayah,“ tambah ayah sambil sekali lagi menyeruput kopi.

Ayah kemudian menambahkan lagi Mbok Bon pernah berkata bahwa usia ayah bertambah karena ayah sempat minta maaf kepada Mbok Bon dan membayar hutang sewaktu mau lulus SMA.

“Sepanjang ayah bisa menyimpan rahasia ini, maka ayah bisa berusia panjang.”

Saya pamit dan berterima kasih kepada ayah yang telah bercerita tentang kisah yang menarik dan penuh pelajaran akan kejujuran.

Keesokan harinya ayah meninggal dengan tenang.

#ceritahoror

Bekasi, 23 Mei 2021