Sahabat Fajar yang Gentayangan

Ilustrasi Fajar by Pinterest

Ketika fajar mulai menjelang bisikan Tuhan akan mengirimkan pesan lewat lubang telinga kanan. Aku terhenyak bangkit dari ranjang. Memperlihatkan ruang kamar yang senyap.

Di sinilah udara mulai masuk melewati lubang ventilasi, sesekali burung di luar berteriak. Suara ayam jantan berkokok tiada henti-hentinya.

Aku melampirkan handuk sebagian badan menuju sumur di belakang dekat pagar pekarangan. Udara dingin menusuk tulang. Telapak tangan ini meraih tali timba mengisi air bak mandi.

Terdengar ada bunyi dedaunan yang terinjak, tepat di pinggir pagar penghalang sumur tua. Aku sibuk memainkan air. 

"Hemm...!" 

"Siapa di situ?" tanyaku dalam keheningan pagi hitam.

Tiada siapa-siapa di sini, hanya ada aku. 

Di pohon nangka yang usianya telah mencapai ribuan tahun tidak jauh dari tempatku tampak ada orang sedang memperhatikan.

Dengan membawa ciduk berisi air, aku mendekat ke arahnya. Sosok perempuan berbaju putih sedang bertengger di sana. Lalu dengan cepat ku siram air.

"Kurang asem, Sum. Bocah kok ora wedinan, jam telu awene wis adus," ujar Lek Munah.

"Lek, kebiasaan senengane meden-medeni."

Salah siapa sedang mandi suka menakut-nakuti? Lek Munah sangat jail dan ini kali kedua Beliau gagal menjadi hantu.

Sholeh, sahabatku yang masih setia menunggu. Sekarang aku sudah siap. Kami hendak mengaji di Ustaz Jaelani. Ia dengan sarung tenun terlipat, menekuk di bagian pinggang. 

Aku memperhatikan tampilan sahabatku itu. Ada yang berbeda dari biasanya. 

"Kopiah anyar, Leh?" 

"Yo, Sum. Dikei Simbah."

Garis yang melingkar di tutup kepala Sholeh memantulkan cahaya bulan. Mengkilap. 

Ternyata masih sepi di rumah Ustaz Jaelani. Kami orang pertama yang sampai di sini. Azan subuh baru berkumandang bersama remaja lain berdatangan. Akhirnya, kami memutuskan mangkir terlebih dahulu ke Musala terdekat.

Kulit Ustaz Jaelani mulai mengeriput ketika membimbing remaja lain mengaji. Berkumpul laki-laki di sebelah kanan sedang perempuan di sebelah kiri. Aku dengan Sholeh suka iseng mengejek jika bacaan ada yang salah.

Jika duluan pulang Sholeh suka iseng menyembunyikan sandal teman. Dan, aku selalu tahu di mana tempatnya. Kalau tidak di atas genteng pasti di sela-sela pot bunga. 

Aku selalu bersemangat mengaji bersama Sholeh. Sampai-sampai aku menganggap dia sebagai sahabat fajar yang mendatangkan kebahagiaan.

Berangkat sekolah bersama dengan membonceng sepeda ontel milik Kakeknya. Seragam putih dan rok biru tua terpaksa diangkat. Untungnya aku pakai rangkap celana panjang. Jadi, jika rok berkibar terjulur angin. Rasa malu tak akan kunjung datang. 

Ketika pulang kami tidak langsung balik ke rumah malah mampir mengambil mangga di pekarangan milik Pak Sofyan. Yang sudah lama dibiarkan kosong.

Senja menjadi senjata yang memudar, terjadi malapetaka ketika hujan datang. Sholeh belum kunjung turun dari pohon. Hari pun akan berganti petang, aku menanti berjam-jam di bawah pohon sampai baju sekolah basah kuyup.

Sholeh takut terpeleset kalau dia memaksa turun, sekarang batang pohon mulai licin. Aku berpikir lama sekali. Akhirnya, aku pulang duluan dan mencari bantuan ke rumah warga. Sampai lupa pada keadaan Sholeh. Karena setelah di rumah Ibu marah-marah lalu menyuruhku mandi dan salat magrib.

Ada yang bilang Sholeh tidur di atas pohon mangga kemudian terjatuh lalu meninggal. Namun, tidak dengan Ibu Saodah. Ia percaya anaknya masih sering pulang dan minta makanan. Orang lain tak pernah ada yang tahu seperti apa wujud Sholeh? Ada suara tak ada rupa kata Suaminya seperti itu.

Seperti biasanya, fajar menyambut dengan perasaan gembira. Menunggu Sholeh untuk mengaji bersama di Ustaz Jaelani. Aku mandi di sumur tua di belakang rumah.

Semerbak harum bunga Kamboja bertaburan di sekeliling sumur. Aku berpikir ini ulah Lek Munah yang berusaha menakut-nakuti ku lagi. Sembunyi di bagian pohon nangka yang tertutup daun rimbun. 

Saat melirik di bagian pohon itu, perempuan duduk di ranting pohon. 

"Ati-ati, Lek. Penekan esok-esok nang duwur bokan tibo lih."

Aku tersenyum mengejek pada Lek Munah, dengan aksi terbaru menjadi hantu jadi-jadian. Perempuan berbaju putih panjang dengan rambut berantakan malah ikut tertawa terbahak-bahak menirukan suara kuntilanak membuat bulu kuduk ini bergidik. 

Dengan prasangka kalau itu adalah Lek Munah. Aku mengambil air dalam ciduk lalu kusiram ke arahnya. Los, lalu menghilang.

"Astaufirallahalazim," ucapku ternyata itu beneran kuntilanak. 

Aku langsung tancap gas masuk ke dalam rumah. Ibu bertanya, "Nang apa, Ndduk?"

"Ono, kuntilanak. Bu."

"Lek Munah, dean."

"Dudu, Bu. Ki temenan kuntilanak." Bibir ini bergetar setiap kali mengucapkan panggilan hantu tersebut.

Dari pada rasa takut terus menjalar, lebih baik bersiap-siap berganti baju. Mengaji bersama Sholeh. Sahabat fajar yang belum kunjung datang. Ia terlambat beberapa menit mendekati setengah lima. 

"Bu, Sholeh wis mene durung?"

Aku menanyakan kepada Ibu, apakah Sholeh sudah datang? Ibu terdiam. Mengelus-ngelus kening ku. Mata Beliau tampak sembab.

"Wis, Nduk. Ora usah kemotan Sholeh bae. Percuma dinteni, wonge wis ora nene."

Kata Ibu percuma menunggu Sholeh, karena ditunggu pun tak akan datang. Orangnya sudah di alam lain. Entah, mati atau hilang diambil penunggu pohon. 

Kabarnya belum ada yang tahu. Jasadnya tak pernah kembali. Makamnya pun tak pernah ada. Tapi, yang aku rasakan Sholeh masih ada di sini. Masih bersamaku meski wujudnya tak terlihat. Sahabat fajar akan terus bergentayangan. Datang untuk menemaniku selama ini, selama bertahun-tahun ia hadir di dalam mimpiku.

TAMAT

***

#CeritaHoror

#FiksiRemaja

PML, 22 Mei 2021

@Aksara_Sulastri