Absen Kelas Satu Enam

absen kelas satu enam

Ini adalah hari pertama Budi masuk di SMA. Sebuah SMA favorit di sebuah kota yang lumayan jauh dari kampung kelahirannya. Walau harus tinggal indekos dan jauh dari orang tua Budi tetap bersemangat demi meniti dan mempersiapkan masa depannya.

“Anton,”

“Saya Pak,”

“Bambang,”

“Saya Pak,”

“Budi,”

“Saya Pak,”

“Denny,”

“Saya Pak.”

Pak guru terus menyebutkan nama-nama siswa kelas 1.6 angkatan tahun 1976 berdasarkan abjad. Di kelas I, semua murid masih belum dijuruskan dan penjurusan IPA atau IPS baru mulai di kelas II. Budi sendiri ingin belajar rajin agar bisa masuk jurusan B atau IPA agar cita-citanya menjadi insinyur dan masuk ke ITB dapat terwujud.

Sekolah ini tampak sangat nyaman dengan ruangan kelas yang rapi, halaman yang asri dan luas, serta fasilitas olahraga dan laboratorium serta perpustakaan yang lumayan lengkap. Guru-gurunya juga terkenal tegas dengan disiplin yang ketat. Namun Budi merasakan ada nuansa yang membuat hatinya sedikit ketar-ketir. Seakan- akan ada aroma magis di sekolah ini. Budi sendiri tidak tahu mengapa.

“Sekolah kita menerapkan sistem gugur, siapa yang mendapat nilai jelek setiap pembagian rapor atau tidak naik kelas akan dikeluarkan dari sekolah. Murid yang tidak disiplin dan melanggar peraturan juga akan dikeluarkan alias tidak akan pernah lulus meninggalkan sekolah ini, “ jelas Pak Benny, Wali Kelas 1.6 .Nada suaranya dingin berwibawa.

Murid- murid mulai belajar dengan tekun sejak hari pertama di sekolah. Tidak ada seorang pun yang mau tidak naik kelas dan dikeluarkan dari sekolah. Demikian juga dengan Budi yang berjanji akan belajar sebaik-baiknya.

Sebulan sudah Budi bersekolah di kelas I. 6 SMA itu. Sebuah peristiwa naas terjadi dan sama sekali tidak disangka-sangka oleh semua siswa. Anton, salah seorang siswa meninggal karena kecelakaan sepeda motor pada saat pulang sekolah.

“Bambang,”

“Saya Pak,”

“Budi,”

“Saya Pak,”

“Denny,“

“Saya Pak,”

Demikian urutan absen sehari setelah kecelakaan yang menimpa Anton, Siswa dengan nomor urut absen pertama yang dibuat sesuai abjad. Budi belum merasakan apa-apa walau hatinya makin merasa getir dan resah setiap kali bapak guru membacakan absen.

Sekolah terus berlanjut, kegiatan belajar baik di dalam kelas maupun ekstra kurikuler berlangsung dengan baik. Kursi dan meja tempat duduk Anton dibiarkan kosong. Hanya saja Budi sering merasa Anton seakan-akan masih ikut belajar di kelas. Namun Budi berusaha menepis pikir itu dan menganggap hanya perasaannya saja.

Dua minggu berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Anton, kelas 1.6 kembali berduka. Diberitakan  Bambang mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari sekolah. Sepeda yang dikendarainya tertabrak angkot tidak jauh dari sekolah.

Sekolah terus berlangsung. Kini urutan absen pun berubah. Tidak ada lagi Anton dan Bambang.

“Budi,”

‘’Saya Pak.”

“Denny,”

“Saya Pak,”

Budi makin cemas. Dia ingin berhenti atau pindah sekolah. Tetapi takut membicarakannya dengan orang tuanya. Apa lagi di dalam kelas, Budi sering merasakan kehadiran Anton dan Bambang di tempat duduk mereka yang dibiarkan kosong. Bahkan ketika sedang sendirian di dalam kelas sewaktu jam istirahat, Budi sering merasakan kehadiran Anton dan Bambang.  Mereka seakan-akan mengabarkan bahwa Budi adalah giliran berikutnya.

Sebulan berlalu dan triwulan pertama hampir tiba. Nilai ulangan harian Budi selalu di bawah nilai kelulusan. Bila pola ini terus berlanjut bisa saja Budi dinyatakan gugur dan dikeluarkan dari sekolah.

Anton dan Bambang terus hadir menghantui Budi baik di dalam kelas mau pun di dalam mimpi. Budi sama sekali tidak bisa fokus belajar. Perasaan bahwa ia adalah murid berikutnya yang akan dijemput sesuai urutan absen membuatnya depresi.

Dan urutan Absen pun mulai berubah:

“Budi,”

‘’Bukan saya, bukan saya Pak.”

“Denny,”

“Saya Pak,”

Sejenak Budi menoleh ke kursi kosong Anton dan Bambang. Dia melihat bayang-bayang keduanya mengacungkan jempol sambil kemudian menghilang.

Dua hari kemudian, sekolah berduka. Giliran Pak Benny yang mengalami kecelakaan. Vespa tua yang dikemudikannya menabrak truk ketika sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah.

#cerita horor

Bekasi, 22 Mei 2021