Lelaki di Bawah Lampu Jalan

Lelaki di Bawah Lampu Jalan ilustrasi by Pinterest

Aku terjaga saat udara dingin mengusik pori-pori. Pantas saja, jendela berdaun kaca terbuka lebar dan tirai sifon putih itu pun menari-nari hingga ke sisi ranjang. Perlahan beringsut turun, satu tangan berpegangan pada besi penyangga cairan bening dalam botol transparan dengan selang yang terhubung langsung ke pergelangan tangan kiriku. Kuseret langkah dan berdiri di ambang jendela lalu melongok ke luar. Suasana jalan senyap hanya satu dua kendaraan saja terlihat melintas di bawah sana.

Langit hitam, tak ada sinar bulan atau kerlip bintang hanya suara gemuruh dari penguasa angkasa.  Satu isyarat sekumpulan hujan akan segera bertandang untuk mengurangi sedikit dahaga makhluk bumi. Tertegun, nampak di kejauhan sesosok lelaki berdiri tepat di bawah tiang lampu jalan. Mematung di bawah temaram, memunggungi malam. Sepertinya sedang menanti seseorang atau sesuatu.

Entahlah, ada rasa menggelitik mengusik hati. Rasa kepo tepatnya. Siapa sih laki-laki itu dan siapa juga yang ia tunggu. Sebenarnya itu jauh dari urusanku, lah wong saya kenal lelaki itu juga enggak. Tanpa sadar aku sudah berdiri lama di ambang jendela kaki pun mulai terasa gemetar. 

 Sedang mata dan pikiran masih saja tertuju ke jalan lengang di bawah sana. Serasa kunang-kunang bertebaran di sekelilingku, mengaburkan pandangan dan membuat kepala terasa berat. Namun masih saja kaki gemetar ini enggan untuk beranjak.

Lelaki itu mematung, masih berdiri tepat di bawah lampu jalan tak terusik oleh sekumpulan anjing liar yang menggonggong kearahnya. Tapi aneh justru makhluk liar itu yang lari menjauh  dengan nyalak terdengar begitu mengerikan. Setidaknya di telinga gadis penakut sepertiku. 

Lelaki itu masih berdiri membelakangi, bahu kokoh berbalut kemeja bercorak hitam terlihat samar dari tempatku berdiri. Sedang seseorang atau sesuatu yang ia tunggu belum juga ada tanda-tanda akan segera datang menemui. Kaki semakin lemas, aku tak tahan lagi dan berbalik ke arah ranjang besi yang telah seminggu ini menjadi duniaku. Setelah sebelumnya memastikan jendela berkaca bening dan bertirai putih itu tertutup dengan sedikit usaha.

Dinding putih, tabung oksigen, botol infus serta beberapa kabel tersambung ke mesin yang mirip televisi dengan garis membentuk grafik bergerak naik turun adalah pemandangan paling menjemukan. Tapi semua peralatan itu yang telah membantuku bertahan beberapa hari. Tapi malam ini tanpa sepengetahuan mama atau dokter aku melepas semua itu yang tersisa hanya selang infus menancap di pergelangan tanganku. Ingin rasanya lebih lama menikmati angin malam, kerlip bintang serta sosok lelaki di bawah lampu jalan itu sampai pagi tapi apa daya kaki tidak lagi mampu berdiri lama dan nafas juga terasa kian sesak. 

Kembali membaringkan diri di atas ranjang berseprei hijau lumut lalu berusaha keras memejamkan mata yang mulai perih. Tetapi pikiran tersita pemandangan di bawah tadi dan semakin liar berselancar ke mana-mana. Sesekali tertuju ke pada lelaki tak dikenal itu dan sedetik kemudian rentetan kejadian terpapar samar.  Peristiwa minggu lalu yang membuatku terkapar di ruangan ini. 

Berawal pertengkaranku dengan beberapa teman sekelas, maksudku gadis-gadis bengal itu. Mereka menghujaniku pertanyaan, tepatnya tuduhan karena Siena tidak memberiku kesempatan untuk membela diri.  Itu semua gara-gara aku dekat dengan Tio, ketua OSIS yang bikin hati para cewek meleleh seperti es krim. Mereka bertiga terlalu takut rahasia terbongkar sehingga berusaha keras untuk mencelakaiku.

Sebenarnya aku juga tidak mau meladeninya, tidak penting menurutku. Tapi kenyataannya usahaku menghindar justru membuat mereka semakin gencar mencecarku. Sampai kejadian sepulang sekolah itu. Siena, Melin dan Dona sudah menunggu di pertigaan depan sekolah yang tidak jauh dari halte tempat aku biasa menunggu angkot. Mereka menarik paksa ke sebuah gang dan mulai menginterogasi. Aku berusaha tidak menggubris pertanyaan mereka yang memang tidak perlu dan tidak ingin kujawab.

Siena semakin geram melihat reaksiku, ia mendorong ke dua bahuku dengan kasar. Aku yang dalam posisi tidak siap langsung tersungkur dan belakang kepala membentur keras tong sampah yang teronggok bisu di sudut gang. Aku berusaha bangkit tapi Dona dengan sigap menendang sebelah dadaku hingga badan kembali terpental menghantam tembok berdinding kasar. 

"Auugghh!" pekikku menahan sakit. Punggung terasa remuk dan ketiga bocah perempuan itu hanya tersenyum sinis. Tiga pasang mata tajam mereka benar-benar mencincang keberanianku. Apa daya, posisi tidak seimbang selain sendirian ukuran badanku juga kalah besar. Meski begitu aku tidak berniat pasrah begitu saja tanpa perlawanan berarti menghadapi perlakuan para mucikari amatiran itu. 

Sekuat tenaga aku berusaha berdiri menerobos mereka dan selanjutnya lari keluar gang. Aku tahu, mereka tidak akan membiarkanku lolos semudah itu. Seperti sudah kuduga salah satu dari mereka menubruk  keras dan tanpa sempat menghindar satu benda keras menghantam tepat di ubun-ubun. Sontak kepala berputar-putar memaksaku ambruk dengan wajah menghantam lantai paving. Perut seperti diaduk-aduk dan siap memuntahkan gado-gado ibu kantin yang aku santap saat istirahat tadi.

Tidak hanya sampai di situ, meski lirih masih sempat aku dengar umpatan Melin, satu dari ke tiga teman kelasku itu. Lalu disusul pijakan kaki  di atas tulang punggung membuatku kesulitan bernafas. Rupanya mereka benar-benar membuktikan ancamannya. Meneror agar aku tetap bungkam dan berusaha memaksaku untuk mengurungkan niat membongkar kepolosan mereka yang nyata-nyata hanya kedok dan mereka itu sebenarnya cuma segerombolan mucikari tak berhati.

Siena tidak segan-segan mengumpankan teman sendiri menjadi penari striptis atau teman kencan lelaki bandel dengan imbalan sebagai balasannya. Itu juga tidak sengaja aku dengar dari obrolan mereka saat membujuk  Aminah. Gadis polos berkulit putih mulus, berpostur seksi anak kelas satu pindahan dari luar kota. Sasaran empuk Siena.

Tapi sialnya Mel memergokiku dan esoknya langsung menyeretku saat keluar kantin. Mereka merasa aku adalah ancaman. Mel berusaha membungkamku dan aku bukan gadis kecil yang menurut begitu saja oleh gertakan mereka. Aku tidak pernah takut selama tidak salah dan ini juga kesempatan untuk menghentikan aksi mereka menjerumuskan teman-teman sekolahku. 

Mereka tidak menyerah begitu saja justru semakin sering meneror dengan berbagai cara dan aku hanya butuh waktu untuk mengumpulkan bukti dan saksi atas sindikat kejahatan mereka. Itu kujadikan penguat laporan ke pihak sekolah. Aku tidak mungkin memberikan tuduhan tanpa bukti yang ada nanti mereka justru akan berbalik menyerang. 

Sampai waktu pulang sekolah Siena, Mel dan Dona berhasil mengirimku ke ranjang rumah sakit ini. Entah mengapa bayangan papa kembali bermain di kelopak mata dan terlintas kenangan masa kecil itu sebelum papa memutuskan pergi.

"Pa, Karin sangat rindu." Ada ngilu seiring bulir bening jatuh dari sudut mata, terurai bebas. Isak menyeruak dalam keheningan dan tak lagi bisa kutahan. Ingatan kembali tertuju pada lelaki di bawah lampu jalan itu, masihkah ia di sana.

Seperti ada desakan untuk menemuinya, meski tak yakin tapi sosok itu seperti tidak asing bagiku. Kulempar pandang ke arah tirai yang tertutup, masih saja penasaran. Secepatnya aku bangkit melepas selang infus satu-satunya peralatan medis yang masih terhubung, secepatnya aku beranjak ke tepi jendela. Langkah pun terasa begitu ringan dan sekali tarik tirai terbuka lebar. 

Tak disangka lelaki itu masih di sana, dengan posisi seperti patung perunggu di ruang tamu rumah mama. Tanpa pikir panjang aku bergegas mencari pintu keluar lalu menghambur ke arah gerbang. Hanya satu tujuanku, lampu jalan di seberang rumah sakit. Tak berapa lama aku sampai di ujung pertigaan mengedar pandang dan kutemukan yang kuinginkan. Di sana sosok lelaki yang aku cari masih berdiri tegak. Perlahan, aku menarik langkah menghampiri dan sepertinya ia tidak menyadari kedatanganku. Tetap membeku di tengah trotoar. 

Tinggal beberapa depa aku pun menjeda langkah, mengatur degup jantung yang berpacu kian kencang. Antara takut dan rasa ingin tahu, secepatnya akan kusudahi rasa penasaran yang semakin membuncah. Kutarik satu helaan nafas panjang dan mulai menepuk pundak lelaki itu dengan setengah ragu. 

Kini aku berada di bawah lampu jalan yang sama. Setelah tepukan yang ke dua, lelaki dengan kemeja hitam bermotif itu membalikkan badan menatapku tajam dengan kilau teduh di manik matanya. 

"Oh, Tuhan!" pekikku tertahan. Spontan kedua tangan menutup mulut yang spontan menganga. Tidak percaya dengan sosok yang berdiri begitu dekat denganku. Tuhan, inilah tatapan yang aku rindukan selama ini. Tanpa pikir panjang kupeluk sosok yang kurindu itu tapi dengan cepat ia mendorong tubuhku hingga hampir terpelanting, jika saja tangan kiri tidak sigap meraih tiang listrik yang berdiri tepat di sebelahku. 

Matanya masih menyorot tajam, isyarat agar aku menjauh. Kenapa? Apakah dia tidak punya rasa yang sama setelah sekian lama, batinku protes. Aku tidak menyerah, berusaha mendekatinya meski kembali mendapat penolakan yang sama. Ia berusaha menghindar, menjaga jarak namun aku bisa merasakan sesuatu yang lain, ada cinta di sana. Hal yang aneh, tapi aku yakin itu memang dia. Senyum khasnya berusaha ia samarkan, aku masih ingat betul itu.

"Pergilah! Aku akan menunggumua, tapi waktumu belum tiba." Suara bariton bernada ketus itu masih aku hafal namun wajah berahang kokoh di depanku seketika membeku dan timbul banyak garis retakan, ke dua mata memutih menyisakan titik hitam di maniknya. Sorot teduh itu menghilang dan tiba-tiba saja lelaki itu terlihat kesakitan. Pekikkan melengking  keras menulikan gendang telingaku. Tubuh kekar itu pun perlahan hancur seperti patung pualam yang lapuk terkikis waktu. Berserak  hanya dengan sekali hantam. Menyisakan seonggok debu.

"Papa," panggilku histeris.

Sekali lagi tubuhku seperti terlempar keras, kali ini  benar-benar terdorong dan hilang keseimbangan. Terkapar di atas trotoar di bawah lampu jalan. Sontak rasa sakit menguasai kesadaranku, menyetir otak kembali ke titik normal. Bukankah Papa telah meninggal, aku berusaha mengingat. Lalu siapakah lelaki tadi? Segalanya begitu terlihat nyata.

Nafas terasa sesak, grafik  kembali berbunyi dan bergerak naik turun seirama detak jantungku. Perempuan tangguh berhati lembut itu terlelap duduk di kursi sebelah ranjang menggenggam erat telapak tanganku yang kini mulai menghangat. Kulirik jendela yang terbuka, tak ada lagi keinginan untuk melihat apa yang ada di luar sana. Mama, aku haus, gumamku lirih. Perempuan berkerudung biru itu menoleh hati-hati, menatapku takjub dan tanpa menunggu lama meraih botol air mineral dan membantuku menyedot perlahan.

"Alhamdulillah. Sayangku, kamu sudah siuman," bisik mama lirih. Kecupan mama pun mendarat lembut di pipiku. Aku berusaha memeluknya. Rindu, Ma, gumamku penuh cinta membalas dekapan hangatnya. Beberapa hari ini serasa begitu lama. 

 

Pondok Indah 22 Mei 2021

#Ceritahoror