Barisan Bangku Belakang

Barisan Bangku Belakang

Tidak ada yang menatapku! Sungguh! Aku pasti hanya berhalusinasi. Bukankah aku hanya duduk seorang diri di baris paling belakang kelas 11A ini? Ya aku? Kinara Ayuningtyas. Siswi SMU N 1 Selo Aji. Aku tidak punya teman sebangku, kawan mengobrol, juga disingkirkan dari kelompok mana pun. Entah karena aku murid pindahan, atau memang karena aneh.

Padahal di sekolah sebelumnya aku siswi populer, selalu duduk di baris paling depan. Terkenal kaya, cantik, pintar, dan punya gebetan kapten basket. Akulah yang sering menindas siswa-siswi lugu dulu. Sahabat-sahabatku juga sama menonjolnya sepertiku.

"Hai, Ki."

Berbeda dengan sekarang. Teman-teman sekelasku bahkan menyapaku ala kadarnya. Aku tidak pernah dilibatkan dalam pembicaraan ringan, apalagi yang serius. Aku seperti berada di lingkungan yang besar, tetapi merasa sangat sendiri.

Bencana ini datang setelah Ayah dimutasi ke Selo Aji. Sebuah kota kecil yang katakanlah lembab, banyak hujan, berkabut, dan terlalu dingin. Tidak banyak hal yang bisa kutemui, selain dua lampu merah, satu bangunan yang lebih cocok disebut warkop ketimbang Cafe, tiga warung nasi, hutan pinus, kebun teh, dan sekolah yang terlalu mengabaikanku.

Aku pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sambil memakai payung. Sepeda sulit digunakan karena jalan terlalu terjal dan licin. Mobil juga sering kali oleng lalu selip, bahkan tergelincir.

***

Setelah tiga puluh hari aku sekolah, untuk pertama kalinya ada yang mengisi baris belakang. Dia siswa pindahan dari Bandung yang memperkenalkan diri bernama Saka di depan kelas. Meskipun tampan menurutku wajahnya terlalu pucat.

"Apa saja ekskul di sekolah ini?" tanyanya.

"Entahlah, mungkin volley dan basket. Aku juga siswi baru, Ka," jawabku.

"Oya? Pantas saja kamu duduk di baris belakang."

Diam-diam aku bersyukur, telah memiliki teman duduk di belakang. Itu mengobati ketakutanku akhir-akhir ini. Awalnya aku merasa jika di baris pojok kanan dan kiri yang kosong, seolah-olah terisi. Aku merasa ada murid yang duduk, menyimak pelajaran seperti halnya kami. Terkadang lacinya berbunyi, seperti ada tas yang dibuka ataupun ditutup. Kursinya berderit seakan ada penghuni, kadang malah bergerak seperti kursi goyang, seakan dipermainkan pemiliknya. Itu membuatku bergidik, merinding.

"Dengar Saka, aku tidak suka duduk di baris belakang."

"Kenapa tidak pindah?"

Ingatanku melayang sejenak di hari ke lima aku sekolah.

"Eh! Kinara Ayuningtyas! Apa yang kamu lakukan di baris depan? Menempati tempat dudukku? Pergilah!" ucap siswi bernama Mira, marah. Saat itu dilemparnya tasku ke lantai. Batinku terhenyak, bukankah ini yang selalu kulakukan pada anak-anak lugu di sekolahku sebelumnya?

"Kinara? Kamu melamun?"

"Saka. Aku ... aku tidak berani. Mungkin inilah tempatku. Di baris belakang. Kini ada Saka, kan?"

Saka hanya tersenyum sekilas. Mulai detik itu, Saka menemaniku sebagai teman sebangku. Kami banyak melakukan kegiatan sekolah bersama. Belajar kelompok, membuat proyek kecil, menyusun makalah bahkan ke kantin untuk istirahat bersama. Hingga suatu ketika, saat mendekati ujian semester Saka mendadak menjauh dariku. Kulihat dia pergi dengan Pevita. Anak yang duduk sebangku dengan Mira. Dia sangat populer di sekolah ini. Jika melihat Pevita aku juga melihat diriku yang dulu. Begitu egois dan childish.

Saka, siapa sangka. Dia mulai mengisi hari-hariku yang sepi. Aku mulai terbiasa dengannya. Ada rasa kekaguman yang seringkali bergerak di hati remajaku. Cinta monyet yang bergelora seperti semangat membara seorang gadis belia. Akan tetapi kini Saka telah dibawa pergi. Bagaikan de ja vu, aku masih ingat caraku mendekati si kapten basket dulu. Kinara juga merebutnya dari Alika. Pevita akhirnya merebut Saka dari Kinara. Jadi apa bedanya aku dengan Pevita?

Kini air mataku tumpah ruah, aku menangis di bangkuku hingga terlelap. Begitu terbangun waktu telah menunjukkan jam tujuh malam. Aku segera tersadar, jika dalam bahaya besar. Sekolah terlalu misterius saat siang hari, bagaimana jika malam hari. Namun anggapanku salah. Kelas terang benderang, ada nyala lampu. Ada Ibu guru dan juga teman-teman. Ternyata kami sedang mendapat kelas biologi. Bau amis dan anyir menyeruak ke udara. Perutku serasa diaduk-aduk saat menyadari kelas sedang melakukan bedah katak dan ikan. Ini adalah praktikum yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik, sistem pencernaan juga pernapasan pada katak dan organ-organ dalam pada ikan.

Kutarik nafas panjang-panjang saat melihat banyak darah tercecer. Aku tidak bisa menahan mual hingga keluar bunyi mabuk dari mulutku. Kelas hening, semua siswa menatapku tajam. Yang membuat jantungku berdebar adalah tepat saat kusadari teman-temanku berbeda dari sebelumnya. Tidak ada Saka, tidak ada Mira, apalagi Pevita. Aku jatuh terduduk ketika memperhatikan mereka satu persatu, wajah mereka berubah pucat dan penuh luka bakar. Tatapan mereka tajam, dingin seperti hantu. Bola mata mereka merah membara.

Aghh! Dadaku sesak, sekujur tubuhku gemetar. Aku berteriak seperti orang gila karena ketakutan. Mereka mendatangiku seperti zombie. Aku lari namun terjatuh. Kaki serasa berat melangkah. Aku mendengar suara-suara asing memanggilku sambil mendoakanku. Sudah kuusahakan mencarinya tapi tidak ketemu.

"Kinara! Anakku," kudengar suara Ibu menangis memanggilku. Sesekali kudengar bunyi doa terucap dari mulut beliau.

"Kinara! Ada di mana kamu?" Itu Ayah. Ayah juga mencariku.

Tidak! Mereka bergerombol sambil terus menyerangku. Astaga bagaimana ini? Aku harus apa. Ketakutan, keputus asaan, rasa lelah dan pasrah bercampur baur jadi satu.

"Tuhan, tolonglah Kinara, Tuhan tolong. Hanya Tuhan tempatku meminta, sungguh. Berilah Kinara satu kesempatan lagi. Kinara akan menjadi remaja yang baik. Rendah hati dan tidak lagi menindas yang lemah. Selamatkan Kinara, Tuhan."

Tubuhku mendadak terasa ringan, tidak ada lagi yang menggangguku. Aku seperti merasakan udara dan hangat cahaya membelai kulitku. Hingga mataku terbuka, kulihat dunia sekelilingku dengan jelas.

"Kinara! Akhirnya kamu sadar, Sayang."

Sadar? Apa maksudnya sadar? Kuperhatikan sekeliling sambil mengerjapkan mata, menyesuaikan diri.

"Sadar dari apa, Bu?"

"Koma. Kamu mendapatkan kecelakaan di sekolahmu yang baru. Bersama teman yang ada di ranjang seberang. Sayangnya temanmu baru saja pergi," ucap Ibu seraya tertunduk.

Mataku berembun saat melihat sesosok pemuda terbujur kaku tak bernyawa. Serangkaian alat medis telah dilepaskan dari tubuhnya. Sudah kupastikan jika dia memang teman sebangku yang ada dalam mimpiku. Yah, Saka, si siswa pindahan itu. Dia paling nyata di antara yang lain, meski sekarang pun dia telah tiada. Kini aku harus apa, aku tidak pernah mengenalnya dengan baik. Hanya saja dia meninggalkan kenangan samar-samar dalam ingatan, membuatku berduka.

#ceritahoror