Gayung Merah Bilik Nomor Empat

Gayung merah

Sudah menjadi rutinitas ketika selesai jam olah raga para siswi mengerumuni toilet. Tentu saja untuk berganti pakaian karena ruang kelas telah di bajak siswa. Sintia, Caroline dan Mina masih duduk lesehan di luar toilet sembari menunggu giliran. Mereka adalah siswi kelas sepuluh IPA 1 yang kebetulan baru selesai jam olah raga.

“Kalian udah pada denger belom legenda tentang toilet cewek?” bisik Sintia pada kedua temannya.

“Apaan emang?” Mina antusias.

“Jadi, di toilet ini ada satu bilik yang gak pernah dipake. Dan disitu ada benda yang gak boleh digunakan!” lanjut Sintia dengan wajah datar.

“Yaialah gak boleh digunakan, kan barangnya udah rusak! Lo gak usah sok bikin orang jadi parno deh, Sin. Udah jelas itu bilik khusus gudang barang-barang yang udah rusak!” Cerocos Caroline, dia tahu kemana penjelasan Sintia, maka dari itu dia langsung menghentikan cerita aneh-aneh Sintia.

“Eii! Beneran, Car! Ini kisah turun temurun dari kakak tingkat!” Sintia masih ngotot dengan ceritanya.

“Serius? Lanjutin, Sin,” pinta Mina dengan wajah polos.

“Jadi, di bilik itu tuh ada…,”

“Kalian mau cerita atau ganti baju? Udah giliran kita nanti ditrobos mau?” lagi-lagi Caroline mengehentikan Sintia.

Mereka bertiga masuk dan menutup pintu toilet. Di dalam ada 5 bilik, 1 bilik tidak digunakan dan tidak pernah dibuka.

Sebelum memasuki ruangan untuk ganti baju, Sintia terlebih dahulu menghalangi kedua temannya dan menarik lengan Caroline dan Mina ke depan pintu bilik toilet yang tidak pernah di buka, bilik ini tepat di posisi pojok.

“Cerita yang beredar, disini ada benda yang bisa renggut nyawa kalian!” bisik Sintia.

“Aaa!!!” Mina berteriak dan beralih ke belakang Caroline.

“Apaan sih, Sin. Udah buruan ganti baju!” caroline si mental baja tidak berkedip sedikit pun mendengar penuturan Sintia.

***

Kelas matematika berlangsung dengan membosankan. Penjelasan Bu Saroh seperti angin yang membelai mata untuk tertutup, Sintia dan Caroline sudah terkantuk-kantuk.

“Anak-anak mengapa Mina belum kembali dari toilet? Sudah hampir setengah jam!” ucap Bu Saroh yang membuat siswa kembali tersadar.

Bu Saroh menyeruh Sintia menjemput Mina karena khawatir. Betapa terkejutnya Sintia yang menemukan Mina tak sadarkan diri di dalam toilet, posisinya tersungkur di depan bilik nomor 4 dengan tangan berdarah.

Esok harinya Mina masuk kembali. Atas penjelasan Sintia, Mina ditemukan pingsan pas di depan pintu toilet yang tidak pernah digunakan. Teman sekelas memborbardir Mina dengan pertanyaan bagaimana kronologis Mina pingsan di depan bilik nomor 4 serta tangan Mina yang berdarah dengan fakta tidak ada luka sama sekali.

“Kok bisa tangan lo gak luka, Na?” tanya Sintia.

Mina menarik napas berat. Tangannya menggenggam tangan Sintia dengan gemetar. Tiba-tiba matanya berair, Mina menangis, ia mulai menarik-narik rambutnya sendiri. Bibirnya bergetar seiring aliran airmata.

“Udah gak usah paksain buat cerita, mending kamu ke UKS,” ucap Caroline yang tidak tega dengan kondisi Mina.

Tiba-tiba Mina menggapai tangan Caroline, mata Mina memerah menatap tajam dua manik mata temannya ini.

“Car, itu bukan gudang, itu bilik dengan gayung merah!” Mina berkata tegas sambil menahan tangis, beberapa saat kemudian dia kembali ambruk dan dibawa pulang ke rumah.

Teman sekelas begitu shock dengan pernyataan Mina. Terlebih Sintia orang pertama yang membagikan kisah horror gayung merah pada Mina. Tidak hanya Sintia, beberapa teman kelas juga sempat mendengar kisah tersebut dari kakak tingkat terdahulu. Mereka memilih tidak percaya karena siang bolong tidak akan ada hantu.

“Lo percaya kan sekarang, Car?” desak Sintia.

“Apa yang harus gue percaya, Sin? Sekalipun gayung itu beneran ada, terus kenapa? Mina pingsan gara-gara kemakan cerita receh lo, sekalinya liat gayung merah, Mina langsung ketakutan, dia terhipnotis cerita lo!” Caroline terus menyangkal, dia sama sekali tidak percaya. sementara teman kelas sudah tidak mau pergi ke toilet sendirian. Mereka bahkan memilih pergi ke toilet kelas Kantin walaupun agak tidak terawat.

“Car, tangan Mina berdarah tapi gak luka!”

“Gue udah tanya sama penjaga UKS, gak ada darah di tangan Mina!”

“Itu karea gue bilas pakai air sebelum ke UKS, Car! Darah itu berasal dari…,”

“Cukup ya, Sin. Gak usah bikin orang jadi gila horror gara-gara cerita receh loh!”

Sintia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan pada Caroline bahwa bilik nomor 4 itu benar-benar angker dan bisa merenggut nyawa orang. Tidak banyak yang tahu karena kejadiannya sudah begitu lama, beberapa belas tahun dari sekarang. Namun, realita tentang Gayung merah di bilik itu benar ada dan sempat merenggut nyawa seorang siswi.

Bell pulang sekolah berdentang dengan keras. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas.

“Car, langsung pulang?” tanya Sintia.

“Gue ada rapat OSIS sampe malem.”

“OK. Gue pulang duluan, btw, Car hati-hati ya, jangan ke toilet sendirian, OK?” Pesan Sintia sebelum benar-benar pergi.

Caroline memandang remeh dan segera menuju ruang OSIS yang dekat dengan deretan kelas sepuluh.

Matahari telah tergelincir ke barat. Rapat kali ini menguras tenaga dan pikiran, OSIS sedang mempersiapkan lomba berkapasitas Kabupaten. Semua hal harus di rancang dengan baik. Sekitar pukul delapan malam mereka menyelesaikan rentetan acara dan teknisnya. Semua anggota mulai mengemas barang untuk pulang ke rumah.

Caroline berlarian menuju toilet OSIS karna sedari tadi dia menahan kebelet buang air kecil. Namun sayang, ia harus mengantri dengan 3 orang berada di depannya. Toilet ruang OSIS hanya ada satu kamar. Tidak tahan lagi dia menunggu lama maka ia berputar arah mencari toilet yang lebih dekat, dan yang terdekat adalah toilet kelas sepuluh.

Sepintas ucapan Sintia terbersit di benaknya. Namun, ia tepis pikiran itu dan tanpa ragu masuk ke toilet kelas sepuluh. Dia masuk ke kamar pertama, kedua, sampai keempat sama sekali tidak ditemukan gayung. Aneh sekali, padahal siang tadi di bilik nomor dua ada dua gayung, tapi sekarang nihil.

Caroline melihat bilik nomor lima terbuka. Dengan hati-hati dia memasuki bilik tersebut dan benar saja dia menemukan gayung berwarna merah. mengingat kandung kemihnya yang sudah menjerit-jerit, ia pungut gayung merah itu dan membawanya ke bilik nomor empat, karena pada bilik nomor lima bak mandinya kering kerontang. Ia mengunci bilik nomor empat, sebelum digunakan, ia perhatikan gayung merah tersebut, tidak ada yang aneh, bahkan gayung ini seperti baru, merah mengkilat.

Caroline mengambil air di bak dengan gayung tersebut setelah air diangkat tiba-tiba air di dalam gayung tersebut berubah warna menjadi merah darah, begitu kental bahkan ada darah hitam yang menggumpal. Seiring berubahnya air menjadi darah, muncul bau yang sangat mengganggu indera penciuman, bau busuk yang muncul dari darah dalam gayung.

Caroline berteriak histeris dan membuang darah yang ada di gayung. Caroline masih berpikir jernih, gadis ini sangat kuat. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dia alami, dan menyangka dirinya telah termakan omongan Sintia.

Air di bak masih sama. Caroline kembali mengambil air dan seperti tombol otomatis, air yang ada di gayung merah berubah menjadi darah dan berbau busuk. Dia hendak melempar gayung itu dan membuka pintu. Namun, gayung merah itu seperti menempel di tangannya. Dia mencoba sekuat tenaga melempar gayung tersebut tapi tidak bisa. Tangan kirinya berusaha menarik jari tangan kanan yang menggenggam gayung dengan erat namun, nihil.

Caroline berteriak minta tolong. Pintu bilik empat tidak bisa terbuka. Caroline semakin panik ketika dia rasa tangan kanannya bergerak sendiri seolah mendulang darah untuk diminum. Caroline tidak tinggal diam, ia menahan dengan tangan kiri, tidak sebanding dengan kekuatan tangan kanan yang menyodokkan gayung ke mulut Caroline.

Dia menutup rapat-rapat mulutnya namun dorongan gayung semakin keras melukai bibirnya. Akhirnya darah kental itu masuk ke dalam mulutnya dan tidak bisa dia muntahkan, semua lancar seolah dia minum air. Namun, bau busuk dan warna merah darah tidak bisa membohongi mata dan penciumannya.

Wajah Caroline memerah, bajunya berlumur darah dan dia tidak sadarkan diri malam itu di terror gayung merah di toilet.

#ceritahoror