Mukena Lavender Mamak

Pinterest

Malam terjaga sebab suara beduk menemaninya menikmati tumpahan langit yang gelap. Tidak seperti tahun lalu, malam ini aku diam di rumah. Duduk di tepian tempat tidur sembari menatap seluruh penjuru.

Tidak ada yang menarik dari ruangan berdinding lavender itu. Hanya lebih bersih dari biasanya. Ah, tidak. Bukan hanya bersih, tapi kosong. Bahkan di lemariku hanya tersisa beberapa pasang pakaian saja. Mungkin karena besok hari raya jadi mamak mengemasnya.

Suara beker berteriak nyaring membuatku tersadar. Tak terasa waktu Cinderella telah berakhir. Dengan cepat aku memakai selimut dan pura-pura memejamkan mata. Jika tidak, mamak akan datang dan memarahiku karena tidur larut. Seperti tahun kemarin.

"Mamak kok gak manggil-manggil sih?" tanyaku setelah beberapa menit tak kudengar suara atau sekadar langkah kakinya.

Perlahan aku menyembul dari balik selimut. Benar saja, mamak tidak datang. Apa mungkin sudah tidur? Aku keluar kamar, mencari keberadaan mamak. Hingga kudengar isak pilu dari arah dapur. Suara itu, aku sangat mengenalnya.

Benar dugaanku. Suara mamak. Wanita paru baya itu tengah memeluk baju koko tua dan mukena lavender yang kubelikan beberapa hari sebelum ramadan. Ah, sepertinya mamak merindukan babah.

"Mamak jangan sedih, babah sudah tenang di sana." Tak ada jawaban. Mamak tetap menangis. Aku tahu rasanya kehilangan orang tersayang. Sangat menyakitkan. Ini tahun kelima kami merayakan lebaran tanpa babah.

Kembali kupandangi wajah yang mulai renta, juga keriput di tangannya. Ada luka yang tak bisa diukur berapa meter dalamnya ketika melihat mamak menangis. Mamak bahkan mengabaikanku seolah aku tidak ada.

Tanpa dapat dicegah, air mataku jatuh. Andai mamak tahu seperti apa kesedihanku setelah kepergiaan babah. Aku juga sama terlukanya. Namun, semua adalah takdir. Tidak ada yang bisa menolak. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, baik mamak maupun aku sendiri.

Suara kursi yang digeser membuatku tersadar. Tanpa sedikit pun melihatku, mamak berdiri lalu masuk ke kamar. Aku memakluminya. Mungkin mamak butuh waktu.

Waktu belalu. Hari raya pun tiba. Seusai salat, aku dan mamak berziarah ke makam babah yang berada di ujung kampung. Lumayan jauh. Sekitar dua puluh menit jika berjalan kaki. Meski begitu, aku tidak berniat naik ojek. Jangankan naik ojek, makan sehari-hari saja susah. Aku sampai harus bekerja di warung nek Asih agar bisa membeli mukena untuk mamak.

Langkahku terhenti, ada sesak yang mendera melihat pemakaman ini. Mungkin karena sebentar lagi aku akan bertemu babah. Setelah rasa itu mereda, aku kembali berjalan. Mengikuti mamak dari belakang.

"Maafkan mamak, Hana." Kembali kudengar isak tangis mamak yang memanggilku. Aku menggeleng cepat. Mengapa mamak meminta maaf? Mamak tidak salah apapun.

"Mukena dan kecelakaan itu? Semua karena mamak." Aku menatap lamat-lamat wanita berpakaian hitam itu. Mencari maksud dari perkataannya. Kecelakaan apa?

Tubuhku mendadak kaku. Namun, jantung melebihi pacuan kuda. Aku baru menyadari sesuatu. Bukannya makam babah sudah dilapisi keramik, lalu kuburan yang tanahnya masih basah ini punya siapa?

"Semoga tenang di sana, Hana. Mamak menyayangimu."

Cianjur, 04 Mei 2021