Aku dan Kematian

Pinterest

"Allahu Akbar, Allahu Akbar." Ayat-ayat fajar melengking membelah langit, pertanda bahwa sebentar lagi pagi akan menyingsing. Masih dengan memakai mukena, aku bangkit. Menyimpan mushaf di atas nakas lalu bersiap menuaikan dua rakaat fardu.

Waktu begitu cepat berlalu bukan? Rasanya baru kemarin aku merasakan sahur pertama. Sekarang sudah hari kesembilan ramadan saja.

"Mi, hari ini Yaya gak kuliah subuh dulu ya? Ngantuk banget," ucapku yang saat itu selesai salat. Entah mengapa hari ini aku benar-benar malas. Ranjang berseprai putih seakan melambai-lambai meminta kutiduri.

"Beneran? Katanya gak mau sia-siain ramadan, nanti nyesel loh kalau udah pergi," kata ummi yang mengingatkanku akan hari pertama tarawih. Saat aku masih semangat-semangatnya membersamai ramadan.

"Belum tentu tahun depan kita ketemu ramadan lagi, Ya." Aku diam dengan bibir maju beberapa senti. Ah, menyebalkan. Ummi selalu saja bisa menyudutkanku. Pada akhirnya aku tetap pergi meski malas mengintili. Sementara ummi memang tidak ikut karena adikku sedang demam.

Setelah sepuluh menit berjalan kaki, aku sampai. Bangunan berkubah itu sudah dipenuhi hampir separuh jamaah. Wajar saja, orang-orang yang datang tidak hanya di tempatku, melainkan dari berbagai kampung.

Aku duduk di saf ketiga bersama wawak --kakaknya abi. Hanya berdua. Memang siapa lagi? Di waktu sepagi ini, kebanyakan orang memilih tidur dari pada kuliah subuh. Padahal menuntut ilmu di bulan ramadan itu pahalanya luar biasa. Namun, aku juga tidak bisa mengelaknya. Ah, kasur. Mengapa dirimu sangat menggoda?

"Sudah mau mulai ceramahnya, jangan tidur Yaya." Aku tersadar ketika wawak menepuk pundak. Aku meringis karena hampir saja ketiduran.

Setelah menguap beberapa kali, aku memaksakan diri membuka buku. Bersiap mencatat ringkasan pengajian subuh ini.

"Astagfirullah!"

Suara jeritan itu membuatku tersentak hingga kantuk pun hilang. Bukan aku saja, tapi semua yang di sini. Beberapa detik kemudian, suasana menjadi riuh. Sebagian bahkan berlari mendekati kerumunan yang ada di sebelah timur, termasuk aku.

"Innalillahi wainnailahi rajiun." Aku mematung di tempat. Mataku masih terpaku menatap wanita paruh baya yang tergeletak dengan cairan merah pekat melesak di hidung dan mulutnya.

"Innalillahi," ucapku dengan susah payah. Ada sesuatu serupa pedang yang menusukku. Rasanya seperti menghujani jantung hingga kakiku melemas. Tanpa mampu dicegah, aku menangis dalam diam.

Rasanya tak dapat dipercaya. Wanita itu pergi serupa kilat. Mengembuskan napas terakhirnya dalam keadaan berpuasa, berada di majlis ilmu, dan di bulan yang mulia. Ramadan. Bukankah kematian yang husnul khatimah?

"Barang siapa yang kedatangan maut saat menuntut ilmu, maka ia akan bertemu dengan Allah. Dan Tiadalah batas antara dia dengan nabi, melainkan hanya derajat kenabian." (HR. Thabrani).

Suara di balik microfon terdengar bersamaan dengan kepergian jasad itu yang dibawa suaminya. Aku kembali duduk lalu bersama membacakan surah Al-fatihah.

Hari ini, aku menyadari satu hal. Benar kata ummi, kita tidak boleh menyia-nyiakan ramadan tahun ini sebab belum tentu kita menjumpainya di tahun depan. Entah itu karena ramadan merajuk dan kabur, atau kita yang terkubur. Sebab kematian tidak ada yang tahu. Kapan, di mana, dan seperti apa. Pertanyaanku kini. Apakah kematianku akan husnul khatimah atau suul khatimah?

Satu lagi. Sadar atau pun tidak, beberapa menit lalu aku dan malaikat maut berada dalam ruangan yang sama. Hanya saja ia tidak datang menemuiku. Tidak tahu jika nanti.

Wallahualam ....

Cianjur, 21 April 2021