Opor Ayam untuk Tante Regina

Ilustrasi: istimewa

Namanya Tante Regina. Ia tinggal bersama anak semata wayangnya di rumah nomor 8, persis di depan rumahku yang nomor 9. Rumahnya tergolong mewah dengan desain modern dan berpagar tinggi. Ada satu mobil Jeep parkir di garasi dan satu mobil Geely merah di depan rumah nomor 6 - di seberang rumah nomor 7 yang aku tinggali - yang tidak berpenghuni.

Oya, aku tinggal di rumah nomor 7 dan nomor 9 yang berdempetan. Di komplek tempat kami tinggal, barisan rumah nomor-nomor ganjil dan genap dipisahkan oleh jalan raya beraspal yang cukup lebar, muat untuk lewat dua mobil tanpa bersenggolan. 

Berbeda dengan kondisi Tante Regina, rumahku amatlah sederhana, masih asli dari pengembang. Hal itulah yang mengawali konflik di antara kami. Sebenarnya tidak juga. Dia berubah setelah bangkrut dan semua asetnya disita bank. Bahkan kabarnya, rumah yang ia tempati pun dalam kondisi sengketa dengan bank. Perempuan paruh baya itu berubah sangat membenciku sejak aku membeli rumah nomor 9, yang tadinya sangat ia inginkan. 

Tidak hanya denganku, perempuan yang mengaku bukan orang Jawa tapi fasih berbahasa Jawa itu pun mulai mencari gara-gara dengan tetangga kiri kanan. Bahkan terang-terangan ia menyebar fitnah di tukang sayur baik tentang keluargaku maupun warga lain. Bahkan kami pernah dilaporkan ke pihak berwajib.

Kami tak tahu dari suku mana dia berasal atau agama apa yang ia peluk. Yang jelas dia bukan muslim karena tidak pernah terlihat ke masjid atau melakukan ritual agama Islam. Kristen atau Katolik pun bukan.

Aku pernah meminta tolong pada seorang sahabat - guru Agama Katolik yang merupakan Pelayan Diakonia gereja Katolik setempat - untuk menasehatinya, tapi perempuan baik hati itu tidak pernah melihatnya datang ke gereja.

Demikian pula saat dua orang Pelayan Diakonia gereja Kristen mengunjungi Encim - tetangga depan taman - untuk sebuah kegiatan rohani dan aku meminta tolong untuk sesekali melakukan kunjungan ke rumah Tante Regina, para aktivis gereja itu tak mengenalnya. Bukan jamaah di gereja Kristen setempat.

Bu Nyoman dan Cik Iing pun tak pernah melihatnya di Pura maupun Wihara. Jadi aku menduga Tante Regina itu mungkin hanya  punya agama 'KTP' atau seorang agnostik. Entahlah, lupakan saja.Toh, tidak mungkin bagiku untuk ke rumahnya dan meminjam KTP, bukan? Yang jelas, sikap buruknya tak berhubungan dengan agama apa pun dan suku apa pun. 

Seiring dengan hawa permusuhan yang semakin menjadi dari Tante Regina, aku dan warga yang lain pun sering terpancing untuk meladeni. Terkadang aku menduga-duga, mungkin ia terkena post power syndrome, atau bahkan memiliki gangguan jiwa. 

Dugaan ini semakin mengerucut mengingat anaknya yang berumur 13 tahun tak pernah bersekolah. Bahkan kemampuan baca tulisnya setara dengan anak TK, tapi sudah lancar menyetir mobil ke mana-mana. 

Anjingnya pun sering mendengking lemah dan melolong-lolong sedih seperti srigala kelaparan. Kadang aku berpikir, jangan-jangan Tante Regina tak punya uang untuk membeli makanan untuk anjingnya? 

Kasus pelaporan ke Polsek terhadap kami 24 tetangganya dengan tuduhan penghinaan pun sudah berjalan setahun dan tidak ada titik terang. Pengurus RT/RW dan warga sudah sangat lelah dengan kelakuannya yang meresahkan. Tapi kami tidak bisa bertindak banyak, hanya bersabar dan bersabar.

Setelah sebulan penuh kami berpuasa dengan cobaan sangat berat - bersabar terhadap ajakan perkelahian dari tetangga depan rumah - kami pun bersuka ria dengan datangnya hari raya Idul Fitri.

Aku pun berniat mengantarkan ketupat dan semangkuk opor ke rumah Tante Regina. 

"Ngapain sih, kita harus anterin opor ke rumah dia? Kan dia jahat." Anakku keheranan dan menolak saat aku tugaskan untuk mengantarkan hantaran lebaran di malam lebaran. Ia hanya melewati rumah nomor 8 saat menuju rumah tetangga yang lain.

"Sebaik-baiknya orang adalah yang paling baik terhadap tetangganya. Itu bukan kata Ibu, tapi sabda Rasulullah. Dan kebetulan Tante Regina itu tetangga terdekat kita."

"Ogah, ah. Takut. Ibu aja." Kedua anakku tetap menolak diberi tugas. Mendatangi rumah Tante Regina sama saja bunuh diri bagi anak-anak. Bahkan, hampir semua anak di komplek ini menghindar untuk sekedar lewat di depan rumah megah bercat hitam itu.

"Kalau begitu biar Ibu saja yang ke sana."

Akhirnya semangkuk opor ayam dan dua buah ketupat sukses saya antarkan ke rumah 'angker' itu. Kebetulan yang membukakan gerbang dan menerima hantaranku anak laki-lakinya. 

Semoga Tante Regina menerima misi perdamaian dunia yang aku tawarkan melalui ketupat opor. 

 

(uss)

Jaksel, lebaran hari ketiga, 16/05/2021