Minggat

Nenek

Semalam Mama marah besar dan membanting gawai kesayanganku. Kata Mama aku terlalu banyak main mobile legend. Mama nggak tahu kalau menjadi gamer profesional adalah cita-citaku. Jadi aku akan minggat dari rumah. Toh Mama dan Papa sudah nggak sayang sama aku.

"Game nggak ada guna, buang-buang waktu!"

Lihat saja, tanpa Mama pun aku akan sukses. Nanti kalau aku udah banyak uang dari main game, aku akan pulang dan Mama pasti akan menarik ucapannya. 

Pagi itu, selesai sahur aku mengendap-endap dan berhasil keluar rumah tanpa diketahui, tanpa perlu loncat dari jendela. Aku tak membawa apa-apa, hanya sedikit uang hasil membongkar celengan. Aku pun naik bus jurusan Palmerah dan naik kereta api. Waktu beli tiket, aku sebutkan saja stasiun terakhir, Parung Panjang.

Di Parung Panjang aku bertemu seorang nenek renta yang menyandang sebuah tas besar di pundaknya. Dia seperti kebingungan, sedikit linglung tepatnya. Aku pun berniat menolongnya. Mungkin sedikit kebaikan akan menghiburku.

Aku menjajari langkahnya dan menawarkan bantuan untuk membawakan tasnya yang terlihat cukup berat, tapi dia menolak, bahkan setelah aku bujuk.

"Nenek mau kemana?"

"Mau ke rumah saudara di Jasinga, tapi lupa jalan. Maklum sudah puluhan tahun tak pernah ke sana."

"Sendirian?"

Perempuan tua itu mengangguk. Ternyata dia minggat dari rumah, sama sepertiku. Nenek marah karena anak, menantu, dan cucunya tak ada yang peduli. Terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tak pernah ada waktu, walaupun hanya sekedar mengantar Nenek ke rumah saudaranya.

Aku pun menawarkan diri untuk mengantarkan Nenek sampai Jasinga. Toh, aku tak punya tujuan pasti. Kami pun meneruskan langkah menembus jalan raya di pinggir pasar Parung Panjang yang becek dan berlumpur. Angkutan yang akan mengantarkan kami ke Kadaka baru terisi beberapa orang. Sopir tak akan pernah mau menyalakan mesin mobil sebelum seluruh penumpak duduk berdesakan.

Nenek mengambil dompet dari tasnya dan memberiku uang untuk membayar ongkos angkot untuk kami berdua. Sekilas terlihat di dalam tasnya banyak dokumen, buku tabungan, dan setumpuk uang berwarna merah.

"Nih, lihat. Nenek punya usaha Metro Trans. Dulu Nenek punya banyak Kopaja, terus nenek jual tuker tambah sama Metro Trans. Makanya kamu nggak usah khawatir, uang Nenek banyak," ujarnya seraya menunjukkan foto-foto armada busnya, dan buku tabungan bernilai ratusan juta rupiah.

Aku mengangguk. Jangan-jangan Nenek ini pencuri? Bisa saja kan, dia mencuri di rumah saudara, atau kerabat, bahkan anaknya sendiri, lalu kabur? Ah, tapi itu tidak mungkin kan? Wajahnya terlalu lugu untuk menjadi pencuri. Lalu, bagaimana denganku? Bukankah wajahku juga polos, tapi kenapa aku juga mencuri uang Mama untuk top up?

Singkat cerita, setelah berkali-kali nyasar kami pun sampai ke Jasinga. Aku pun berpamitan kepada Nenek, setelah dia masuk ke sebuah rumah kuno yang sangat besar. Ternyata dugaanku salah. Nenek berkerudung putih itu orang kaya betulan. 

Oya, harusnya aku sampaikan ke saudara si nenek kalau dia minggat dari rumah. Tentu keluarganya khawatir dan mencarinya ke mana-mana, atau bahkan lapor polisi. Aku pun berbalik dan mengetuk pintu. Sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan.

Tiba-tiba seorang lelaki tua melintas.

"Nyari siapa, Jang?"

"Nenek dan saudaranya, penghuni rumah ini, Pak."

"Ini mah rumah udah kosong puluhan tahun, Jang. Seluruh keluarganya kecelakaan waktu nganter neneknya naik haji ke bandara."

Jadi, nenek tadi siapa? Aku merinding dan memutuskan untuk segera pulang.

 

(uss)

#fiksiremaja

#hororremaja