Bagai Pinang Dibelah Kapak

Sumber gambar, Pinterest.

Aku selalu benci ketika hari telah berganti pagi. Rutinitas di sekolah terasa sangat memuakkan. Mungkin lain hal jika aku terlahir dengan fisik mempesona seperti Nina. Saudara kembarku itu sangat beruntung mempunyai kulit putih bersih, hidung mancung, dan bentuk tubuh yang ideal. Pokoknya nyaris sempurna. Berbanding terbalik denganku yang berkulit lebih legam, berhidung pesek dan memiliki postur tubuh pendek. Karena itulah aku sering mengalami perundungan di sekolah.

"Hai Nina, pulang bareng aku yuk!" ajak Fadli suatu siang. 

Fadli adalah cowok dari kelas 10F yang terkenal playboy. Wajahnya memang cool--mirip Han Seo Jun di drama True Beauty--tapi kelakuannya minus. Cowok bertubuh jangkung itu seringkali membuat onar di sekolah. 


"Wah sorry ya, aku harus pulang sama Nani. Kasihan dong kalo dia pulang sendirian," tolak Nina dengan sopan. 

"Biar Nani naik ojol aja ya. Emang dia siapa kamu sih?" 

Nih cowok, masa nggak tahu sih kalo aku saudara kembar Nina. Jelas-jelas nama kami hampir sama, Nina, Nani. Aku merutuk dalam hati. 

"Dia saudara kembarku. Emang kamu nggak ngerti?" tanya Nina kemudian.

Fadli tergelak mendengar penjelasan Nina. Cowok berwajah tirus itu lantas menatapku dari ujung rambut hingga kaki. Kemudian ganti melihat kembaranku yang berwajah jelita. 

"Saudara kembar? Aku bener-bener takjub. Jadi inget ungkapan bagai pinang dibelah kapak hahaha," tawa Fadli membahana. 

"Eh kalo ngomong jangan gitu dong." Nina mencoba membelaku. 

Aku semakin tak senang dengan situasi seperti itu. Dengan gegas aku berlari keluar melewati gerbang sekolah. Nina mencoba menggapai tanganku. Aku menepisnya dan berlari lebih cepat lagi hingga dia tak bisa mengejar. 

Saat tiba rumah aku langsung masuk kamar dan menguncinya. Tak kuhiraukan Nina dan mama yang berulang kali mengetuk pintu untuk membujuk. Bulir-bulir bening menyeruak dari kedua kelopak mata tanpa bisa dicegah. Hatiku sangat sakit. 

Aku benar-benar membenci Nina. Mengapa dia terlahir begitu sempurna. Bahkan kebaikannya kuanggap sesuatu yang justru merugikanku karena dia semakin terlihat istimewa. Aku merasa Tuhan begitu tak adil. 

Nina selalu dikelilingi cowok-cowok di sekolah. Sedangkan aku, memandang saja mungkin para cowok itu sudah mual duluan. Dalam hal prestasi pun, dia selalu membanggakan. Kepribadiannya juga menyenangkan. Berbeda denganku yang lebih cenderung introvert karena merasa minder. 

*****

Suatu hari ada yang berubah dalam hidup Nina. Gadis yang populer di sekolah itu auranya seolah meredup. Cowok-cowok mulai menjauh darinya, entah mengapa. Bahkan Rivan yang telah menjadi pacarnya tiba-tiba mengucap kata putus. 

"A ...." Rivan tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia hanya mengarahkan telunjuk ke arah Nina. 

"Kenapa sih, Yang?" tanya Nina bingung. 

"Ada yang nyeremin di belakang kamu," racau Rivan.

Cowok yang terkenal jenius itu lari tunggang langgang meninggalkan pacarnya. Semua mata tertuju pada kembaranku itu. Tapi tak ada apa-apa di sana. Nina hanya berdiri seorang diri. 

Kejadian seperti itu terulang beberapa kali. Rivan menjadi sering ketakutan jika mendekati Nina. Dalam pandangan cowok bermata minus itu, selalu ada sosok menyeramkan yang selalu mengikuti pacarnya. Akhirnya hubungan mereka kandas juga. 

Nina bercerita pada mama tentang apa yang terjadi pada dirinya. Perempuan yang melahirkan kami itu tak tinggal diam. Dia meminta bantuan pada salah satu paman kami yang kebetulan punya indra keenam. 

"Sepertinya ada jin yang mencintai Nina," ucap Om Rudi.

Mama terkejut mendengar penjelasan adiknya itu. Aku juga tak menyangka jika bangsa lelembut pun kepincut dengan kecantikan Nina. Dalam hati aku bersyukur tak mengalami hal yang sama seperti saudariku itu. Aku jadi menyesal pernah menganggap bahwa Tuhan tak adil. Padahal dalam hidup memang tak ada yang sempurna.  

Surabaya, 12 Mei 2021