Lelaki yang Sama

Ilustrasi: Hallo Dokter

Dany masih duduk tepekur menundukkan kepalanya. Dia merasakan nyeri yang teramat setelah duableg team menyerangnya bertubi-tubi. Dia sendiri tak yakin kesalahan pastinya apa? Selain segala tugas sekolah mereka rampas. Seperti biasa, Dany bersedia membuat tugas double karena yang sudah-sudah buku tersebut telat dikembalikan. Semata hanya menghindari perdebatan.

"Bangun, lu, Cunguk! Dasar cengeng, satu lawan satu kalau lu punya nyali." Daren membuang ludah, dan Karenina mengetahui dari jarak jauh.

Sebelum ketahuan akhirnya mereka memilih membubarkan diri. Daren menoleh beberapa saat, memastikan Karenina sampai di mana membantu si Cunguk.

"Udah, Ren, biarin ajah napa, pan kita bisa pulang sekolah atau kagak besok-besok juga bisa. Gue juga heran, napa lu kek benci banget ma tuh anak?"

Daren masih ngos-ngosan mengatur napas. Bahwa sebenarnya antara dirinya dan Dany masih ada hubungan keluarga. Hanya saja Daren belum bisa menceritakan semuanya untuk saat ini. Baginya, membantu melancarkan keinginan Mami adalah hal utama.

"Skuylah ke kelas, kurang satu mata pelajaran ini. Lagian jam terakhir kan jamkos," seru Geo sembari merangkul Daren.

Enam sekawan tersebut masuk kelas dengan sok gaya, karena dari seluruh kelas hanya duableg team yang paling unggul di team futsal dan parkour. Ini yang menyebabkan team mereka dikenal dan digandrungi para cewek di sekolah. Ungkapan-ungkapan kekaguman sering mereka dengar. Bahkan sering mendapat secret admirer yang mengirim surat diam-diam di kotak lemari beberapa anggotanya.

Karenina yang memang cantik alami dan bisa dikatakan bintang sekolah. Hanya saja pergaulan yang salah membawanya terjerumus ke hal sia-sia. Tujuannya selain lebih famous juga merasa diakui. Akan tetapi, dia masih memiliki nurani, sehingga diam-diam tanpa sepengetahuan Daren, kekasihnya, dia sering menemui Dany. Semata hanya ingin tahu keadaan atau bertanya kenapa duableg team, khususnya Daren membullinya.

"Entahlah, mungkin aku bukan kalangan berada," terang Dany di suatu kesempatan.

Sayangnya alasan tersebut bukan mendasar, hanya tempelan untuk meloloskan pertanyaan dan berlalu pergi dari Karenina. Berhadapan dengan segala milik Daren sama halnya mencari jalan kematiannya sendiri.

"Iya, Ma, tap-tapi Dany hanya sampai di depan pintu. Kata perawat yang ada di sana Ayah dipindahkan ke ruangan ICU," suara Dany seperti sedang berbincang dengan keluarganya.

Bruak!

Suara seseorang terjatuh. Lagi-lagi Karenina hanya dapat melihat dari balik jendela ruang kimia, itu pun tidak jelas. Daren kembali menyiksa Dany, kaki Daren beberapa kali mendarat pada kaki Dany. Tak ada yang bisa Karenina lakukan selain mengumpulkan bukti diam-diam dengan merekam perbuatan mereka.

Tuhan kenapa harus diseret ke kamar mandi sih? batin Karenina sendiri. Sebab dia tak akan pernah tahu apa yang dilakukan kekasih dan teamnya tersebut.

Karenina berlari mencari bantuan, sebab dia mendengar teriakan-teriakan Dany meminta ampun kepada Daren. Dia berlari dari satu kelas ke kelas yang lainnya, hanya saja beberapa teman lelakinya tak ada yang mau membantu.

"Lebih baik cuekin ajah, dari pada urusan sama Daren, sorry, Nin," ucap salah satu dari teman lelaki yang dimintain tolong.

Okey, fix. Harus berhasil, minimal siksaan kepada Dany berakhir lebih cepat. Buru-buru gadis berambut panjang dengan mata bulat tersebut menekan angka-angka pada ponselnya, berharap seseorang menjawabnya dengan segera.

"Ren, lu di mana? Gue butuh elu," suara Karenina memelas, berharap Daren segera menemuinya. 

Padahal dari balik jendela kelas kimia Karenina masih memerhatikan dari kejauhan. Ketika ada gerakan seseorang berjalan barulah dia berlari menuju arah kelas.

"Gue di kelas, buruan ke sini, sebelum bel jam istirahat selesai," pinta Karenina pada seseorang di seberang telepon seluler.

Lorong panjang masih lenggang, beberapa murid terlihat keluar masuk kelas untuk keperluan tertentu. Dari arah kamar mandi tampak Daren  mengamati ponsel di tangan kanan dan ponsel lainnya di tangan kiri.

"Hay ... Beibz, kenapa tadi?" sapa Daren kepada perempuan jelita di hadapannya. Lelaki bertubuh atletis tersebut mengangkat kedua alisnya.

Karenina mencoba memulas senyum seriang mungkin meski dia tahu sedang merencanakan sesuatu.

"Buku tugas Mat ketinggalan, bisa anterin ke rumah, kagak?"

"Pulang ke rumah kamu? Cuman buat ambil buku tugas doang!" Alis Daren menyatu dalam satu kerutan di dahi.

"Gue males ada masalah entar di kelas," jelas Karenina lagi, "Gimana? Bisa, yekan?"

Sesaat Daren menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Senyum licik terkembang, bisa dipastikan dia memiliki rencana lain.

"Kagak usah pulang, buku tugas Mat ada di kelas,  tenang ajah!" Daren merangkul pinggang Karenina.

Sementara duableg team yang telah melakukan perundungan kepada Dany juga mengarah ke kelas. Tinggal Dany yang belum tampak batang hidungnya.

Karenina dan Daren telah di bangku dan meja mereka masing-masing, disusul duableg team. Bel istirahat telah berbunyi, siswa yang sedang di luar kelas segera menghambur masuk kelas. Tak terkecuali Dany yang terburu mengaitkan kemeja sambil duduk di bangkunya. Tampak titik lelah yang berusaha disembunyikan.

Brak!

"Siniin buku tugas Mat, lu!"

Tanpa banyak bicara Dany mengikuti perintah Daren, ia merogoh tas mencari keberadaan buku yang bersampul cokelat. Bertulisan nama Dany Hanggono. Setelah diberikan kepada Daren, dia jadi terbelalak. Tangannya mengepal seakan hendak meninju lelaki di hadapannya saat ini. Namun, ia urungkan sebab di depan kelas telah berdiri guru mapel Matematika.

Dany mencari buku apa pun sekiranya bisa untuk alibi di atas meja. Betapa terkejutnya ketika mendapati buku kotak-kotak atas nama Karenina menyatu dalam buku cetak matematika. Perlahan dibukanya satu per satu, sampai ada pesan di tengah buku tugas tersebut.

'Ada rahasia yang kalian sembunyikan, kagak mungkin elu diam terus menerus dibulli demikian. Suatu saat gue akan membongkar perbuatan Daren ke pihak sekolah. Tetap jadi diri elu sendiri, apa pun yang terjadi.'

Buku tugas matematika, catatan kecil, dan bukti-bukti perundungan. Entah apalagi yang Karenina tahu tentang Dany. Mengapa dia begitu perhatian, kepadaku? Dany bermonolog. Pelajaran hari ini usai seperti biasanya. Tanpa menyapa siapa pun dalam kelas, Dany sengaja pulang lebih cepat dari pada siswa yang lainnya, selain menghindari duableg team juga ada tugas melihat keadaan ayahnya.

***

Senja telah tertutup sempurna, bias saga telah hilang berganti kelabu yang mengiringi kepergian seseorang yang begitu berarti dalam keluarga kecil masing-masing.

Tampak para pelayat menyusut hingga tertinggal hanya keluarga besar yang berurusan. Dany tampak terguguk tak dapat membendung nestapa, dia memeluk erat nisan atas nama Hanggono Praba. Sementara puluhan mata yang masih tersisa tak luput menanti dirinya beranjak. Karenina datang bersama dengan mMmi Daren dan dua tantenya. Ada wanita berbusana syar'i melihat dari balik pohon lebih jauh terhadap Dany, anaknya.

"Masih, Jeung, malu nunjukin batang hidungnya?"

Tiba-tiba saja Mami Daren menyindir seseorang yang sedang memeluk tas yang ia bawa. Tatapannya mengarah pada sumber suara. Daren seakan terkesiap dan....

"Hentikan!" teriakan Dany memancing mata untuk melihat ke arahnya.

"Lu boleh ngebulli gue, lu boleh ngambil apa pun milik gue, tapi satu jangan sekali-kali lu berani sentuh nyokap gue!" Dany menarik napas berat, ada amarah yang diredam ya sendiri.

"Tante kalau tahu malu seharusnya kagak datang ke sini, mau diakui!" Intonasi Daren seakan ditujukan kepada banyak mata yang melihat, yang pasti ditunjukkan kepada mamanya Dany.

"Biarkan saya mendoakan suami saya, dan jangan kotori pemakaman ini dengan tindakan tak terpuji, permisi." Wanita ayu dengan mata sembab tersebut melangkah meninggalkan Daren dan ke empat perempuan yang berada di sekitarnya. Tangan Dany menggandeng wanita ayu tersebut.

Sebelum sampai ke depan pekuburan suaminya, kembali suara sumbang terdengar dari arah belakang.

"Jika urusan kalian selesai silakan pergi dari makam Papi gue!" sindir Daren yang semakin tak terkendali.

Karenina menatap kaget, mengigit kedua bibirnya sendiri. Jadi selama ini mereka berdua bersaudara?

"Cukup, Ren, gue kagak pernah balas perlakuan elu selama ini. Akan tetapi, semakin lama elu ngelunjak. Di sini siapa yang sebenarnya anak kandung dari Hanggono Purbo, coba tanya kepada Ibu Susan Permata yang terhormat, karena jawabannya ada pada beliau." Dany lantang bersuara, sementara tangan wanita ayu yang diyakini Mama Dany segera menarik tangan anaknya, dan bergegas menjauh dari makam.

"Jaga bocot lu, yaa, ngelunjak lu." Tangan Daren mendorong pundak Dany.

Keadaan semakin memanas, tidak seharusnya terjadi masalah demikian.

"Kagak usah panjang dah, tanyain sama mami elu yang terhormat, apakah dia punya buku nikah? Satu lagi, hanya istri dan anak sah yang diakui dalam negara. Jadi elu paham apa maksudnya?" Dany beranjak pergi bersama wanita ayu.

Langit semakin pekat, tatapan Daren seakan murka. Lama mengamati keadaan sekitar. Hanya pandangan kosong yang semakin menampar keegoisan diri.

Mami Daren tak sanggup menenangkan anakny, Daren berteriak kesetanan. Menganggap dirinya anak paling hina-dina dan tak ada arti. Karenina hanya mematung melihat drama keluarga yang berakhir bahagia sekaligus terluka[.]

Malang, 13 Mei 2021

#teenlite