Telat ke Sekolah

Pixabay/Enosawis

Sial. Aku bakalan telat ke sekolah hari ini. Ini sudah hampir pukul 07.00. Perasaan semalam tadi alarm sudah kuatur sepagi mungkin, tapi kenapa aku baru bangun seterlambat ini. Mungkin karena aku tidur terlalu malam, mengerjakan banyak tugas. Aku memutuskan untuk tidak mandi, hanya cuci muka dan mengenakan seragam serta sepatu, kemudian bergegas mengayuh sepeda Polygon Helios A5.0 milikku secepat yang kubisa. Kesialan selanjutnya terjadi, aku terjatuh karena terlalu terburu-buru sehingga tak melihat ada jalan berlubang. Kulanjutkan kembali sambil menahan sedikit sakit di lutut,  akhirnya aku telat tiga puluh menit.

"Kalian terlambat, Dika, Amel. Jadi hukumannya adalah kalian dilarang mengikuti pelajaran dua jam pertama dan berlari mengelilingi lapangan bola sebanyak dua puluh kali untuk Dika, kalau Amel sepuluh kali saja," kata Pak Hari--guru BK--sembari tersenyum. Beliau orangnya ramah dan selalu mengingatkan untuk taat pada peraturan. Amel juga terlambat, kelasnya bersebelahan dengan kelasku. Aku tak terlalu mengenalnya, hanya sekadar tahu nama dan wajah juteknya itu.

"Iya, Pak." Kami menjawab serempak instruksi dari Pak Hari.

"Ya sudah, silakan lari sekarang." Pak Hari menepuk pundakku.

Kami segera berlari. Ayunan kakiku sedikit lebih cepat daripada Amel.

"Woi. Jangan kenceng-kenceng, larinya biar barengan sama gue."

"Iya deh." Aku melambatkan lari.

"Lu kenapa telat?" tanya Amel.

"Ngerjain tugas sampai tengah malem, jadi bangunnya kesiangan. Kalo lu kenapa?" aku balik menanyainya.

"Kalo gue nggak tahu kenapa, pengen aja ngerasain telat dan dihukum. Seumur-umur belum pernah ngerasain."

"Aneh banget lu. Berarti ini pertama kalinya telat?"

"Nggak ding bercanda, gue telat karena tadi ban motor ayah bocor di jalan waktu nganterin aku ke sekolah."

"Hadeh kirain beneran."

Amel tertawa melihat ekspresiku, wajahnya manis sekali, ternyata dia orangnya asik juga. Kukira orangnya super jutek.

"Kalo lu pasti sering telat ya?" Cewek bertinggi sebahuku itu bertanya meledek.

"Yee. Ini pertama kalinya juga gue telat. Semoga ini juga yang terakhir." Kita lalu tertawa serempak. Pak Hari sesekali mengamati kita dari koridor.

"Lu masih kuat kan?" Aku bertanya padanya, wajahnya terlihat lelah sekali.

"Nggak tahu deh nih, semoga kuat. Tinggal satu putaran ini."

"Larinya agak pelan aja, terus atur nafasmu biar tidak ngos-ngosan."

Berlari sambil berbincang-bincang rasanya menyenangkan. Tidak terasa sudah putaran ke sepuluh. Amel berhenti karena hukumannya sudah selesai. Aku melanjutkan berlari, langkahku semakin kencang. Tampak Amel tengah duduk di kursi samping lapangan. Terkadang dia menyemangati seperti cheerleader, terkadang meledek dan teriak bahwa hukuman dia sudah selesai sementara aku belum. Ah lucu sekali dia.

Sudah putaran ke delapan belas dan kulihat Amel sudah tidak ada di bangku lagi. Entah ke mana. Matahari semakin panas, aku tetap berlari. Akhirnya selesai juga, aku duduk di rumput di samping lapangan. Nafasku rasanya nyaris habis.

"Woi. Ini buat lu." Amel datang menghampiri dengan membawa dua cup jus jeruk di tangan. Satu untuknya, satu untukku.

"Terima kasih, Mel."

"Oke. Santai."

Kita berbincang lebih banyak lagi. Hari ini menjadi hari yang sangat manis ditemani jus jeruk dan senyum cewek berlesung pipi itu.

"Ayo. Kita laporan dulu ke Pak Hari. Kita kan udah nyelesaiin hukuman." Dia berdiri. Tanganku ditariknya.

"Iya bentar dulu, gue habisin jus jeruknya dulu."

Kami tertawa lagi, lalu berbarengan berjalan ke ruangan BK. Kami juga sudah janjian akan ke toko buku dan nonton bareng saat pulang sekolah nanti.