Ada Cinta di Balik Tumpukan Celana

Ilustrasi: istimewa

Huft! Kenapa setiap menyetrika celana, wajahnya selalu terbayang ya? Nggak keren banget! Harusnya bayangan wajah ganteng itu datang bersamaan dengan rinai hujan, guguran warna-warni daun maple, atau alunan musik romantis.

Kutepuk jidat. Nggak berhasil juga mengusir senyumnya. Sepasang mata telaga dengan naungan dua lengkung tebal dan kernyitan yang khas menyembul di balik mesin jahit. Mencuri pandang ke arahku.

Hmm ... semua memang berasal dari celana. Sejak aktif di Mapala, celana panjangku selalu robek. Dan Mang Dullah adalah harapanku satu-satunya. Tangannya yang ajaib selalu berhasil menyembuhkan berpasang-pasang celana. Seberat apapun robekannya.

Minggu lalu, aku gagal menemui pemilik tempat permak jins terbaik di kota ini. Sebagai gantinya, seraut wajah ramah bernama Asep mengintip di balik tumpukan celana.

Entah mengapa, sekali tatap, adrenalinku serasa berlonjakan. Persis seperti saat menaklukan dinding paling terjal di turnamen panjat dinding. Rasanya begitu aneh. Lebih mendebarkan daripada berdiri di pinggir tebing Gunung Sumbing. Lebih menggetarkan dari duduk terombang-ambing di perahu karet saat merayapi jeram Sungai Citarik.

Ya ampun! Celanaku gosong!

Aduuh ... gimana nih! Ini celana andalan dan tinggal satu-satunya. Yang lain? Masih nangkring di jemuran.

"Pake rok aja, Ki!" ujar Tika cengengesan.

"Apa? Pake rok? Tika, kamu kan tahu aku nggak punya rok!"

"Kalo gitu pinjem punyaku aja!"

"Yang bener aja, Tika! Mosok aku pake rok kamu! Bisa-bisa seluruh cowok di kampus ngejar-ngejar aku disangka Lisa Blackpink," sungutku kesal.

Mau nggak mau harus ke tukang permak lagi. Kan, bisa menyelam sambil minum teh manis. Eits, maksudku sekalian bisa lihat wajah ganteng di balik tumpukan celana.

Maksud hati ingin ketemu Asep, ternyata yang ada cuma Mang Dullah.

"Ini, mah, nggak bisa ditunggu atuh, Neng geulis," ujar pemilik vermak itu sambil mengamati cap setrika di celana jins. "Eta si Eneng ngelamunken saha? Kok bisa gosong begini?"

Ih, si Mamang bikin malu aja. "Aduuh, tolong saya, Mang. Biasanya Mamang paling jago. Gimana kalau nanti malem?"

"Ya, udah atuh, Neng. Biar nanti malam Mamang antar saja, ya? Kasian atuh kalau Eneng kemari lagi. Anggap aja serpis buat pelanggan setia."

Malam harinya, waktu sedang asyik belajar, tiba-tiba terdengar hingar-bingar dari ruang tamu.

"Kinaaaan! Dicari pacarnya tuh!" teriak Tika dari ruang tamu. Suara cemprengnya berhasil mengeluarkan seluruh penghuni kost dari kamar masing-masing. Nyebelin banget sih, mosok Mang Dullah dibilang pacarku.

Tak lama terdengar suara berisik dan cekikian teman-teman kostku.

"Mas ganteng, deh, pacarnya Kinanti ya?"

"Namanya siapa? Boleh kenalan dong?"

"Nomor whatsapp-nya berapa?"

"Mutualan di twitter, yuk."

"Akun instagramnya apa namanya? Jangan lupa folback, ya?"

"Akun facebook-nya apa? Saya add, ya."

"Kok Kinanti nggak pernah cerita punya pacar ganteng kayak si Mas?"

Setengah berlari aku bergegas ke ruang tamu. Mosok anak-anak begitu sih, sama Mang Dullah, jangan-jangan ....

Di kursi dekat pintu masuk, terlihat Asep duduk tepekur. Ia terlihat begitu jengah dikerubutin sepuluh makhluk cantik yang mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Aku harus segera menyelamatkannya. Bergegas kuhampiri mereka.

"Apa-apaan, sih, kalian ini? Udah sono pada masuk, nggangguin orang aja!"

"Cie ... cie ... yang punya pacar baru, kenalin dong, Kinan," celetuk Rena meledek.

"Ya, udah. Kenalin nih, Asep, pacar baruku, puas? Udah sono bubar!" sahutku membubarkan kerumunan. Mereka pun langsung masuk kamar masing-masing sambil tertawa-tawa.

"Aduuh, maafin teman-teman saya, ya, Mang Asep," ujarku memohon maaf dengan perasaan sangat malu dan bersalah.

"Nggak apa-apa, Neng. Ini ada titipan dari Mang Dullah," katanya sambil bangkit berpamitan.

Dengan wajah bersemu merah kuantarkan pemuda gagah itu sampai pintu pagar tempat kost. Kalau begini caranya, bisa-bisa aku nggak berani ke tempat permak itu lagi. Hadehh!

Keesokan harinya, aku sudah duduk di kelas bersama Tika. Sebentar lagi mata kuliah Statistika I dimulai. Tiba-tiba dosen terlihat memasuki ruangan. Tumben nih, Pak Tagor biasanya selalu tiba beberapa menit setelah jam masuk.

Setelah mengucapkan salam, tiba-tiba dosen killer itu memperkenalkan diri. Lho, ngapain memperkenalkan diri lagi, dan suaranya, sepertinya bukan nada orang Batak.

"Perkenalkan saya dosen baru kalian, nama saya Asep Mulyana. Saya akan menggantikan Pak Tagor mengajar mata kuliah Statistika I"

Penasaran memandang ke depan kelas. Terlihat matanya mengernyit ke arahku. Rasanya aku mau pingsan saja. Atau berharap bisa masuk ke dalam buku. Ternyata dia, Asep, yang wajahnya menyembul di balik celana, yang kemarin dibully anak-anak di tempat kost.

***

Catatan:

Killer, galak

Mutualan, istilah untuk saling mengikuti di twitter

Add, menambahkan pertemanan di facebook

Folback, mengikuti (follow) orang yang sudah mengikuti kita di instagram

 

Sumber gambar: 1

 

.