Bisikan Malam

Anak perempuan yang mendengar bisikan di malam hari

Aroma itu lagi, busuk bercampur anyirnya darah tercium. Membuatku bangun dari tidur dan memeriksa penjuru kamar, khawatir ada bangkai cicak yang luput dari pandangan. Setelah memastikan tidak ada sesuatu dapat menimbulkan bau, aku kembali melanjutkan tidur walau terasa aneh.

"Mayra, bangun! Subuhan, Nak!" Mama memanggil dari balik pintu.

"Eehh, iya Ma. Sudah bangun, kok!" Aku menggeliat. Bayangkan, sejak pindah ke rumah ini empat hari lalu setiap malam terdengar suara aneh dan tercium aroma busuk yang tidak diketahui sumbernya.

"Ma, ada yang aneh enggak, sih, di rumah ini? Waktu itu, aku melihat ular besar, tetapi menghilang begitu saja, lalu suara seperti orang berbisik belum lagi bau busuk yang semakin tercium setiap saat," ucapku ketika sarapan bersama di ruang makan.

"Menurut Mama biasa saja, mungkin karena rumah ini lama kosong dan bangunan tua."

"Ya, Sayang enggak usah takut! Jaman sudah modern, mana ada hantu." Papa ikut menimpali pembicaraan sesekali menggodaku, anak semata wayangnya.

"Tapi, Pa ... aku jelas banget dengar suara memanggil namaku, belum lagi bau busuknya. Kenapa, sih, kita harus pindah ke rumah ini lagi?" tanyaku kembali.

Ketika Papa hendak menjawab, terdengar teriakan Mbok Tarni dari arah belakang. "Aaakkh! Tolong!"

Bergegas Papa berlari menuju suara Mbok Tarni diikutiku dan Mama. Mbok Tarni tergeletak di lantai dapur, tubuhnya dingin saat aku berusaha membangunkannya. Melihat kondisi Mbok Tarni yang mengkhawatirkan, Papa ditemani Mama membawa ke rumah sakit sedangkan aku ditinggalkan sendirian. Meski cemas dan takut, tetapi karena hari masih pagi sedikit berkurang rasa itu.

Untung saja hari ini libur sekolah jadi aku bisa bermalas-malasan. Mata sudah mulai mengantuk, seiring azan Dzuhur aku pun tertidur di sofa. Hawa dingin menggigit tulang membuat terbangun, melirik jam di dinding ternyata baru sepuluh menit mata terpejam. Tidak mau terlewat waktu salat, aku segera menunaikannya.

Ketika salat di kamar, aku merasa bulu kuduk berdiri seperti ada yang memperhatikan. Benar saja, sudut mata menangkap bayangan hitam melintas di samping tempat tidur. Belum sempat melepas mukena, bayangan tersebut bergerak cepat ke arahku yang terpaku.

"Aaaakhh!"

Bayangan itu menembus tubuhku, rasanya dingin sekali. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap.

"Mayraaa ... tolong!" Suara bisikan itu terdengar lagi, kini begitu dekat. Aku berusaha membuka kelopak mata yang terasa berat. Tak dapat bergerak, hanya bisa memandang bayangan itu menunjuk ke bawah tempat tidur, lalu menghilang. Napas terasa tersengal menyaksikan penampakan yang bisa dibilang hantu, setan, atau sejenisnya, dan ini pertama kali aku melihatnya. Netra terus menatap tempat tidur yang terbuat kayu jati. Kakiku melangkah menuju salah satu benda peninggalan Kakek, seperti halnya rumah ini.

Aku baru menyadari ternyata bentuk tempat tidur ini aneh tidak seperti umumnya ranjang yang biasa digunakan, tetapi seperti peti besar. Penasaran, kasur kuangkat tercium bau busuk yang sangat menyengat tiba-tiba terdengar suara Papa memanggil, rupanya sudah pulang dari rumah sakit. Aku berlari membukakan pintu.

"Mbok Tarni, mana, Ma?" tanyaku bingung, saat melihat hanya Papa dan Mama yang berada di depan pintu.

"Masih dirawat di rumah sakit, kata Dokter terkena gigitan ular. Mbok Tarni tidak ada saudara dan keluarga, jadi Mama akan menginap menemaninya," ujar Mama, langsung menuju kamar menyiapkan baju ganti.

"Ma, aku ikut ke rumah sakit, ya?" Jujur aku merasa takut jika tinggal di rumah sendirian lagi. Wajar, kan? Aku masih berusia sebelas tahun masih dikategorikan anak-anak.

"Enggak usah, Sayang. Nanti Papa juga balik sebelum Magrib, kamu di rumah saja, ya."

Ketakutan bercampur khawatir melanda, saat mobil yang membawa Papa dan Mama berlalu. Aku kembali teringat kalau tadi membongkar ranjang. Aku pun beranjak meninggalkan ruang depan menuju kamar. Alangkah kagetnya melihat kasur kembali ke tempat asalnya.

Rasa kantuk mulai melanda, sehingga aku membatalkan menyelidiki tempat tidur dan memilih memejamkan mata menikmati hawa sejuk karena di luar hujan mulai turun.

Sentuhan di pipi membuatku terbangun. Aku pikir Papa sudah pulang. Ternyata hanya keheningan yang terlihat saat membuka mata. Aku terhenyak mendapati hari sudah malam, melewati salat Ashar dan Magrib sehingga membuatku beranjak ingin ke kamar mandi. Namun, tubuhku tertahan sepasang tangan berlumuran darah menyembul dari dalam kasur.

"Mayraaa ... tolong, aku!" Suara berbisik terdengar di telinga. Memberanikan diri, aku pun bertanya, "Si-siapa, kau?"

"Nanti kamu akan tahu siapa aku, setelah berhasil menemukanku," ujar sosok tersebut dengan lembut. 

"Mayra!" Tiba-tiba Papa memasuki kamar, lalu langsung menuju arahku. Matanya terbelalak menyaksikan tubuhku di peluk sosok mengerikan.

Melihat kedatangan Papa, perlahan sosok tersebut melepaskan pelukannya lalu menghilang.

"Malam ini, kita tidur di hotel dulu. Besok kembali, ada yang harus diselesaikan Papa," ujar Papa. Kami pun menuju hotel dengan memakai baju seadanya. Dalam perjalanan aku menceritakan peristiwa menakutkan tadi. Papa mendengarkan penjelasanku dengan serius sesekali menarik napas panjang.

Keesokan pagi, aku dan Papa menuju rumah sakit di mana Mbok Tarni dirawat untuk menjemput Mama. Di dalam mobil, Papa menceritakan semua yang kualami di rumah. Isakan tertahan terdengar dari Mama usai Papa bercerita.

Sesampainya di rumah, terlihat beberapa orang berkerumun di antaranya Pak RT, sepertinya yang menyuruh adalah Papa.

"Bagaimana, Pak?" Apa perlu pihak berwajib didatangkan?" tanya Papa.

"Jangan dulu, Pak Bram! Kita harus memastikannya, bukan cuma berdasarkan cerita yang dialami anak Bapak," ujar Pak RT.

Aku yang mendengar percakapan mereka sedikit bingung, tetapi rasa itu terpecahkan, saat beberapa warga atas perintah Pak RT, membongkar tempat tidurku. Bau busuk menyeruak dan paling mengejutkan tergeletak kerangka manusia terbalut gaun merah muda di dalamnya.

"Anyelir!" Mama berteriak saat kerangka diangkat dan diletakkan di ruang depan.

Mama akhirnya bercerita padaku, sebenarnya pindah ke rumah ini lagi berharap bertemu Anyelir, kakakku yang menghilang sepuluh tahun lalu. Waktu itu setelah merayakan ulang tahunnya kedelapan Kak Anyelir bermain petak umpet bersama kawannya. Namun, sekian lama dicari tidak ditemukan, sehingga Kakek yang merupakan orang terkaya di desa dituduh penyebabnya. Menurut warga Kakek memelihara pesugihan ular dan menumbalkan Kak Anyelir--cucunya.

"Apa benar Kakek seperti itu, Ma?" tanyaku penasaran.

"Tidak, Sayang. Memang Kakek memelihara ular sebagai hobinya dan ular itu pergi entah ke mana sejak Kakek meninggal. Tentang tempat tidur itu tidak ada yang tahu kalau terdapat ruangan kecil di dalamnya."