Menanti Fajar

diambil dari google

Setelah kita sepakat tidak akan lagi saling menghubungi, malam ini aku menelepon kamu. Ada kekhawatiran yang tak dapat disingkirkan. Aku hafal jadwal tugas kamu di rumah sakit. Sebetulnya bukan hanya jadwal, masih banyak hal-hal lain yang aku ingat tentang kamu, lirikan dengan sudut mata kalau aku tengah memperhatikan kamu cerita, kerutan di dahi dengan alis yang nyaris bertaut bila meminta penjelasan atau gelengan kepala jika kamu merasa guyonanku konyol dan garing.

Seperti biasa kamu mulai dengan pertanyaan, "Iya, gimana?"

Dan aku tergagap. Kamu tahu itu.

"Bilang saja!" kamu tertawa kecil.

"Bukan begitu. Aku cuma mau tanya kamu sudah makan atau belum?" Aku terkekeh sambil menggaruk kepala.

"Aku sudah makan, sudah mandi dan pakai jilbab biru," suaramu renyah.

"Kok biru? Kenapa?" Aku memindahkan HP dari telinga kanan ke kiri.

"Emh... dulu ada yang ngasih tahu kalau aku terlihat cantik pakai jilbab biru," katamu pelan.

Aku menghela nafas. Soal warna favorit ini boleh dikata merupakan sebab kedekatan kami. Awalnya tidak ada yang ngeh sampai satu hari Faisal, kawan sekantor nyeletuk.

“Kayaknya sering janjian, ya?” katanya. Matanya digerak-gerakkan dengan cepat.

“Janjian apaan?” Kerut di dahi dengan alis yang nyaris bertaut itu menguasai raut muka kamu.

“Sering samaan kostumnya. Selalu nuansa biru.” Faisal menatap aku dan kamu bergantian penuh selidik.

Aku dan kamu serempak menunduk mematut diri lalu serempak pula mengangkat muka saling melirik.

“Itu tandanya sehati,” kata Faisal sambil ngeloyor pergi kali ini memasang senyum penuh arti.

Selanjutnya kebersamaan itu terjalin. Dan soal warna biru itu selalu menjadi topik obrolan.

“Aku suka laut. Penuh misteri yang tak bakal terselami,” katamu sembari mengaduk teh manis hangat di kantin saat istirahat siang, “juga biru.”

Lantas rumah sakit tempat kamu bekerja mengakhiri kontrak kerjasama dengan perusahaan jasa tempatku mencari nafkah. Kita semakin jarang ketemu. Jarak pun terasa terus merenggang. Hingga akhirnya keputusan itu diambil. Kita menempuh jalan masing-masing, menyimpan kenangan rapat-rapat dan ditutup dengan basa-basi suatu saat cerita bisa berlanjut. Siapa tahu.

Hening sejenak.

"Bagaimana perkembangannya sekarang?" tanyaku.

Maka berceritalah kamu tentang wabah Covid 19 itu, jumlah orang terpapar, ketakutan dan saling curiga yang terus bertambah. Cuma persediaan obat, alat kesehatan dan harapan yang kian menipis.

"Maut terasa dekat. Ketidakpastian semakin menjauh," katamu.

"Emh... kamu mesti hati-hati. Gunakan semua ilmu kesehatan yang kamu miliki buat jaga diri!" aku mencoba tertawa.

“Kamu juga.” Suara kamu terdengar lirih.

"Ada waswas yang senantiasa terasa," katamu lagi.

"Apa itu?" tanyaku cepat.

"Jangan geer, ya! Aku memikirkan kamu," kamu nyaris berbisik.

"Aku baik-baik saja." Aku menunduk membuat lingkaran dengan ujung sepatu.

Kamu terdiam.

"Layar HP-ku menunjukkan pukul 01.35," kataku.

"Maksudnya?" tanya kamu.

Aku tersenyum membayangkan kerutan dahi beserta tautan alis itu.

"Itu artinya kamu mesti segera istirahat," jawabku.

"Shift malam sampai subuh. Sebentar lagi," katamu.

"Emh...." aku memindahkan HP lagi.

"Kenapa?"

"Gak apa-apa," kataku.

"Bilang saja!"

"Emh, aku jemput, ya?" akhirnya kalimat itu pun meluncur.

"Boleh tahu alasannya?" tanya kamu kembali.

"Cuma buat memastikan kalau kamu beneran pakai jilbab biru," aku tergelak.

"Haha, yakin? Emang masih ingat alamatnya?” tanyamu.

“Kan bisa nanya Abang Becak, kayaknya masih ada yang mangkal tuh.”

“Oke aku tunggu," jawabmu.

Aku menghela nafas lega. Malam melarut. Sunyi merambat hingga ke ujung runcing rerumputan. ***

GA10052021