Kisah Malam Mira

ImelPicsArt

Kampung halaman ibu belum dicapai PLN. Mereka tidak memiliki sumber penerangan utama selain genset swadaya yang hanya aktif sejak maghrib hingga pukul sebelas malam. Bagi penjual yang ingin membekukan es batu dan daging, memiliki mesin pribadi adalah sebuah keharusan.

Sekarang sudah lewat tengah malam. Hanya satu lampu berbaterai itu yang menyala, tepat di tengah-tengah ruang tamu. Pintu kamar dibiarkan terbuka agar cahaya bisa menerobos masuk. Aku, yang hidup di kota dengan listrik 24 jam, pun merasa tidak terbiasa.

Pengap. Permukaan dinding seakan-akan berubah warna. Sudut ruangan dan langit-langit dihuni gumpalan hitam mirip asap dari pembakaran karet.  Entakan kepala cecak semakin jelas dan menyerupai ketukan jari berkuku panjang di atas plafon.

Di luar rumah, suara burung hantu bersahutan. Kadang jauh, kadang dekat. Sayup-sayup di telinga, namun terasa tepat di atas kepala. Aku beberapa kali melepas headset dari telinga karena seseorang memanggil namaku, atau sekadar menyerukan “Oi!”  di antara alunan musik hip hop.

Paranoia, hal ini menyerang karena aku sedang sendirian di rumah.

Kedekatan antar warga di sini persis dengan yang ibu ceritakan selama ini. Sakit, kematian, kelahiran, pernikahan. Jika kejadian-kejadian istimewa muncul, maka warga tanpa pikir panjang bakal mengangkat bokongnya untuk bertandang.

Anak dari sepupu ibu melahirkan. Kakek, nenek, dan ibu pergi ke sana sejak pukul sembilan tadi. Karena malas, aku memilih tinggal. Dan, aku menyesali keputusan itu sekarang. Detak jantungku tidak bisa diajak bekerja sama.

Saat genset masih hidup, atmosfer horor ini tidak terbayangkan sama sekali.

Kerongkongan kering, perut melilit, dan sensasi dingin mengendap di titik-titik tertentu tubuh. Di puncak kening, tengkuk, belikat, ujung jemari tangan, dan betis. Aku ingin kabur saja rasanya.

Lalu, ponsel bergetar di atas perut. Aku terlonjak di tempat tidur. Nama ibu muncul pada layar.

“Ibu?? Hah, kaget aku.”

“Kamu bisa ke sini, enggak?”

“Ke mana?”

Tolong jangan minta aku menyusul kalian.

“Ke rumah tantemu.”

Aih!

“Tapi, Bu, ‘kan gelap dan jauuuh.”

“Alah! Apanya yang jauh. Tiga ratus meter aja enggak nyampe. Lagian, lampu jalan ada kok.”

“Lampunya jarang-jarang gitu.”

“Bawa aja senter. Penting ini, Mira.”

“Kenapa enggak siapa gitu yang ke sini? Memangnya Ibu perlu apa?”

“Di sini orang-orang pada sibuk.”

Aku hampir menangis. Tetapi, aku mungkin bisa menjadikannya alasan untuk menyusul mereka. Sendirian di sini bisa-bisa merusak kinerja jantung.

“Iya, Ibu butuh apa?”

“Korset. Kakakmu udah melahirkan, jadi dia mau dipakaikan korset.”

Aku bangkit. “Ditaroh di mana?”

“Di laci bufet nenekmu. Bentar … Ah! Di laci nomor tiga, katanya.”

“Ya udah, nanti aku cari, terus langsung nyusul ke sana.”

“Kamu masih ingat ‘kan rumah tantemu yang mana?”

“Masih. Baru juga kemarin kita ke sana.”

“Enggak perlu buru-buru, Nak.” Bunyi bip mengakhiri panggilannya.

Tidak sulit mencari benda yang ibu minta. Ada dua jenis korset di sini, yaitu kain hitam berbahan lentur sepanjang tiga meter –labelnya mengatakan demikian- dan yang pendek dan memiliki pengait. Korset panjang ini digulung rapi. Keusangan kain menunjukkan usia.

Keduanya kumasukkan ke dalam tas kecil bersama-sama senter. Setelah memeriksa dapur dan mengunci pintu, aku berjalan seorang diri di jalan bersemen rusak. Angin menyapu tubuh hingga mendesakku merapatkan jaket.

Gelap. Dari deretan rumah yang kulalui, hanya ada satu-dua saja yang menghidupkan lampu teras dengan menggunakan tenaga listrik dari aki. Sepi. Bahkan suara hewan peliharaan tidak terdengar saat ini.

Keadaan semakin diperparah oleh sandal plastik basah yang kupakai. Setiap melangkah, lapisan berairnya menciptakan suara ganda. Aku seolah-olah sedang diikuti oleh seseorang.

Sial.

Omong-omong, kesialan sejati baru akan dimulai. Ingatanku yang mudah teralihkan harus disalahkan. Bagaimana aku bisa lupa pada area pemakaman di sana?

Setelah melewati sekitar sepuluh rumah, aku bakal bertemu salah satu lokasi pemakaman umum desa. Tidak luas, tapi sangat mengintimidasi. Pagar pembatas kosong, penerangan pun nihil, dan tidak ada rumah di sekitarnya.

Kupeluk erat-erat tas berisi korset. Ponsel juga sudah kumasukkan ke dalamnya. Aku lebih dari siap untuk melakukan sprint.

Mungkin berjarak tidak sampai lima puluh meter, aku hanya perlu berlari sejauh itu. Mari berhitung. Dua, tiga!

Sepasang langkah kaki yang mengikutiku terdengar semakin cepat. Walaupun aku tahu apa penyebabnya, perasaan terdesak itu tidak mau lenyap. Aku bersumpah, besok sandal ini akan masuk ke pembakaran sampah.

Ini dia. Area pemakaman. Kegelapan bercampur sedikit sinar bulan menciptakan lebih banyak gumpalan hitam yang menempel pada titik-titik yang tidak terkena cahaya, seperti bagian bawah pohon dan celah lapisan semak.

Aku berlari sambil menahan napas.

Dalam sekejap, tempat mengerikan itu sudah kutaklukan. Ketika aku memelankan laju kaki, keringat dingin melumuri dahi dan punggung. Dada kembang-kempis dan terasa sakit saat bernapas.

“Ayun, anakku di ayunan. Ayun, ayun, anakku diayun.”

Nyanyian lembut seorang wanita muncul dari arah kananku.

“Ayun, anakku di ayunan. Ayun, ayun, anakku diayun.”

Nyanyian itu menyihirku. Tubuh mendadak tidak bisa digerakkan. Aku bergeming sekitar tiga meter sebelum mencapai lampu jalan. Rantai gaib melilit pergelangan kaki. Dari sudut mata, tampak deretan pohon pisang memagari sisa makam. Dua-tiga batu nisan mencuat di antara temaram.

“Ayun, anakku di ayunan. Ayun, ayun, anakku diayun.” Nyanyian yang diselingi gumaman lembut itu berlanjut.

Karena tidak bisa berlari, aku harus puas dengan berjalan selambat kura-kura. Dua langkah seakan-akan memakan seluruh sisa usiaku. Sungguh menakjubkan karena belum juga roboh ke tanah, lalu hilang kesadaran. Aku memang tidak mudah pingsan.

Dari arah depan, sorot lampu sepeda motor melepas tekanan gaib pada persendian. Semakin mendekat kendaraan tersebut, semakin mudah langkahku.

“Mira!” Itu suara ibu.

“Ibuuuu,” rengekku.

Ibu sedang mengendarai sepeda motor milik kakek. Wajahnya tampak bingung. Dia setop tepat di dekatku. “Mau ke mana kamu?”

“Mau nyusul Ibu ke rumah tante.”

“Lho, kenapa enggak kasih tahu Ibu tadi? Bisa aja ‘kan Ibu jemput sekalian.” Dia tersenyum.

Kalimat selanjutnya tersangkut di kerongkongan. Aku harusnya sudah bisa memahami situasi ini hanya dengan mendengar pertanyaan pertama ibu.

“Kakakmu perlu korset, makanya Ibu balik bentar ke rumah. Gimana? Kamu mau ikut pulang, atau duluan ke rumah tante?” lanjutnya.

Tanpa berpikir terlalu lama, aku langsung berlari menyusul kakek dan nenek. “Aku duluan ajaaa.”

Ibu tergelak. “Iya, iya, nanti Ibu ke sana sekalian bawa selimutmu.” Mesin tua sepeda motor itu menggeram, lalu bergerak menjauh.

Teras rumah tante akhirnya terlihat. Jalan masuk di halaman mereka agak licin karena penyemenan jalan tidak mencapai tanah pribadi warga.

Lampu-lampu bersinar terang. Baik di luar maupun dalam rumah, lampu menyala berani. Beranda dipenuhi tamu laki-laki, sementara para wanita terlihat duduk berkerumun di dalam. Beberapa dari mereka sibuk mondar-mandir membawa minuman di atas nampan.

Aku masuk tanpa malu-malu. Beberapa laki-laki seumuran ayah menyapa, tapi hanya kujawab seadanya. Degup jantung dan jalan pikiranku belum bekerja dengan normal.

“Itu Mira, Ri!” seru seseorang.

Nama ibuku Meri, dan nenek adalah Riah. Salah satunya bisa semakin merusak kondisi mentalku.

“Katanya enggak mau ikut.” Ibu tersenyum ketika kami bertemu pandang “Sini, Nak, duduk sini.”

Menggunakan dagu, ibu menunjuk lantai di samping sepupuku yang baru saja melahirkan. Di pangkuannya, bayi merah dibelit jarit tampak gelisah dan sesekali merengek.

_

“Kisah. Nyata atau tidak, kalianlah yang menentukannya.”

Kisah lainnya: "Kisah Aroma"