Kromo

Rombongan pembawa keranda yang misterius, disebut Kromo atau Kromoleo

"Nduk, bangun, wis, Magrib!" Mbok Retno, mengetuk pintu kamar Sekar---anak perempuannya.

Sekar menggeliat. Namun, tertidur lagi.

Mbok Retno mengetahui Sekar belum bangun. Ketukan yang tadi pelan berubah menjadi gedoran.

Dok! Dok! Dok!

"Tangi, Nduk. Mbok, ndak mau, kamu nanti digondol Kromo!" teriak Mbok Retno.

Mendengar Mboknya mengucap kata Kromo. Sontak, Sekar membuka mata dan berteriak, "Yo, Mbok, aku sudah bangun!"

Ancaman Mbok Retno, tentang Kromo berhasil. Kromo merupakan momok menakutkan di daerah tempat tinggal Mbok Retno.

"Aaah ... kalau bangunin, jangan bawa-bawa nama makhluk itu, Mbok. Medeni!" ucap Sekar, saat dirinya keluar dari kamar.

"Oalaah, bocah satu ini! Wis, sana, salat! Magrib sudah mau lewat!" Mbok Retno melotot mengetahui Sekar menggerutu.

Meski malas, Sekar bergegas mengambil wudu lalu menunaikan salat Magrib.

"Sekar, kemari, Nduk!" teriak Mbok Retno, sambil memasukan beberapa penganan ke dalam kantung hitam. Sekar yang sudah selesai salat, tergopoh-gopoh mendatangi Mbok Retno.

"Opo, Mbok?" Tangan Sekar langsung mencomot gendar goreng yang terlihat menggiurkan. Mbok Retno menggeleng melihat kelakuan anaknya.

"Iki, loh, antarkan ke rumah Bu Surti, yo! Katanya mau buat cemilan cucunya yang baru datang dari kota," ucap Mbok Retno, seraya memberikan kantung hitam kepada Sekar.

"Siap, Mbok Bos!" ucap Sekar dengan tangan kanan ditaruh di samping kepala, layaknya tentara.

Kali ini, Mbok Retno tertawa melihat tingkah polah Sekar yang terkadang susah dinasihati, tetapi sebagai anak satu-satunya selalu ada ketika Mbok Retno memerlukannya. Apalagi semenjak Pak Karjo--suaminya--meninggal lima tahun lalu. Sekarlah penghibur duka lara. Mata Mbok Retno berkaca-kaca memandang punggung Sekar berlalu dari pandangan.

Sekar mengayuh sepeda menikmati udara malam. Sejak pandemi melanda, dia hanya berdiam diri di rumah, membantu Mboknya. Entah sampai kapan, mungkin saat seragam sekolah putih birunya menjadi sempit tak layak dipakai.

Kayuhan sepeda Sekar, terhenti saat rombongan warga melintas di jalan yang akan dilewatinya.Terlihat keranda berisi jenasah dibawa menuju pemakaman desa.

Sekar bergidik, ketika rombongan pengantar jenasah serempak menatapnya dengan pandangan mengerikan.

Deg!

Jantung Sekar berdegup kencang, teringat kisah Kromo setan pembawa keranda yang sering diceritakan Mboknya.

Keringat dingin mengalir deras, membasahi pakaian yang dikenakan Sekar, ketika rombongan tersebut berbelok menuju tempatnya berdiri. Setelah dekat, terlihat dua orang didepan adalah sosok yang dikenal.  Suami istri, Pak Darmin dan Bu Tumini. 40 hari lalu, sepeda motor yang ditumpangi tertabrak truk. Mereka meninggal di tempat.

"Melu, ora, Nduk Ayu?" tanya sosok Bu Tumini, saat melintasi Sekar yang berdiri terpaku. Bu Tumini tersenyum, lalu memberi tanda pada rombongan untuk berhenti.

Tubuh Sekar diangkat Pak Darmin, lalu di masukan ke dalam keranda. Sekar telah terhipnotis kata-kata dari sosok Bu Tumini sehingga mau dimasukkan ke dalam keranda. Kini, Sekar tersadar, tetapi tidak bisa bergerak, sedangkan di dalam keranda terasa panas sekali.

Tibalah di area pemakaman. Keranda diturunkan dengan Sekar masih di dalamnya.

"Bangun, Nduk. Lihat sebelah sana!" perintah Bu Tumini pada Sekar yang masih dalam posisi  berbaring. Mata Sekar terbelalak melihat Pak Darmin diseret makhluk berjubah hitam. Tubuh Pak Darmin dicambuki sedangkan lidahnya ditarik hingga memanjang dan putus.

Sekar menjerit ketakutan dan menangis.

"Itulah, hukuman bagi, penjudi dan suka berbohong, Nduk." Saat mengatakan hal itu Bu Tumini menitikkan air mata.

Makhluk berjubah hitam beralih menarik Bu Tumini, menjauh dari keranda. Rintihan kesakitan terdengar, ketika Bu Tumini diperlakukan sama seperti Pak Darmin. Memang suami-istri itu terkenal di desa sebagai penjudi ulung.

Tangisan Sekar bertambah kencang, saat makhluk berjubah hitam mendekat. Teringat ucapan Mboknya, untuk membaca doa dalam keadaan apa pun meminta perlindungan pada sang Khalik. 

"Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah, tolonglah hambamu ini!" teriak Sekar, dilanjutkan membaca surah dalam Al-Quran yang sering dibaca, walau dipaksa Mboknya.

Tiba-tiba keranda terangkat terbang menjauhi area pemakaman. Sekar berdoa sambil memejamkan mata.

Keranda mendarat di depan rumah Sekar. Kini, dia bisa menggerakkan tubuhnya. Berlari masuk ke rumah. Disambut pelukan Mbok Retno.

"Huhuhuhu ... Mbok, ta-tadi aku dibawa Kromo. Mulai saat ini, aku ndak mau melawan Mbok, akan rajin salat dan mengaji tanpa diperintah lagi." Sekar menangis dipelukan Mbok Retno yang tersenyum penuh misteri.

Ket.
Nduk.          Anak.
Medeni.      Takuti
Iki.               Ini
Wis.             Udah/sudah
Melu.          Ikut
Ora.             Enggak/ tidak