Mencari Batu Kameumeut di Situs Wisata Batu Kuda Manglayang

Situs Wisata Batu Kuda Manglayang-Galeri Ani Wijaya

Sebagai pecinta alam sejati, hasrat untuk menjelajahi selalu saja menggelora. Tak peduli seberapa jauh jarak ditempuh, setinggi apapun harus didaki. Terutama gunung yang masih menyimpan misteri. Kami pasti tergerak untuk menaklukan. 

Gunung Manglayang dengan tinggi sekitar 1800 mdpl ternyata masih menyimpan banyak kisah misteri yang belum terungkap. Salah satunya adalah rahasia situs Batu Kameumeut. Konon lokasinya berada di seputaran Batu Kuda sampai Batu Keraton. Namun tak seorang pun tahu letak titik yang tepat.

Batu Kameumeut ini diburu oleh pasangan kekasih yang menginginkan cinta sejati. Selamanya dipersatukan hingga maut memisahkan. Tentu saja para pencarinya rata-rata adalah pasangan muda. 

Maka untuk itu, hari ini kami berempat-para jombloer sejati-memacu kendaraan roda dua. Sayang sekali, tepat di area masuk Batu Kuda, hujan mengguyur jalur Cibiru Wetan. Padahal kami berniat langsung melakukan pendakian. Akhirnya kami harus menahan diri dan berteduh di sebuah gubuk penjual kopi. 

Sebenarnya, ini salah kami yang memilih berangkat menjelang senja. Sebab tak sabar ingin segera melihat bukti nyata tentang sasakala batu kuda dan situs batu-batu lain yang tersebar di seluruh Gunung Manglayang. Kabarnya juga, bila ingin melihat jutaan berlian menghiasi kota Bandung saat malam. Maka dari sinilah tempat yang paling tepat.

Empat gelas kopi hitam tubruk terhidang. Aroma khasnya menguar, kami segera menyesapnya perlahan. Ditambah beberapa potong gorengan yang juga masih panas. Tanpa terasa gelap mulai menyergap.

Tanpa kami sadari seorang perempuan hadir. Ia duduk menghadap ke arah hutan pinus. Hingga kami hanya dapat melihat bagian punggungnya. Sama-sama seorang pendaki, ucapku dalam hati.

"Hujan selalu turun untuk membawa kenangan, sebab kabarnya air memiliki ingatan," nada suaranya terdengar amat lirih. 

Kami seperti sepakat untuk mendengar kalimat selanjutnya. Hening. Gadis itu meneruskan kisahnya, "lihat, seakan ia hanya beberapa langkah di depan. Dan kita pikir dapat dengan mudah menerobos masuk. Mendaki dalam sekejap, lalu sampai di puncak."

Ia menghela napas dalam-dalam. Lalu melepaskan perlahan. " Lupa, meski serendah apa pun, gunung selalu menyimpan misteri. Dihuni arwah-arwah yang diutus untuk memberikan peringatan. Sebagian berbaik hati menunjukkan jalan, sedangkan yang lainnya berniat menyesatkan."

Isaknya mulai terdengar. Beberapa kali tangannya terlihat menyeka bagian mata. Rintik hujan telah berganti angin dingin. Membuat seluruh tubuh seketika merinding. Demi mengusir dingin, sambil tetap mendengarkan kami berusaha menyesap kopi tanpa suara. 

o0o

"Siapa sih yang bisa tersesat di gunung secetek itu?" Sergahku sambil mencibir, demi mendengar peringatan dari Awang tentang bahaya mendaki gunung bagi pemula. 

Sebenarnya aku menyukai Awang karena dia adalah penjelajah alam sejati. Atau mungkin sesungguhnya aku mulai mencintai pegunungan karena Awang akan ada di sana. Bersamaku.

"Kenapa harus hari ini, An? Juru kunci pasti sudah menggembok gerbang masuk, sebab ini adalah hari larangan. " 

"Ya, pokoknya harus. Apa orang seperti kamu masih percaya dengan pantangan atau hari baik. Hal-hal sepele semacam itu?"

Ia mengembuskan napas kuat-kuat. Aku tahu Awang kesal, karena terpaksa meluluskan permintaanku.

Sore itu kami berboncengan menggunakan motor binter klasik miliknya. Namun, gerbang masuk Situs Batu Kuda telah terkunci. Dan sudah tak ada sesiapa pun di pos penjagaan. 

"Sudah kubilang, kan!" 

"Ada jalan lain. Kau bilang selalu ada ribuan jalan lain memasuki gunung." 

"Jalan setapaknya terlalu terjal, licin, waktu yang dibutuhkan lebih lama dan gelap. Nanti kamu …."

Aku tetap bertahan, sebab selalu tahu bahwa pada akhirnya ia akan menuruti permintaanku. Benar saja, jalan lain yang kami pilih teramat sempit. Hanya bisa dilalui satu orang saja. Sepertinya ini adalah jalan yang biasa digunakan penduduk untuk mencapai ladang mereka.

"Apa kita sudah sampai di puncak? Aku bersorak sambil tak melepas tatap dari pemandangan di arah berlawanan. Warna jingga memulas kaki langit. Dan aku bagai bermandi cahaya mentari senja."

"Kita baru sampai di situs Batu Kuda," Awang mendelik, kekesalannya belum hilang.

Aku mengamati batu besar yang konon dikatakan sebagai kuda semprani yang jatuh dan terperosok. Terlalu besar untuk kepala seekor kuda. Lalu bagaimana  bisa memastikan situs Batu Kameumeut? Salah satu napak tilas dari ratu dan raja pengendara kuda semprani yang terjebak. 

Mereka semua berubah jadi batu yang meninggalkan tuah. Konon apabila ada sepasang kekasih dapat menemukan situs kuno Batu Kameumeut ini. Maka, akan berjodoh dan dipersatukan selamanya.

"Sudah cukup puas, An? Kita bisa segera turun!"

Aku menyambar tangannya untuk segera meneruskan perjalanan. Semakin tinggi. Semakin kulihat pemandangan menakjubkan di bawah sana. Hingga aku memilih jalan mundur. Sambil tak henti bercerocos.

"Perhatikan! Gunungnya ada di depan. Jangan terlampau sering melihat ke belakang." 

Dan aku memilih tak mendengarkan. Sampai kurasa sosok Awang tak terlihat di mana pun. Tak juga memperoleh jawaban meski menyerukan namanya berulang-ulang. Di tengah rasa panik dan bingung untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Terdengar suara dari arah atas memanggil namaku. Dia, pasti sengaja mempermainkan aku. 

"Awang! Jangan bercanda…." 

Aku melangkah naik, kemudian kembali turun mengikuti arah suara. Begitu terus berulang-ulang. Hingga aku hampir kehabisan napas. Sedangkan tak tersisa lagi air minum untuk sekedar mengusir keringat dingin. 

Kelebatan bayangan yang melesat ke arah hutan pinus, membuatku turut menerobos masuk. Sambil tak henti memanggil Awang. Namun hanya gema yang terdengar, seakan  mengolok suaraku yang parau. Menahan tangis.

Tanpa tahu arah yang dituju. Akhirnya tubuhku terperosok lalu berguling hingga beberapa kali. Terdengar suara berderak diiringi nyeri luar biasa yang membuatku menangis sejadi-jadinya. Membangunkan para makhluk malam yang bergeming meski aku berteriak meminta tolong. 

Kedua lengan yang masih dapat digerakkan aku gunakan untuk menyeret tubuh. Hingga pada akhirnya aku menubruk sesuatu. Awang, ini tubuh Awang yang tergolek tanpa daya.

Kulit wajahnya terasa begitu dingin saat bersentuhan dengan pipiku. Tak ada desah napas, tak dapat kurasakan irama jantungnya. Aku menyerah, tak ingin berbuat apa-apa. Kecuali memeluk tubuhnya yang kian kaku. Berharap sisa-sisa kehangatan yang kumiliki dapat memanggil jiwanya kembali. 

Air mataku mengering. Setitik cahaya yang datang dari arah langit mendekat. Semakin lama, kian jelas terlihat bentuknya. Seekor kuda putih, membentangkan sayap. Menjemput aku dan Awang yang serta merta naik di atas punggungnya. Kami dibawa terbang jauh mengangkasa. Melayang menjelajahi luasnya langit.

Lalu, turun dengan kecepatan tinggi dan terperosok. Entah, berapa lama waktu berlalu sampai pada saat kami ditemukan. 

o0o

"Aa aa, teh.  Mau nambah kopi lagi apa gimana?" Tanya Mamang penjaga kedai membuyarkan keheningan.

"Eh, boleh Mang! Teteh yang tadi duduk di sini ke mana ya?"

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada seorang pun, kecuali kami tentu saja.

"Dari tadi juga cuma ada kita aja di sini mah, Den. Apanan gerbang juga sudah ditutup dari tadi."

Kami terkesiap. Tanpa banyak berkata-kata, niat semula untuk mendaki saat ini juga kami ubah. Sesuai arahan penjaga pos sebelumnya. Malam ini terpaksa dihabiskan di pondok singgah. Markas relawan SAR sekaligus pusat informasi. 

Aku menyusuri tulisan papan pengumuman yang sebagian besar berisi tentang kegiatan di kawasan Batu Kuda. Beberapa tulisan memuat peringatan untuk selalu berhati-hati. Sebab banyak pendaki yang menyepelekan Gunung Manglayang karena tingginya tak sampai dua ribu meter. 

Beberapa foto korban jiwa terpampang dengan kalimat pembuka yang memilukan. Aku lalu menghentikan tatap pada dua buah foto yang berdampingan.

 

Awang 1977-2000

Ariana 1979-2000

 

[Awg]

#wisatamisteri