Kasih Tak Sampai di Taman Remaja Surabaya

Ilustrasi, IDNtimes.com

Aku merasa senang bisa berada lagi di kota kelahiran, setelah sekian lama menuntut ilmu di tempat nun jauh. Kota pahlawan dengan sejuta kenangan. Hampir di setiap sudutnya aku pernah menikmati masa remaja yang indah bersama teman-teman. 

Tiga hari berlalu sejak kedatanganku di rumah. Rasa bosan mulai menghinggap. Apalagi ponselku sudah mulai rusak, baterainya seringkali cepat habis. 

"Ma, beliin aku hp baru ya," rayuku pada mama. 

"Emang kenapa dengan hp kamu, rusak lagi?" selidik mama.

"Iya nih, baterainya udah sering lowbat, Ma. Tenang aja, minggu depan kan aku udah mulai kerja. Nanti kalo udah gajian aku ganti deh uangnya."

Mama mendesah pelan. Tapi kemudian semburat senyuman muncul di bibirnya. Perempuan yang paling kusayangi itu tak akan bisa menolak permintaan putri semata wayangnya ini. 

"Ya udah, nanti Mama anter beli hpnya," ujar mama kemudian. 

"Nggak usah, Ma. Aku pergi sama Serli aja," sergahku. 

"Emang mau beli di mana?"

"Aku mau beli di Hi-Tech Mall, Ma. Serli punya teman di sana, jadi biar dapet harga murah hehehe."

"Alah kamu ini kebiasaan cari diskonan. Ya udah ati-ati kalo pergi," pesan mama. 

"Ok, Ma."

*****

Senja mulai berganti malam. Aku memesan ojek online, setelah memastikan Serli bisa menemani membeli ponsel. Kami bersepakat untuk bertemu di depan Taman Remaja Surabaya yang bersebelahan dengan Hi-Tech Mall. 

Setelah memakan waktu hampir dua puluh menit, aku sampai juga di depan Taman Remaja Surabaya yang terletak di jalan Kusuma Bangsa itu. Aku pun turun dan membayar ongkos ojek. Serli belum menampakkan batang hidungnya. Sahabatku sejak SMP itu ternyata sudah mengirim pesan melalui aplikasi berwarna hijau. Dia akan datang agak terlambat. Mau tak mau aku harus menunggu. 

Pandanganku tertuju pada suasana di dalam Taman Remaja. Lampu-lampu yang kurasa tadi gelap mendadak menjadi terang dengan berbagai warna. Aku jadi ingin masuk. Teringat dulu seringkali bisa ke tempat itu dengan gratis karena punya seorang kenalan yang bekerja di sana. 

"Hanna."

Sebuah suara mengagetkanku. Seorang pria dengan seragam security memanggil namaku dengan begitu jelas. Aku memicingkan mata, sambil mengingat-ngingat siapa orang itu. 

"Masih ingat kan sama aku?" tanya pria itu.
 
Kubaca sebaris nama yang menempel di dada seragam security itu. Rio Sandias. Ya aku ingat nama itu. Dialah seorang kenalan yang sering membiarkanku masuk ke Taman Remaja Surabaya ini dengan gratis.

"Mau masuk?" tawarnya. 

Aku semringah. Lupa bahwa aku harus menunggu Serli di depan pintu gerbang taman hiburan itu. 

"Boleh ya, gak bayar kayak biasanya kan?" gurauku. 

Pria itu mengangguk lalu menggandeng tanganku. Kami pun sudah berada di dalam taman itu. Suasananya masih sama seperti lima tahun silam, saat aku terakhir ke sana. Cuma kali ini lebih sunyi. 

Kulihat sekeliling, tak banyak pengunjung di sana. Dan biasanya ada panggung hiburan yang diisi oleh musisi dangdut. Kali ini juga tampak lengang. Setiap wahana tampak beroperasi, padahal beberapa diantaranya tidak ada yang naik. Bulu kudukku tiba-tiba meremang. 

"Mau naik apa?" tanya Rio memecah keheningan.

Aku meringis sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Seingatku dulu begitu antusias dengan semua wahana yang ada di sana. Apalagi twin dragon yang berayun maju mundur dengan kecepatan yang lumayan memacu adrenalin. 

"Entahlah, lama nggak pernah ke sini aku jadi bingung mau naik apa," jawabku dengan ragu.

"Mau masuk ghost house?" tawarnya lagi. 

Aku menoleh ke area bertuliskan ghost house yang jaraknya beberapa meter dari tempat kami berdiri. Aku bergidik ngeri. Seketika ingatan melayang pada saat pertama masuk ke sana. Ada hantu pocong, peti mati yang terbang sendiri, bahkan ada hantu yang mencolek lenganku kala itu. Meskipun tahu semua itu cuma buatan, tapi membayangkannya saja sudah membuatku takut. Apalagi ada hantu tanpa kepala juga. Lebih baik tidak mengulang lagi untuk melihat hal yang sama, pikirku. 

"Atau mau makan arum manis?" Lagi-lagi Rio menawarkan sesuatu yang tidak kusukai. 

Aku menggeleng. Di dekat kami ada seorang gadis kecil kira-kira berusia lima tahun, menarik perhatianku. Dia sedang menikmati gula berbentuk kapas itu dengan khidmat. Tiba-tiba anak kecil itu menoleh ke arahku, tatapannya begitu tajam, wajahnya juga tampak pucat. Aku langsung memalingkan wajah darinya. Perasaanku jadi tidak karuan. Rasanya ingin pergi dari tempat ini. 

"Aku pergi aja deh," ucapku dengan gelisah. 

"Lho belum naik apa-apa kog udah mau pergi. Kita ngobrol sebentar aja kalo gitu," pinta Rio. 

Aku pun mengiyakan karena merasa tak enak. Kami duduk di salah satu bangku yang ada di sana, dan bercengkerama mengenang saat dulu masih sering bertemu. Pria berwajah manis itu mengungkapkan perasaannya padaku. Aku tertegun. Karena tak ingin suasana menjadi beku, aku pun berdiri lalu minta untuk naik mono rail. 

Rio menuruti permintaanku. Aku naik sendirian, karena dia tak mau menemani. Sepertinya dia kecewa dengan sikapku yang abai. 

Susunan besi panjang berbentuk ulat berwarna hijau itu mulai melaju. Tiba-tiba gerimis turun lalu menjadi hujan yang gemericik. Aku berteriak memanggil nama Rio. Pria itu tak menyahut, dia hanya geming menatapku. Wajahnya menyeringai dan berubah menakutkan. 

"Turunkan aku dari sini!" teriakku. 

Rio tetap tak menghiraukan aku yang mulai ketakutan. Aku mendengar suara tawa anak kecil. Rupanya gadis cilik yang makan arum manis tadi sudah berdiri di tengah rel. 

"Aahhh."

Aku berteriak sekencang-kencangnya, berharap ada orang lain yang akan menolong. Tapi pandanganku tiba-tiba gelap setelah merasa mono rail telah menabrak sesuatu.

*****

Keesokan harinya aku terbangun di antara puing-puing besi. Mono rail yang kunaiki semalam ambruk. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, setelah mendapati Serli dan mama menangis. Ada beberapa orang juga yang berkerumun di sekeliling kami. 

Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Menurut keterangan Serli, semalam dia mencari-cari aku di tempat kami janjian ketemu. Bahkan dia menelepon berulang kali tapi tak terjawab. Padahal ponselku tak berdering sama sekali waktu itu. 

Mama pun mulai panik karena sampai tengah malam aku tak kunjung pulang. Hingga akhirnya ada yang berinisiatif untuk masuk ke dalam Taman Remaja Surabaya pagi ini. Dan aku ditemukan pingsan di antara tumpukan besi wahana mono rail yang sudah hampir berkarat. 

*****

"Masak kamu nggak tau sih kalo TRS itu sudah tutup  setahun yang lalu. Ngapain juga kamu masuk ke sana," cecar Serli setelah sampai di rumah. 

"Ya mana aku tau. Aku emang nggak pernah update berita di Surabaya. Kamu juga nggak pernah cerita. Lagian ngapain juga kamu ngajak ketemuan di tempat itu. Kenapa nggak janjian aja di dalam Hi-Tech Mall," ujarku kesal. 

"Ya udah aku minta maaf. Sekarang kamu istirahat aja deh." Serli pun meninggalkan aku sendirian di kamar. 

Aku masih ngeri mengingat kejadian semalam. Apalagi sempat kudengar dari keterangan salah satu orang yang membantu kami tadi. Bahwa memang pernah ada security yang meninggal waktu sedang bekerja. Entah itu Rio Sandias atau bukan. Jika memang dia, apakah memang sengaja menemuiku hanya untuk mengungkapkan perasaannya. Ah entahlah, kututup wajah dengan bantal dan mencoba terpejam. Berharap segera melupakan kejadian gaib yang telah kualami. 

#wisataangker
#wisatamisteri