Putri Fatimah di Balik Kisah Masjid Tiban

Masjid Tiban Turen Malang, dokpri

Masjid Tiban Turen, Malang. Siapa yang tak mengenal tempat ibadah sekaligus sebagai wisata religi. Apa pun agamanya, untuk wanita wajib menutup aurat--meski hanya disampirkan pashmina pada kepala dan kaos lengan panjang--sebab selain memang aturan juga menghormati rumah ibadah. Tampak beberapa wisatawan yang non muslim juga mengikutinya. Alasan mereka berkunjung karena takjub dengan bangunan bertingkat sepuluh tersebut.

Mitos yang belum banyak diketahui orang, justru saya dapatkan ketika singgah di masjid Demak. Awal ketemu dengan Gus Gondrong--begitulah kami memanggilnya--karena memang beliau tidak menyebutkan namanya. Saat itu saya dan keluarga sedang mencari pintu keluar dari berkeliling sekitar museum dan pekuburan di sekitaran masjid Demak. Gus Gondrong yang sedang duduk tersebut memberitahukan bahwa pintu keluar ke arah kiri bukan ke arah kanan. Lantas beliau bertanya kami dari mana? Saya jawab, kita rombongan dari Semarang mau pulang ke Malang. Beliau menjawab lagi, "Masjid tiban."

"Iya, sekitar sana tapi masuk kabupaten kalau masjid tiban, saya di kotanya," jawab saya.

"Fatimah itu seorang putri, cantik, anaknya Abdullah. Dari kerajaan timur tengah, penguasa paling kaya, dan beragama Islam." Gus Gondrong tiba-tiba menjawab dengan panjang.

Saya dan keluarga yang menyaksikan langsung berhenti dan menghadap Gus Gondrong, menyimak kembali kisah beliau. Sepintas jika kita melihat beliau seperti, (maaf) orang kurang waras. Akan tetapi, karena beliau bercerita dengan meyakinkan maka kami menyimak kembali kisah yang baru saja diucapkan.

"Jika Roro Jonggrang meminta dibuatkan candi, kalau Fatimah minta dibuatkan masjid."

"Maksudnya? Anaknya jin muslim ingin dipersunting manusia terus minta mahar masjid?" tanya saya karena penasaran.

Beliau tidak menjawab, tetapi bercerita lain. Dan kami menyimpulkan bahwa dia hanya mau bercerita tetapi tidak menerima pertanyaan. Maka saya ubah cara bertanya dengan pertanyaan yang berhubungan dengan itu.

"Gus pernah ke sana?" tanya saya untuk meyakinkan. 

Lagi-lagi saya beranggapan bahwa sedang berhadapan dengan wali Allah. Sebab tangan beliau tidak pernah diam. Seperti menghitung kotak-kotak kecil yang ada di tempat duduk--terbuat dari keramik yang berukuran kecil-kecil--seperti seorang sedang berwirid. Tatapannya tidak fokus terhadap satu orang, saya dan semua keponakan juga tak luput dilihatnya.

"Kamu sukses, tapi keras kepala." Tunjuknya pada keponakan saya yang pertama, "Mirip Bapaknya," tambahnya lagi.

"Masjid tiban karena tiba-tiba ada yang mbangun pasukannya Abdullah. Menantunya ahli ibadah, hapal Quran, biru, emas, bukan hijau." Gus Gondrong menjawab pertanyaan berbeda lagi, dan kami yang mendengar harus paham ke mana jalan cerita yang dia ucapkan. Lelaki berkaus hitam dengan bawahan sarung sasirangan tersebut, duduk bersila di atas tempat duduk keramik.

Setelah beberapa saat semua keponakan yang berjumlah tiga seperti ditebak arah masa depannya. Iseng saya bertanya, "Kalau saya, Gus?"

Beliau tidak menjawab dan hanya diam lama, "Banyak ... banyak, gak berani," jawabnya lagi. 

Setelah itu saya tidak bertanya lagi dan berterima kasih atas nasihat dan ceritanya. Kakak saya memberikan beliau uang sekadar membagi rejeki. Akan tetapi, dilempar pertanyaan lagi oleh Gus Gondrong.

"Kalau untuk sedekah di sana, banyak kotak amal. Kalau untuk museum di sana tempatnya, kalau untuk saya untuk apa tujuannya?" pertanyaan beliau sungguh membuat Kakak saya bingung.

"Maksud saya membagi rejeki buat sampeyan, Gus, untuk keperluan, entah jajan atau udud," jawab Kakak Ipar saya menjelaskan.

Lantas Gus Gondrong justru tersenyum dan terkekeh-kekeh, "Udud ... udud ...." Begitu suara yang masih kami dengar, dan beliau juga melambaikan tangan.

"Tidak semua yang kita tahu bisa dijelaskan, tidak semua yang kuat pasti menang," teriak Gus Gondrong.

Saya dan Kakak yang mendengar perkataan beliau cepat-cepat menghapalkan lantas mencatat di ponsel masing-masing, dan menelaah perlahan-lahan. Dan ajaibnya perkataan lelaki unik tersebut terjawab setelah bertahun-tahun berlalu.

***

Ketika saya datang lagi ke masjid tiban untuk mengantarkan tamu berkunjung, sekilas teringat cerita Gus Gondrong. Dari lantai satu dan beberapa lantai membuat tamu dari Jakarta tersebut terkagum-kagum. Setiap detail lantai di foto-foto sebagai kenang-kenangan dan pembelajaran mengenai bentuk bangunan katanya. Karena pekerjaan tamu tersebut seorang interior bangunan dan arsitektur.

"Butuh berapa lama yah sampai sepuluh lantai," tanya tamu saya yang laki-laki. 

"Kurang tahu juga, sih, Mas, waktu saya masih kecil ajah bangunan ini sudah berdiri tinggi, cuma bagian dalamnya masih belum sempurna. Masih bentuk rangka dan semen ajah. Orang-orang nyebutnya masjid jin, sebab tidak tahu kapan buat pondasi tahu-tahu sudah ada ajah," jawab saya.

Sampai di lantai ke-4 sebuah ruangan yang unik. Sebab di dalamnya terdapat kolam renang di tengah-tengah rumah dan juga di sebelah kiri saat kita pertama masuk juga ada kolam renang kecil. Sayangnya kamar-kamar dan kolam renang tersebut tidak digunakan.

"Katanya ini sih mahar pernikahan, Mbak," jelas saya kepada tamu perempuan.

"Wih kaya banget berarti yah?" tanya tamu perempuan.

"Yang dikasih mahar malah yang suami," jawab saya lagi.

"Wihhh, sekaya apa yah yang perempuan?" tanyanya lagi, "Orang mana, Mbak, istrinya?"

"Gak tahu, katanya di negara Timur Tengah sana, cantik, namanya Puteri Fatimah," itu yang saya dengar dari cerita orang.

Kami berjalan dari satu lantai ke lantai yang lain, ada bagunan yang berbentuk goa-goa dengan pemandangan yang unik.

"Kok pendirinya gak ada fotonya yah, Mbak, pas di bagian informasi?" tanya tamu yang perempuan.

"Konon katanya, bukan dari manusia, Mbak," jawab saya, "Cerita semacam ini, kan, memang tidak bisa di logika, toh?"

Wanita berjilbab segi empat tersebut tersenyum dan manggut-manggut. 

"Meski kaya-raya kalau bukan manusia, mana mau aku, Pah," goda tamu perempuan kepada suaminya.

Lantas kami tertawa bersama, dan melanjutkan perjalanan ke lantai berikutnya. Di bagian paling atas dipergunakan untuk warga sekitar berjualan oleh-oleh. Dari tanaman, buah yang sedang musim, baju, hingga kerajinan tangan buatan masyarakat sekitar. Masjid tiban sendiri untuk saat ini dipergunakan sebagai pondok pesantren salafiyah Bihaaru Bahri' Asali Fadlaairil Rahman. Terletak di jalan KH. Wachid Hasyim Jl. Anggur No.17, Sananrejo, Kec. Turen, Malang, Jawa Timur 65175. 

Buat kalian yang penasaran dengan kisah ini, datang dan nikmati kemegahan dan keunikan setiap sudutnya. Yang pasti cerita demi cerita yang terdengar pasti akan berbeda pula. Terlepas dari percaya atau tidaknya, kita dapat ambil yang baik dan buang yang buruk. Happy holyday. Tetap jaga prokes yah.

 

#wisatamisteri

#wisataangket

#jelajah

#wisata_malang

 

Malang, Mei 2021