Wisata Air Terjun Jumog-Keindahan yang Membuatmu Lupa Pulang

Foto Wisata Air Terjun Jumog (sumber: wisataoke.com)

Nyaliku menciut setelah mendengar penuturan Mbah Sukirah--penjual tela-tela di dekat pintu masuk. Hari Kamis adalah pantangan bagi rombongan untuk datang ke Wisata Air Terjun Jumog di Karanganyar. Kebanyakan pengunjung hanya datang seorang diri atau berdua dengan teman. Tidak ada yang membawa pasangan, keluarga, apalagi datang berombongan.

Kueratkan jaket sambil memandang ke sekitar. Mendadak aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Keputusanku disambut sorotan mata yang tajam dari Joni. Mereka melanjutkan perjalanan. Tak ada yang sepakat denganku. Aku pun harus ikut walau dengan berat hati. Lasmini mengangguk menggandengku mengikuti rombongan.

Mbah Sukirah sempat mengingatkan bahwa sebaiknya kami pulang saja. Keluarga di tempat ini tidak suka jika ada rombongan yang datang pada hari Kamis. Entah karena alasan apa. Sebentar, keluarga? Keluarga siapa yang dimaksud?

Menuruni anak tangga dipayungi pohon-pohon pakis di sisi kanan dan kiri, sangat mengasyikkan. Udara yang sejuk, kicauan burung-burung dan aliran sungai di bawah sana mengirimkan ketenangan tersendiri bagi siapa saja yang mendengarnya. Semakin menurun, langit kian tak terlihat, bertambah dingin udara menusuk hidung. Jika tak tahan, hidung bisa memerah seketika.

Tebing hijau menjulang tinggi kokoh. Aneka tanaman paku menempel di dinding tebing. Sejauh mata memandang, hanya keindahan yang tersuguhkan, seakan tiada habisnya.

Sampai juga di tangga terakhir. Wisata Air Terjun Jumog mempunyai 116 anak tangga. Dibuat dari semen dengan desain zigzag. Sehingga tak membuat lelah dan bosan saat menyusurinya.

Ada jembatan ketika selesai menuruni anak tangga. Saat menoleh ke kanan, ada arena bermain. Saat menoleh ke kiri, air terjun mengalir deras. Kesegerannya bisa dirasakan walau dari kejauhan. Lasmini takjub memandangnya. Aku berputar merentangkan kedua tangan sambil terpejam, menghirup udara dalam-dalam, menyenangkan sekali. Aku sedikit lupa dengan niatku untuk membatalkan perjalanan tadi.

Tanganku menggapai-gapai mencari keberadaan Lasmini tetapi nihil. Ada suara anak kecil berlarian bersama bau anyir yang memenuhi rongga hidung. Saat menoleh ke belakang, tak kudapati siapa-siapa.

Lasmini memanggilku. Aku berlari ke arah kiri. Kami berjalan menyusuri tangga ke arah selatan mengikuti rombongan. Ya, sepertinya selatan, karena jika di tempat baru, aku sulit menentukan arah.

Aliran sungai terusan dari air terjun sangat jernih. Ada pengunjung yang duduk di atas batu besar. Ada pengunjung yang berjalan menyusuri air dengan melipat ujung celananya. Ada pengunjung yang hanya berdiri memandangi kegiatan pengunjung lain.

Rombonganku yang sudah duluan sepertinya hampir sampai di air terjun. Jarak menuju air terjun sekitar 100 meter dari jembatan awal tadi. Di sisi kanan, para penjual tersenyum ramah menawarkan dagangannya dari dalam lapak. Dua meter di depannya, yaitu di tepi sungai disediakan tikar dan meja untuk pengunjung yang hendak menikmati sungai dengan cara lesehan. Tertata rapi sampai ke jembatan dekat air terjun. Dari daftar menu kulihat sekilas, ada tela-tela, sepertinya makanan itu yang banyak dijual di tempat ini.

Tebing di belakang lapak juga tinggi-tinggi. Belukar saling berlomba melilit. Di seberang sana juga ada tangga untuk menuju ke air terjun.

Sudah dekat. Jembatan berpagar ukiran yang menyerupai kayu itu dipenuhi pengunjung untuk berswafoto. Ada pengunjung yang menyaksikan keindahan air terjun dari tangga di seberang sana. Ada pengunjung yang berdiri di atas batu besar di dekat air terjun. 

Aku dan Lasmini berdiri di ujung jembatan sambil berfoto. Rombonganku menyusuri bebatuan menuju air terjun, mereka ingin menyaksikan air terjun dari jarak dekat. Sesekali kudengar teriakan Agustin dan Joni yang sangat bahagia bisa memimpin perjalanan kami. Kulihat Agustin memegang ponselnya lama sekali.

"Agustin iki opo-opo digawe status." Lasmini menggerutu sambil menggeser layar ponselnya ke bawah.

"Di sini indah sekali, ya, Las."

"Asal tidak ada yang nebang pohon-pohon di hutan ini saja, pasti tetap indah."

Kulihat ke air terjun. Mereka bermain air dengan sangat gembira. Dengan hanya memakai kaus dalam, Joni berdiri di bawah air terjun sambil menepuk dada menandakan betapa ia sangat pemberani.

"Adem. Betah aku, Las. Rasanya tidak mau pulang," kataku.

"Hush!! Mau kamu tidur di tengah hutan begini?"

Aku terkekeh. Kembali kulihat air terjun itu. Setelah rapat kelas, aku sempat mencari tahu di internet tentang air terjun Jumog. Wisata Air Terjun Jumog juga dijuluki The Lost Paradise. Surga yang hilang berada di lereng Gunung Lawu.

Aku mengeluarkan buku untuk mencatat cerita perjalanan kami. Saat aku fokus menulis, kembali kudengar derap kaki dalam jumlah banyak, seperti berombongan. Telingaku memastikan. Lagi, tak kudapati siapa-siapa. Bau anyir kali ini lebih menusuk hidung daripada yang tadi. Sambil menutup hidung, telingaku menangkap jelas rombongan itu menangis meminta tolong.

Aku teringat perkataan Mbah Sukirah. Keluarga!! Ya, mungkin keluarga ini yang dimaksud Mbah Sukirah. Aku berkemas lalu kuajak Lasmini pulang.

"Kita datang bareng-bareng. Pulang juga harus bareng."

"Aku takut terjadi apa-apa, Las."

Aku berlari meninggalkan Lasmini. Arena bermain sepi. Para pengunjung mulai meninggalkan tempat ini. Sebagian lapak bersiap ditutup. Kulihat pergelangan tangan, jam lima kurang seperempat. Jam lima tempat ini akan ditutup.

Lasmini berteriak memanggilku. Ia berusaha mengatakan sesuatu tetapi masih mengatur napasnya.

"Joni hilang!!"

Joni hilang? Tetapi aku ingin pulang. Aku tetap harus pulang. 

"Aku mau pulang, Las!" Aku berlari tapi Lasmini mencengkeram tanganku.

"Kita harus temukan Joni!"

Berkali-kali kutepis tangan Lasmini. Berkali-kali pula Lasmini berhasil menangkapku.

"Jangan buang waktu!  Ayo kita cari Joni!!"

Rasa takutku berubah menjadi tangis. Lasmini menggandengku menuju air terjun. Kulihat mereka sedang memanggil-manggil nama Joni. Sebagian berkerumun di tepian.

"Agustin terduduk dengan tatapan kosong, tidak bisa bicara dan berkedip."

Lasmini mondar-mandir mencari jalan keluar. Hari mulai gelap semakin menambah rasa was-was. Lasmini berdiri menghadap air terjun, matanya terpejam.

Kembali kudengar suara tangis tadi. Kali ini dengan amarah yang memuncak, suaranya membahana. Kami terlonjak.

"Tadi Joni menghadap ke sini lama sekali sambil tertawa kencang." Surya menunjuk ke belukar dekat air terjun.

Lasmini mengajak aku dan Surya menyibak belukar. Entah apa yang dipikirkan Lasmini sampai ia nekad mengajak penakut sepertiku. Kucengkeram tangan Lasmini. Di sini gelap, segera kukeluarkan ponsel untuk menyalakan senter. Bau anyir kali ini lebih berlipat lagi dari yang tadi. Jantungku berdegup seakan ingin melompat keluar. Lasmini mengucap maaf berkali-kali, apa Lasmini meminta maaf pada keluarga itu?

"Joni!!" Surya mendapati Joni terbujur kaku.

Tak kuat menahan bau, aku berlari keluar. Kupanggil teman laki-laki agar membantu menggotong Joni.

Aku memandang iba. Apa yang dilakukannya sampai berakhir tragis seperti ini? Kulihat Agustin masih sama. 
Kami sepakat menggotong Joni dan Agustin.

Tak ada siapa-siapa selain rombongan kami. Kurasakan keluarga itu mengikuti langkah kami seakan mengusir.

***

Sampai di atas, Mbah Sukirah menatap tajam ke arah kami. Aku menceritakan apa yang terjadi.

Mbah Sukirah mengamati Joni dan Agustin. Kata Mbah Sukirah, jiwa Joni ditawan selamanya oleh keluarga itu karena perangai Joni yang sombong dan suka tertawa kencang. Keluarga itu tak suka dengan orang yang sombong. Karena dahulu mereka tewas disebabkan rem mobilnya disabotase oleh pesaing pilkada yang teramat sombong.

Sedangkan Agustin jiwanya tertahan di sini karena keluarga itu tidak suka atas usulan Agustin yang mengajak kami datang berombongan pada hari Kamis. Dahulu keluarga itu hendak bertamasya pada hari Kamis, tetapi gagal karena rem mobil blong.

Tempat ini indah, tetapi bisa membuat lupa akan jalan pulang. Jiwa Joni dan Agustin lupa pulang karena terlalu bahagia menikmati keindahan tempat ini.

Aku berjanji akan ke tempat ini lagi karena tempat ini menyimpan keindahan yang tiada habisnya. Tetapi aku tak mau lagi datang berombongan pada hari Kamis. Aku tak ingin membuat keluarga itu tersayat hatinya karena melihat rombongan yang masih bisa bertamasya bersama-sama.

Apakah kalian ingin mencoba untuk datang berombongan pada hari Kamis?

Selesai

Sragen, 8 Mei 2021

Note
*Agustin ini apa-apa dibuat status

#WisataMisteri