Akibat Datang Samalangsa ke Wisata Tangga Seribu Manglayang di Kabupaten Bandung

Wisata Tangga Seribu Manglayang-google image.

Sebagai pecinta petualangan, sekaligus memiliki hobi fotografi. Saya kerap berburu panorama di tempat-tempat wisata bertema alam bebas. Salah satu lokasi yang sudah masuk di dalam daftar rencana saya, yaitu Wisata Tangga Seribu Manglayang di Bandung Timur. Jalur masuk ke tempat wisata ini adalah melalui Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung. 

Lokasi wisata ini terletak di ketinggian kawasan Gunung Manglayang. Tangga selebar dua meter dengan jumlah mendekati seribu akan mengantarkan wisatawan menuju hutan pinus luas yang dapat dipakai sebagai camping ground. Di bagian kiri dan kanan adalah perkebunan serta ladang para petani yang tersusun berundak-undak. 

Sangat cocok untuk memburu spot matahari terbenam yang menjadi latar kota Bandung. Sekaligus menangkap ribuan kemilau lampu-lampu kala malam tiba. Siapa sangka pada penjelajahan kali ini ternyata saya mendapatkan pengalaman mistis tak terlupakan. 

Berbekal ransel, tempat saya menyimpan kamera DSLR. Baru saja dibeli, setelah mendapatkan pesangon PHK. Tidak apalah, hitung-hitung mengobati kekesalan. Sekaligus bahan mencari inspirasi. Sekalian saya melengkapi dengan lensa prime, agar kualitas gambar tetap optimal walaupun membidik saat gelap malam. 

Saya membungkus tubuh dengan jaket tebal. Kupluk berbahan rajut dan tentu saja sepatu hiking ringan yang nyaman dipakai nanjak. Plus air mineral. Tanpa makanan berat maupun ringan sebab saya rasa tak akan membutuhkannya. Pasti nanti hanya akan sibuk dengan urusan memotret. 

Meski dalam jadwal, Wisata Tangga Seribu ini tutup pukul enam petang. Saya tetap sedikit memaksa pada juru kunci yang hampir saja tidak  mengizinkan masuk. Dengan alasan ingin membidik panorama Bandung dari ketinggian saat senja hingga malam nanti. 

"Samalangsa, Den. Jam segini ke atas mah, nanti keburu adzan. Pamali!" 

Juru kunci yang dikenal sebagai Ki Kuncen ini, menurut perkiraan saya berusia di atas setengah abad. Ia menjelaskan bahwa saya datang di waktu yang salah. Namun bukan petualang sejati namanya kalau harus menyerah pada larangan yang saya anggap sebagai kepercayaan semata.

Ki Kuncen akhirnya menyerah pada desakan saya. Beliau sekali lagi mewanti-wanti agar sebelum naik saya berdoa serta mengucapkan semacam mantera dalam bahasa sunda. Dimaksudkan untuk meminta izin pada para lelembut yang mungkin nantinya merasa terganggu.

"Hampura kuring samalangsa datang …." 

Dan saya mengiyakan dengan cepat tanpa menyimak dengan cermat. Lalu mulai melewati gapura dengan girang. Menapakkan kaki di tangga pertama. Entah, terbersit saja rasa penasaran untuk menghitung jumlah tangga yang sesungguhnya. 

Walaupun saya tahu, tak akan mungkin jumlahnya benar-benar seribu. Tetapi apakah juga tepat seperti yang ditulis dalam web wisata. Itu yang saya ingin tahu. Tentu saja nantinya akan menjadi pelengkap tulisan saat saya memamerkan hasil foto di blog. 

Belum lagi mencapai tiga ratus anak tangga, semburat jingga mulai terlihat. Napas yang mulai terengah karena lumayan terasa lelah. Terbayar dengan kesempatan memotret pemandangan di arah barat. Setelah membalikkan badan, langsung saja saya menyiapkan kamera dan segera memutar lensa untuk mendapatkan fokus terbaik. Seraya berdecak kagum dengan view layaknya permadani keemasan yang terhampar luas. Tak sampai tiga kali bidikan, lensa kamera tiba-tiba terhalang bayangan kelabu. 

Saya tersentak, ternyata masih ada orang lain yang mengunjungi tempat ini. Seorang kakek tua dengan rambut dan janggut serba putih melewati saya. Ia memiliki badan tegap yang tertutup pangsi hitam pudar. Lengkap dengan ikat kepala dan sarung yang diikatkan di pinggang. Sebilah golok terselip. Mungkin kakek ini adalah seorang jawara silat. Begitu saya pikir. 

"Sing eling, Jang. Tong salah lengkah, tong salah milang." 

Ritme suara yang tegas, namun bergetar termakan usia. Ia mengingatkan saya agar jangan salah dalam melangkah. Dan tidak keliru dalam menghitung. Ah, saya jadi ingat tadi baru mencapai hitungan ke 313.  Tanpa memikirkan apa makna dari kata-kata tersebut. Iseng, saya membidikkan kamera ke arah kakek tua tadi. 

Tapi ternyata sudah hilang dari tempat semula. Cepat sekali langkahnya. Saya benar-benar kalah jauh. Tak mau membuang waktu. Kedua kaki segera mempercepat langkah, menuju ratusan tangga selanjutnya. 

Enam ratus tiga belas, saya berhenti sejenak. Meneguk air hingga tersisa separuh. Lalu kembali membalikkan badan. Dari sini kota Bandung mulai terlihat. Lampu-lampu di hamparan ribuan bangunan telah menyala. Kedua tangan saya mulai menyangga kamera dan memutar lensa. Bagus! 

Hasil bidikan terakhir saya kembali buram. Terhalang bayangan seperti sebelumnya. Beberapa tangga di depan, sosok yang saya temui tadi terlihat kembali. Kapan ia melewati saya? 

"Tong datang samalangsa. Ulah salah lengkah, di jalan pasampangan. Tong salah milang, bisi teu bisa nyaangan." 

Kalimat hampir serupa kembali terdengar. Kali ini lebih mirip bentakan. Beriring tiup angin yang kian dingin. Membuat bulu tengkuk meremang. Saya berusaha memanggilnya, namun dalam sekilat gerak sosoknya entah melompat ke mana. 

Sedikit gugup, saya lalu menghabiskan air di dalam botol. Seraya menyumpal telinga dengan headset. Biasanya mendengarkan lagu dapat menghilangkan ketakutan. 

Anak tangga ke delapan ratus delapan puluh. Batin saya mulai ragu, tapi lekas ditepis. Sesungguhnya hal ini tak begitu penting juga. Namun saya baru sadar, ada dua arah tangga di hadapan saya. Tak berubah meski telah mengucek mata berulang dan mengedarkan pandangan. 

Terngiang perkataan kakek tua tadi. Jangan salah melangkah saat di persimpangan. Ya, pikirkan! Biasanya orang akan mengambil arah kanan karena menyangka ini adalah jalan yang benar. Padahal justru jebakan. 

Saat tengah menimbang keputusan, pendengaran ini menangkap samar-samar suara memanggil. Tanpa melihat ke belakang saya menutup mata sambil terus menaiki anak tangga. 

Delapan Ratus Sembilan Puluh Tiga, ucap saya dalam hati. Nah, benar kan! Tiga belas anak tangga lebih banyak daripada yang tertulis di blog wisata. Mungkin mereka sengaja membulatkan atau memang hanya mengira-ngira, pikir saya. 

Desir angin bertambah kencang, dingin menusuk tulang. Padahal sudah menaiki tangga sebanyak itu tapi tak sedikit pun berkeringat. Malah gigil kian menusuk. Tak pernah saya merasakan Bandung sedingin sekarang. 

Meskipun jemari terasa kaku, namun dengan semangat membara saya tetap menyiapkan kamera. Menghadap kota Bandung yang seharusnya sudah berhias kilauan jutaan permata berwarna warni. Iya, seharusnya. Sebab ternyata saat ini hanya kegelapan yang tertangkap lensa kamera. Bahkan langit berwarna legam tanpa seiris rembulan maupun sepotong bintang. 

Apa kota Bandung tengah mengalami pemadaman listrik berkala, tanpa pemberitahuan? Saya tak habis pikir. Tenggorokan mengering, tetapi air dalam botol telah tandas. Saya berjalan lebih dalam. Berharap ada kedai yang masih buka. 

Seberkas cahaya meliuk liuk tertiup angin. Sebuah gubuk bambu yang biasa dipakai sebagai tempat berjualan makanan mulai terlihat. Setengah berlari saya menghampiri. Seseorang tengah berdiri membelakangi. Tampak sedang menyiapkan sesuatu. Semoga saja. 

"Punten. Ada kopi, Teh?"

Tak ada jawaban. Kemudian perhatian saya teralihkan oleh suara beberapa anak kecil yang tengah berlarian sambil cekikikan. Penasaran, saya mengikuti dari belakang. Mereka menyebar dengan cepat. Lalu menghilang dari pandangan saya. 

Pohon-pohon pinus menjulang tinggi. Semakin dalam semakin merapat. Saya kembali melangkahkan kaki. Kedua daun telinga seakan baru saja tersentuh es batu. Padahal tertutup sempurna oleh kupluk rajut bermerk, yang official store-nya ada di Jalan Cihampelas. 

Suara mendesis berkali-kali terdengar. Diiringi bunyi berderak dari ranting dan dedaunan kering yang mungkin terinjak sesuatu. Disusul suara menggericau yang berasal dari atas. Membuat kepala saya mendongak. Benarkah yang saya lihat? Tampak bayangan menyerupai monyet yang bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain. 

Namun kemudian saya tersentak demi mendengar geraman dari balik semak-semak. Ragu, tapi terdorong rasa penasaran saya tetap melangkah. Sekilat gerak sesosok tubuh tinggi besar muncul. Kedua tangannya memegang kepala, kemudian seketika mencabutnya. 

"Bakekok …." 

Jantung saya seakan melompat dari tempatnya bersemayam. Seluruh sendi luluh, tanpa dapat tertahan tubuh saya rubuh. Gelap. Sunyi. 

Hingga bahu saya berguncang. Seseorang menggoyangkan tubuh berkali-kali. Membuat kesadaran saya perlahan kembali. Suara yang sedari tadi tertahan di kerongkongan. Meluncur. Saya berteriak sekuat-kuatnya.

"Gan, istighfar …  nyebut, nyebut!" 

Saya membelalakkan mata. Ternyata Ki Kuncen-lah yang ada di hadapan saya. Mulutnya komat-kamit sambil memegang sebotol air. Seakan tengah melafalkan mantera. Lalu ia menyodorkan air tersebut. 

Saya mengatur napas yang masih tersengal. Lalu meneguk air hingga separuh dan membasuh wajah. Beberapa saat kemudian saya kembali tenang. Ki Kuncen mengajak untuk sementara beristirahat di rumahnya. Dan tanpa punya pilihan lain, saya pun mengiyakan. 

Sambil berdiri kedua tangan saya menepuk-nepuk celana dan jaket yang penuh dengan tanah. Masih dalam kebingungan akan alasan, mengapa tiba-tiba saya ada di gapura masuk Tangga Seribu. Lalu tanpa sengaja menengok ke arah belakang. Napas saya terhenti sesaat. Terkesiap, demi melihat sosok kakek tua berpangsi hitam pudar. Berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatap mata tajamnya mengawasi dengan beringas  [Awg]. 

#wisataangker