Di Luar Nalar

wisatakalimantan.com

Anggi dan Wisnu adalah pasangan pengantin baru, asal Kota Medan yang memilih berbulan madu di Pantai Pasir Panjang. Lokasi wisata yang kurang lebih berjarak 17 km dari Kota Singkawang. Selain tempat kenangan pertemuan pertama dua sejoli tersebut, dua tahun lalu karena sama-sama berlibur di sana, pantai itu mempunyai pemandangan alam yang indah.

Jauh-jauh hari sebelumnya Wisnu sudah booking kamar di Hotel Palapa Beach. Meski sederhana, penginapan itu sangat strategis karena terletak di kawasan wisata. Ditambah kamarnya juga menghadap ke laut, hingga pemandangan sepanjang hari dapat dinikmati dengan mudah. Fasilitas hotel juga cukup memadai. Dari restoran, kolam renang, dan permainan seperti banana boat juga tersedia. 

Di sepanjang pantai berpasir putih, yang kedua ujungnya terdapat gugusan batu karang mengarah keluar berbentuk capit kepiting. Ada pula jembatan kayu yang dibuat sedemikian rupa, agar para wisatawan dapat menikmati pemandangan laut lebih leluasa tanpa harus nyebur ke dalam air asin.

Malam pertama mereka menginap, udara di sekitar tampak cerah dan indah. Langit ditaburi bintang-bintang tanpa rembulan. Angin berkesiur perlahan. Sepasang anak manusia itu memilih berjalan di pasir putih, menikmati udara segar sambil bergandengan tangan. Meski minim penerangan namun berkesan romantis. Beberapa nelayan tampak di kejauhan lepas pantai, terlihat jelas dari kerlip lampu perahunya. 

Anggi yang kala itu memakai blus putih polos dipadukan dengan celana panjang motif batik. Wajahnya terlihat anggun dan cantik, tatkala terpapar lampu-lampu hias yang terpasang dekat gazebo untuk bersantai. Sambil menggamit manja lengan Wisnu, keduanya terus berjalan hingga ke batu karang salah satu sisi pantai. 

"Sayang, berani gak ke sana?" tunjuk Wisnu ke arah deretan batu karang.

"Berani!"

"Ayo!" ajak Wisnu tersenyum lebar  sambil menggandeng tangan istrinya.

Walau agak licin, batu-batu karang tersebut tidak susah dilalui. Bahkan ada beberapa permukaan yang landai dan cukup lapang untuk diduduki atau berbaring. Pemandangan dari atas batu karang sangat memesona, ditambah debur ombak yang memecah kesunyian. Suara deburan begitu menghipnotis, sehingga tercipta keromantisan di antara keduanya. 

"Wah, keren banget tempat ini," sorak Anggi bahagia ketika tiba di salah satu batu karang. "Sayang, kamu kok tau sih di sini ada tempat yang sangat indah dan romantis?"

"Aku juga baru tau, Yang. Gak sia-sia kita memilih berbulan madu di sini. Selain murah meriah, tempat ini juga sangat romantis."

Ucapan Wisnu benar. Batu karang tempat mereka berada sekarang, merupakan salah satu batu terluar di gugusan. Bentuknya landai dan pipih, di bawahnya tersusun beberapa batu yang seolah menyanggah batu di atasnya. Luas dan cukup untuk berbaring dua-tiga orang. Wisnu dan Anggi duduk bersisian menghadap ke arah laut, angin di sana hangat dan lebih kencang dibandingkan area pantai. 

Rambut panjang Anggi meriap kesana-kemari dipermainkan angin. Sesekali ia bermanja, merebahkan kepalanya ke bahu Wisnu. Karena terbawa suasana keduanya saling bertatapan mesra. Walaupun pencahayaan kurang, binar mata sepasang sejoli itu dapat dirasakan dalam hati keduanya. Dengan lembut Wisnu mengecup mesra bibir istrinya, lalu dibalas lembut oleh Anggi. Perlahan-lahan mereka semakin larut dalam permainan cinta yang membara. Pendakian kasih yang disaksikan oleh langit malam beserta deburan ombak.

Saat puncak kenikmatan tergapai, keduanya pun terhempas dan terpuaskan. Udara semakin dingin, namun tubuh Wisnu dan Anggi basah oleh keringat. Setelah kembali berbenah dengan pakaian yang hampir terlucut semua, tiba-tiba cuaca sekitar berubah. Ombak yang memukul karang di bawah semakin kencang dan air laut naik tinggi. Angin berputar lebih kencang membuat keduanya tak lagi merasa romantis.

"Aku takut, Yang! Kok tiba-tiba langit langsung hitam kelam dan angin kencang?" ucap Anggi khawatir.

"Mungkin mau turun hujan. Ayo, kita balik ke hotel!" ajak Wisnu.

Mereka pun segera meniti karang yang tadi dilalui dengan mudah. Namun, anehnya Wisnu dan Anggi terlihat kesulitan melompati batu-batu tersebut. Jarak satu batu ke batu lain sepertinya melebar dan lebih jauh dari sebelumnya, sehingga butuh langkah kaki lebar dan cekatan agar dapat menapak dengan baik. Sampai suatu ketika, Wisnu terpeleset dan jatuh tergelincir ke bawah karena salah menginjakkan kaki. 

"Sayang!" teriak Anggi panik.

Tidak ada sahutan dari Wisnu. Pria itu jatuh ke air yang cukup dalam, hingga tubuhnya tak terlihat.

"Wisnuuu…." jerit Anggi menjadi-jadi.

Ia ketakutan setengah mati karena tidak tahu harus berbuat apa. Kakinya seperti terpaku di salah satu batu karang. Bergeming! Suara jeritan memanggil-manggil nama Wisnu teredam oleh deburan ombak yang keras. Semakin lama air laut semakin tinggi. Anggi menggigil cemas. 

Lamat-lamat hidung wanita berusia dua puluhan itu mencium bau bunga melati. Semakin lama semakin menyengat dan berganti bau busuk. Seketika perasaannya menjadi tak enak. Degup jantung berdetak kencang, ditambah bulu kuduk meremang. Ia merasa ada sesuatu tapi tak dapat melihat. Anggi menangis sambil terduduk di salah satu karang. Ia hendak pergi, tapi seperti kehilangan kekuatan untuk melangkahkan kaki. Antara meratapi Wisnu yang hilang seketika atau nasibnya yang tidak pasti. 

Akal wanita itu seperti hilang, mulutnya bergumam kata-kata tak jelas. Rasa takut teramat besar membuatnya linglung. Perlahan-lahan tubuh Anggi melorot dan jatuh ke dalam air laut. 

***

Pagi yang cerah, seorang nelayan berlari tergesa-gesa menuju arah hotel. Setelah tiba di dekat penginapan ia segera menuju ke pos keamanan.

"Baaang!" panggilnya panik sambil menata nafas yang terengah-engah. "A-a-ade maaayaaat!" batahnya dalam logat melayu lokal.

Dua orang pria berpakaian seragam keamanan hotel, yang sedang asik minum kopi terkejut mendapatkan laporan.

"Di mane?" tanya salah satunya.

"Di-di-di sanak, Bang! Ayoklah kite tenggok, lapor polisi yak sekalian? Nampaknye terjepit batu budak tuh!" tunjuknya mengacungkan jari. 

Tanpa diulang salah satu petugas segera berlari ke dalam hotel. Segera menghubungi polisi setempat melalui sambungan telepon. Sementara seorangnya lagi bersama nelayan yang melapor bergegas menuju ke lokasi kejadian. Setiba di dekat batu karang, kedua orang itu melihat tubuh seorang pria yang terjepit di celah batu karang. Sedangkan sesosok tubuh lain tengkurap di bibir pantai tak jauh dari batu karang. 

"Macam mane nih, Bang? Kite liat lok yang satu tuh. Siapa tau masih hidup!" 

"Iyelah!" sahut petugas keamanan hotel.

Keduanya menghampiri tubuh yang tertengkurap, dan berusaha membalikkan tubuh yang ternyata seorang wanita. 

"Masih hidup!" ucap petugas keamanan setelah mendekatkan jarinya ke hidung korban. "Ayo, bantu aku bawa ke hotel. Nampaknye die nih tamu!"

Kedua laki-laki itupun segera menggotong tubuh si wanita ke arah hotel. Bertepatan dengan itu, sebuah mobil patroli polisi juga tiba. Tubuh si wanita dibaringkan dekat sofa ruang tamu penginapan, dibantu beberapa karyawan wanita yang segera memberi pertolongan mengeringkan tubuhnya dengan handuk bersih. 

Petugas keamanan hotel, nelayan, dan tiga polisi segera menuju ke gugusan karang yang dimaksud untuk mengetahui nasib laki-laki yang terjepit batu. Air laut surut, jadi mereka tidak mengalami kesulitan untuk mengeluarkan tubuh itu dari celah karang. Rupanya secara ajaib Wisnu juga masih hidup, meski denyut nadinya melemah. Sungguh di luar nalar! Tanpa buang-buang masa polisi segera membawa tubuh Wisnu dan Anggi, yang juga belum sadar dari pingsan ke rumah sakit dekat Kota Singkawang. 

Setelah kesehatan fisik keduanya pulih, polisi pun meminta penjelasan kejadian tersebut kepada mereka. Awalnya Wisnu bingung dan tidak tahu harus berkata apa, sebab ia sendiri tidak begitu mengingat kejadian tersebut. Berbeda dengan Anggi, wanita itu terus meracau dan berbicara tak jelas. Untungnya ada saudara perempuan Wisnu yang tinggal tak jauh dari Kota Singkawang. Setelah dihubungi kakak perempuan Wisnu datang bersama suaminya menjenguk di rumah sakit.

Melihat kondisi adik iparnya, Burhan nama suami kakak perempuan Wisnu bantu menjelaskan kepada pihak kepolisian kalau yang terjadi hanyalah kecelakaan biasa. Burhan merasa ada hal yang aneh terjadi kepada Anggi, sehingga ingin cepat membawa kedua adiknya pulang untuk diobati secara supranatural.

Benar saja, tatkala Anggi dibawa ke seorang paranormal terkemuka di Kota Sambas. Baru diketahui kalau Anggi diganggu oleh penunggu batu karang di daerah wisata Pantai Pasir Panjang. Bahkan menurut desas-desus nelayan setempat, gugusan batu karang di dekat Pantai Pasir Panjang memang angker. Sesekali ada warga yang tak sengaja melihat penampakan seorang perempuan berpakaian kemben hitam, rambutnya panjang menjuntai tengah duduk di salah satu karang menghadap laut, tanpa terlihat parasnya.

 

#wisataangker