Tangan Kecil di Jembatan Merah

Ilustrasi : Foto Jembatan Merah

Jembatan dengan lebar 7 meter dan panjang 130 meter menghubungkan dua desa yaitu Desa Tegalpingen Kecamatan Pengadegan dan Desa Pepedan Kecamatan Karangmoncol. Jembatan ini dibuat untuk memudahkan arus transportasi yang menghubungkan dua Kecamatan di Kabupaten Purbalingga.

Karena bentuknya yang unik dan pemandangan alam di sekitar Kali Gintung yang indah, menjadikan jembatan yang belum sepenuhnya selesai dibangun itu menjadi objek wisata. Gazebo-gazebo unik terbuat dari bambu dibangun di sekitar jembatan. Pengunjung dapat bersantai menikmati pemandangan alam sambil menikmati makanan dan minuman yang ditawarkan para pedagang di sana.

Hamparan hijau sawah dan hembusan angin sepoi memanjakan mata para pengunjung. Perjalanan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dari pusat kota dengan jarak tempuh 17 km. Pengunjung yang  datang berasal dari berbagai penjuru desa, kota, bahkan ada  yang dari luar kota. Mereka ingin menikmati indahnya alam desa, bersantai, dan tentu saja mengabadikan dalam jepretan kamera. Tempat yang instagramable bukan hanya digemari oleh anak muda, tetapi oleh berbagai kalangan. Cukup dengan membayar parkir dua ribu rupiah, pengunjung dapat berfoto dengan latar belakang jembatan yang indah dan megah.

Meskipun tak pernah sepi dari pengunjung, tempat ini menyimpan berbagai misteri. Banyak pengunjung yang mengaku pernah melihat beberapa penampakan makhluk gaib di sekitar jembatan. Bahkan ada juga yang tidak sengaja tertangkap gambar dalam foto mereka.

Kejadian ganjil ini terjadi sekitar dua tahun lalu, dialami oleh seorang ibu sebut saja namanya Ella. Dia  datang berwisata membawa serta anaknya. Tentu saja untuk menikmati indahnya pemandangan serta berfoto ria. Tanpa disadari ada yang aneh dari hasil foto dengan anaknya yang masih balita. 

Dalam foto hasil jepretan kamera smartphone, sang ibu berhadapan dengan anaknya. Entah karena posisi belum siap difoto atau apa sang ibu mengulurkan tangan kepada anaknya, jarak mereka terpaut sekitar satu meter. Sebuah telapak tangan kecil tanpa lengan tampak menggenggam erat lengan sang ibu, padahal kedua tangan anak yang masih balita jelas tak mampu menjangkau dari jarak sejauh itu. Terlihat jelas pula kedua tangan anaknya tidak menyambut uluran tangan ibunya, karena sedang memegang mainan.

Tentu kejadian ganjil tersebut menjadi sebuah misteri. Ada yang menghubungkan kejadian ganjil tersebut dengan berbagai peristiwa sakral yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di suatu desa beberapa tahun silam.
Tradisi ngalap berkah yang rutin dilakukan di salah satu desa yang dilintasi Kali Gintung menjadi sumber cerita dari kemunculan tangan mungil tersebut. Kegiatan tersebut dilakukan setelah melakukan bersih makam wangi, yaitu sebuah makam keramat,  dilanjutkan dengan ngalap berkah dan pementasan wayang kulit semalam suntuk.

Kegiatan tersebut dinamakan ngalap berkah Boga Saketi yang digambarkan seribu bahan makanan hasil bumi. Bahan makanan tersebut dikumpulkan dari masyarakat yang kemudian diberikan ke masyarakat. Mereka mengambil bahan makanan tersebut dengan cara rebutan, dalam artian mereka yang aktif akan mendapatkan banyak bahan makanan tersebut.

Bahan makanan tersebut dirangkai dalam bentuk menyerupai gunung, hal ini memiliki makna bahwa setiap orang akan kembali kepada Sang Pencipta. Gunungan yang berupa sayuran akan dimasak oleh orang yang mendapatkan dan akan  menjadi berkah. Sedangkan yang berupa biji-bijian akan ditanam oleh mereka untuk kelangsungan hidup sebagai sumber bahan pangan.

Mereka juga akan melakukan sedekah larung berupa kepala kambing yang dihanyutkan di Kali Gintung.  Sedekah larung tersebut dibawa menggunakan jolen berbentuk joglo. Jolen tersebut juga memiliki akronim ojo lengah, artinya manusia jangan lengah dengan kehidupan sehari-hari selalu mengingat pada pencipta-Nya.

Sebuah kelengahan yang berakibat fatal membuat hal yang tidak terduga terjadi pada waktu itu, ketika seorang anak yatim piatu ikut berebut bahan makanan. Bukan sayuran atau biji-bijian yang dia dapatkan, dia terdorong, terhimpit dan terinjak oleh kerumunan masyarakat yang berebut gunungan.

Peristiwa yang menjadi tragedi tersebut sebagai pengingat bagi kita, agar selalu menolong yang lemah, memberikan kepada yang berhak, serta berbagi kepada sesama. Jangan hanya mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan keadaan sekitar.

Keterangan 
Kali : Sungai
Ngalap berkah : mencari barokah sebagai perantara memohon kebaikan kepada Sang Pencipta.
Larung : sesaji yang dihanyutkan
Jolen : tempat sesaji
Ojo lengah : jangan lengah

 

#wisatamisteri