Kerajaan Halu dan Alasan di Balik Kemunculannya

Lambang Kekaisaran Sunda Nusantara. Foto: ist

Pengakuan Rusdi Karepesina (55) sebagai jenderal muda dari Kekaisaran Sunda Nusantara atau Imperial Army of Sunda Archipelago, kembali mengingatkan kita pada fenomena berdirinya kerajaan-kerajaan halusinasi beberapa waktu lalu. 

Rusdi ditangkap polisi di Tol Jagorawi arah Bogor karena mengendarai mobil Mitsubishi Pajero berpelat biru dengan nomor SN-45-RSD. Hal itu berbeda dengan pelat dan nomor kendaraan yang berlaku. 

Rusdi juga mengantongi Surat Kelayakan Mengemudi (SKM) yang mirip Surat Izin Mengemudi (SIM) serta kartu identitas layaknya KTP yang secara format juga berbeda. Surat-surat tersebut dikeluarkan oleh  Kekaisaran Sunda Nusantara. 

Menurut Rusdi  Kekaisaran Sunda Nusantara tidak dipimpin oleh kaisar, melainkan Panglima Majelis Agung  Archipelago yang saat ini dipimpin Alex Ahmad Hadi Ngala. Pusatnya berada di Depok, Jawa Barat.

Usai menjalani pemeriksaan di Mapolda Metro Jaya, kini Rusi telah dipulangkan. Belum diperoleh keterangan apakah Rusdi akan mengalami nasib serupa para petinggi kerajaan halu sebelumnya yakni Sunda Empire di Bandung dan Keraton Agung Sejagat di Purworejo.

Seperti diketahui di awal tahun 2020 lalu, tiga penggede Sunda Empire yakni Nasri Banks, Raden Ratna Ningrum, dan Raden Rangga Sasana serta pasangan penguasa Keraton Agung Sejagat Totok Santoso dan Fani Aminadia sempat mendekam dipenjara. 

Saat ini para petinggi Sunda Empire telah dibebaskan meski belum sepenuhnya menjalani masa hukuman karena mendapat asimilasi. Namun jika  berulah, mereka dipastikan akan kembali dibui untuk menyelesaikan masa hukuman selama 2 tahun karena melanggar pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946.

Petinggi Keraton Agung Sejagat juga sudah berada di luar penjara meski belum selesai menjalani masa hukuman selama 4 tahun penjara untuk Totok Santoso dan 1 tahun 6 bulan untuk Fani Aminadia yang dijatuhkan PN Negeri Purworejo tanggal 15 September 2020. Alasannya karena masa penahanan mereka sudah habis sementara putusan kasasi yang diajukan belum turun.

Selain Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat, ada juga kerajaan halu lainnya seperti  Paguyuban Tunggal Rahayu di Garut yang memiliki lambang negara dan mata uang sendiri. ‘Negara’ di Cisewu tersebut dipimpin Mister Sutarman, yang mengaku sebagai Profesor Dr Ir H Cakraningrat, SH. 

Kemudian ada juga King of the King di Bandung yang mengklaim sebagai penerus kejayaan penguasa bumi dengan wilayah kekuasaan mencapai 2/3 wilayah bumi.  

Lalu ada juga Kerajaan Ubur-ubur di Banten. Berbeda dengan kerajaan halu lainnya, Kerajaan Ubur-ubur tidak mengklaim apa pun. Kedua pemimpinnya yakni Rudi dan Aisyah hanya mengaku jelmaan Nyi Roro Kidul. 

Keberdaaan kerajaan-kerjaaan halu mestinya cukup ditertibkan terkait pelanggaran yang dilakukan semisal lambang negara, mata uang hingga plat nomor kendaraan. Tindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku. 

Tidak perlu dilakukan pendekatan represif sebab mereka tidak mengangkat senjata, atau memproklamirkan pemisahan dari NKRI. Bahkan sangat mungkin mereka hanyalah korban dari sebuah sistem atau tatanan yang ada. Seperti yang sering terjadi, krisis sosial, ekonomi dan politik diikuti dengan hilangnya kepercayaan kepada pemimpin formal atau nonformal. Kondisi demikian menjadi ladang subur bagi tumbuhnya komunitas yang ingin melepas diri dari ikatan sosial yang dianggap membelenggu. 

Terlebih ketika para pemimpinnya asyik dengan narasi yang sama sekali tidak memberikan solusi secara konkret, bahkan beda antara yang dijanjikan dengan fakta yang mereka hadapi sehari-hari. 

Munculnya kerajaan-kerajaan halusinasi yang disandarkan pada romatisme kebesaran masa lalu, kesukuan maupun klenik sangat mungkin lahir dari kondisi demikian itu. Dalam lingkup yang sempit, muncul individu-individu yang secara terang-terangan menolak kebijakan pemerintah karena merasa dirinya tidak terikat, tidak menjadi bagian di dalamnya.

Jika individu-individu itu berkumpul, maka yang terjadi kemudian terbentuk komunitas yang ingin menciptakan solusi secara instan. Komunitas ini dalam sekejap akan mendapat banyak anggota karena dianggap bisa membebaskan kesulitan yang mereka hadapi. Setidaknya impian yang ditawarkan nyambung dengan kondisinya.       

Peranyaannya, apakah saat ini kita sedang dalam fae krisis sosial dan ekonomi? 

Butuh kejujuran untuk menjawabnya.