Gaib Situ Cipondoh

Buaya Putih di Situ Cipondoh

Lokasi Situ Cipondoh yang strategis menjadikan salah satu destinasi wisata favorit keluarga. Walau desas-desus misteri melingkupi tempat itu, tetap tidak menyurutkan niatku untuk menyambanginya. Apalagi mendengar kabar makanan khasnya, yakni sate bandeng terkenal lezat. Sebagai pecinta kuliner, tanpa ragu kubawa sepeda motor menuju ke sana barangkali bisa mendapat ide peluang usaha.

Kolam besar buatan berisi air, dikelilingi pepohonan menghadirkan suasana teduh di wilayah perbatasan Jakarta-Tanggerang. Terdapat pula perahu tradisional maupun modern, salah satu yang digunakan sebagai penarik wisatawan berjajar rapih di berbagai sudut situ. Agar leluasa, aku bergegas memarkirkan kendaraan menuju saung paling sepi pengunjungnya.

Sejauh mata memandang, semburat cahaya matahari menyinari permukaan situ menimbulkan percik-percik bak manikam menambah indah penampung air buatan Kolonial Belanda yang diperuntukkan irigasi pada tempo dulu. Kabarnya puluhan tahun lalu tanggulnya pernah jebol, tetapi ada kekuatan gaib dari makhluk penguasa situ menahan air tidak membanjiri kawasan sekitar. Aku terkadang hanya tertawa jika mendengar hal konyol seperti itu.

Senja menepi menghadirkan kelamnya malam, tak kuhiraukan azan Magrib berkumandang mengalun syahdu. Aku masih duduk menikmati keindahan situ sambil ditemani kopi panas dan sate bandeng yang nikmatnya tiada tara. Tak terasa malam kian larut. Pengunjung mulai sepi saung serta warung sudah tutup, terdengar suara riuh di kejauhan saat hendak beranjak.   

Rasa penasaran menyeruak, kuikuti langkah sekelompok orang memainkan tetabuhan berirama mistis, beberapa di antaranya membawa berbagai jenis makanan. Mataku menyipit ketika pandangan menangkap sesuatu yang ganjil. Dua ekor kambing jantan diberi berbagai hiasan dibawa serta. Mereka menuju situ bagian selatan.

Ketika tiba di pinggiran situ, rombongan meletakkan seluruh bawaan termasuk dua ekor kambing jantan ke atas sampan bambu, lalu dilarung ke arah tengah. Seiring buih-buih akibat air bergejolak, muncul sepasang buaya putih berukuran besar yang langsung menyambar dan menyantapnya, menjadikan sebagian permukaan situ berwarna merah karena darah. Tanpa sengaja aku mengumpat dengan suara keras karena terkejut. Sontak semua melihatku dengan tatapan tidak senang. Jengah, aku pun memutuskan untuk pulang tak kuhiraukan beberapa orang berteriak mengingatkanku untuk berhati-hati.

Tiba-tiba kantung kemih terasa penuh, saat berjalan menuju parkiran. Memastikan aman,  aku membuang hajat di bawah pohon. Selepas itu melanjutkan perjalanan. Namun, langkahku terhenti, merasakan nyeri hebat di bawah perut hingga membuatku terjatuh. Teriakanku membahana memecah malam, menyaksikan kemaluan membengkak bagai balon ditiup. Tak kuat menahan sakit, pandangan pun menjadi gelap. Di ambang batas kesadaran, kudengar seseorang berkata, "Duh, Gusti! Ada lagi orang enggak punya adab, melanggar pantangan di situ ini, hingga Ki Sumpit dan Nyi Tunggal sang buaya putih menghukumnya."

 

 

Jkt 07