Wisata ke Taman Gombel Semarang

Pemandangan kota Semarang (sumber : jelajahpiknik.com)

Sebagai warga asli kota Semarang, pasti saya mengetahui tempat yang paling indah guna menikmati kota Semarang. Pada saat saya pulang mudik ke Semarang, saya dan teman-teman pasti pergi ke Taman Tabanas yang terletak di Bukit Gombel, Ngesrep, Banyumanik. Disini banyak terdapa kafe tempat bersantai sambil bernostalgia dengan teman-teman. Apalagi bila kami datang pada sore hari, setelah matahari terbenam, mulai muncul kelap kelip lampu yang mulai dinyalakan oleh warga kota Semarang. Pemandangan ini sangat indah bila kami saksikan dari Bukit Gombel.

Karena kami selalu datang pada sore hari  suatu kali saat kami sedang berkunjung ke salah satu kafe, seorang pelayan kafe mendekati kami dan menyampaikan sebuah pesan, "Hati-hati pak / ibu bila menjelang magrib, tolong anak-anak dijaga baik-baik agar tidak disembunyikan oleh Wewe Gombel." Sambil mengucapkan terima kasih, teman-teman yang membawa anak-anak langsung menggenggam tangan anaknya erat-erat. Lalu, secara iseng saya bertanya kepada pelayan itu "Mas, bisa tolong ceritakan kisah misteri di Bukit Gombel ini?".

Karena kebetulan kafe tidak terlalu ramai dan kami berkunjung bukan pada akhir pekan, maka pelayan itu agak santai. Dia mengambil tempat duduk diantara kami, lalu mulai bercerita. "Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dulu kawasan ini berujud kuburan Tionghoa. Karena Pemerintah Hindia Belanda ingin membuat jalan tembus Semarang-Solo, maka Pemerintah Hindia Belanda memaksa orang Tionghoa untuk memindahkan kuburan. Bagi orang Tionghoa kuburan adalah tempat yang dihormati karena merupakan makam leluhur. Sebagian orang Tionghoa yang masih tinggal di Jawa sempat memindahkan kuburan dengan ritual khusus. Namun orang Tionghoa yang sudah tidak tinggal di Jawa tidak sempat lagi memindahkan kuburan leluhur mereka. Dan ironisnya, Pemerintah Hindia Belanda langsung menguruk kuburan sehingga banyak makam yang tertimbun dibawah aspal jalan. Kabarnya, arwah-arwah yang kuburannya diganggu ini berkumpul pada sebuah tempat yang dikenal sebagai tikungan paling curam. Arwah-arwah penasaran ini kemudian dipimpin oleh sosok perempuan raksasa dengan payudara yang sangat panjang hingga menjuntai ke bawah, menurut kepercayaan Kejawen disebut Wewe Gombel. Itulah sebabnya nama bukit ini kemudian dikenal dengan nama Bukit Gombel. Wewe Gombel ini paling suka iseng dengan menyembunyijan anak-anak yang masih berkeliaran menjelang magrib. Selain itu tanjakan Gombel sering terjadi kecelakaan maut, konon menurut pengakuan pengendara yang selamat dari kecelakaan, mereka melihat orang menyeberang tiba-tiba atau wanita bergaun putih yang minta tumpangan, sehingga mengganggu konsentrasi berkendara. Bila banyak terjadi kecelakaan, warga biasanya patungan menanam kepala kerbau. Barulah frekuensi kecelakaan berkurang. Demikianlah cerita yang saya ketahui."

Saya dan teman-teman sangat senang mendengarkan cerita ini. Meski kami tumbuh besar dari bayi hingga dewasa di kota Semarang, kami belum pernah mendengar kisah misteri ini. Namun kami boleh merasa lega, sejak dibangunnya jalan tol, maka kami dan pengendara lain tidak perlu lagi melalui tanjakan Gombel. Yang penting, kami masih dapat meniknati pemandangan indah kota Semarang dari Bukit Gombel.

Setelah kami puas bercengkrama dan menikmati pemandangan kota Semarang di malam hari, kamipun pulang sambil membawa oleh-oleh cerita tentang Bukit Gombel.

 

#Warisan_budaya