Hardikan Gaib di Pantai Teluk Penyu

Sumber dok. Gita Fetty Utami

 

Cilacap memiliki beberapa pantai yang kerap jadi destinasi wisata, salah satunya adalah Pantai Teluk Penyu. Pantai yang berada di pesisir selatan ini memiliki ciri khas berupa ombak besar, dan warna pasir yang hitam eksotis. 


Dari bibir pantai terpampang hijaunya pulau Nusakambangan, yang seolah memagari  Cilacap. Kapal-kapal barang terlihat berlayar keluar masuk pelabuhan. Sesekali perahu nelayan melintas, mungkin mereka baru kembali dari melaut atau mengantar rombongan wisatawan ke pulau Nusakambangan. Nun di kejauhan tampak pula cerobong asap milik PLTU. 


Sementara di dekat area pantai, bersebelahan dengan Benteng Pendem peninggalan Belanda, terdapat Area 70. Di area ini, yang tertutup bagi wisatawan, Pertamina RU IV Cilacap mengolah minyak mentah di dalam tangki-tangki raksasa. Semua ini kontras dengan keberadaan perkampungan padat penduduk di sisi utara pantai. 


Saya pribadi kerap menyambangi Teluk Penyu bersama keluarga, di kala butuh penyegaran suasana. Waktu favorit kami tentulah di pagi hari, kala sengatan matahari belum terasa di kulit. Mengingat ombaknya yang cukup besar membuat kami tak berani berenang terlalu jauh apalagi ke tengah sana. Cukuplah bermain air di bibir pantainya saja.

Terkadang saya ajak anak-anak untuk menumpang duduk di salah satu perahu nelayan yang sedang ditambatkan. Mereka senang sekali berpura-pura pergi melaut. 


Jika sedang tak ingin bermain air, saya ajak anak-anak berjalan menyusuri jembatan pemecah ombak. Ada belasan jembatan yang bisa dipilih. Namun terus terang saya merinding berjalan hingga ke ujung yang menjorok ke laut itu, apalagi jika ombak datang menerpa. Jadi biasanya saya cukupkan langkah kami sekitar tiga atau lima meter saja. Jembatan-jembatan ini pun sering dimanfaatkan pengunjung pantai yang hobi memancing ikan, maupun penyuka swafoto.


Sebagaimana lazimnya tempat wisata, di pinggir pantai banyak terdapat rumah makan, kios cenderamata khas Teluk Penyu, hingga kios penjual ikan asin. Mereka biasanya buka pada hari libur. Biasanya saya dan keluarga membawa bekal sendiri. Usai bermain air kami tinggal mencari tempat di gazebo pinggir pantai. Voila! Suasana piknik pun tercipta. 


Mitos Mistis di Pantai Teluk Penyu


Sebagai bagian dari  pantai di pesisir selatan Jawa, pantai Teluk Penyu  tak lepas dari mitos mistis mengenai  Nyi Roro Kidul. Secara tak tertulis ada pantangan bagi pengunjung pantai untuk memakai pakaian berwarna hijau pupus. Sebab warna tersebut  konon merupakan kesukaan Sang Nyai penguasa laut Selatan. Apabila pantangan ini dilanggar maka dikhawatirkan bakal mengancam keselamatan si pengunjung pantai tersebut. Dia bisa saja disambar ombak lalu tenggelam.

Selain warna baju, ada juga kepercayaan masyarakat mengenai tumbal bagi laut selatan. Pengunjung yang terpilih akan diambil oleh sang penguasa laut, untuk dijadikan abdi atau pelayan kerajaan lelembut. 


Saya jadi teringat kisah seram yang saya dengar belum lama ini, kala mengunjungi rumah tetangga. Kita sebut saja namanya Koso.  Lelaki berusia akhir tiga puluhan asli Cilacap ini pernah dua kali menyelamatkan orang di pantai. Peristiwa pertama terjadi kala dia tengah duduk memancing, di pinggir salah satu jembatan pemecah ombak Pantai Teluk Penyu. Saat itu tiba-tiba ada  ombak besar datang. Nahas, seorang pemancing lain di dekat Koso tersambar lalu jatuh ke laut. Spontan Koso  terjun untuk menyelamatkan korban. Dia  berhasil. Lelaki yang tercebur itu masih ditakdirkan berumur panjang.


 Peristiwa kedua terjadi selang beberapa minggu kemudian. Ketika itu Koso kembali memancing di salah satu jembatan pemecah ombak. Dia tak sendirian, beberapa pemancing lain memilih spot yang sama dengannya. Ketika mereka tengah khusyuk menekuri joran, datanglah ombak besar menerpa para pemancing. Salah satu pemuda tak kuat menahan terpaan ombak, dia tercebur ke laut. Refleks teman-temannya berusaha menolong, termasuk  Koso. 


Lelaki ini segera terjun ke titik jatuh si pemuda tadi. Kemudian dia menyelam dengan harapan berhasil meraih tangan korban.Saat itulah Koso mendengar hardikan.

"Heh! Wingi kowe wis njukut bagianku, siki arep njukut maning?! Tak pangan sisan kowe!" (Heh! Kemarin kamu sudah mengambil bagianku, sekarang mau mengambil lagi?! Kumakan sekalian kamu!).


Koso tercekat kaget sekaligus ketakutan. Dia buru-buru naik ke permukaan air, lalu memanjat kembali ke jembatan. Teman-teman si pemuda tadi menarik tubuhnya.

"Gimana, Mas? Kelihatan nggak tadi teman kami?" tanya salah seorang di antara mereka. 


Koso menggeleng lesu. "Maaf, Dek, saya nggak bisa melihat teman kalian. Sekarang lebih baik kalian hubungi tim SAR saja," sarannya. 


Kemudian pencarian si pemuda tadi dilanjutkan dengan bantuan tim SAR. Namun korban tak kunjung ditemukan, hingga melewati batas waktu yang ditentukan. Kami yang mendengar cerita Koso jadi bergidik ngeri. Peristiwa yang dialaminya memang terjadi jauh sebelum masa pandemi, tetapi tak melunturkan kesan mistisnya. 


 Saya jadi ingat pernah beberapa kali  memperhatikan perubahan ombak. Jika awalnya tinggi ombak terlihat biasa sehingga kami tenang bermain air, nanti tahu-tahu ombak membesar lalu menghantam hingga kami gelagapan. Seolah-olah si ombak pandai mencari kelengahan pengunjung pantai. 


Akan tetapi seyogyanya mitos maupun peristiwa seram tersebut di atas tidak menimbulkan ketakutan berlebihan dalam diri kita. Sebab sejatinya dunia gaib memang ada. Tinggal kita  sendiri yang harus tetap eling, waspada, serta selalu minta perlindungan pada Allah. Sehingga saat berwisata  kita tidak kehilangan kontrol diri. Dan bukankah mengagumi keindahan alam termasuk bagian mengagungkan kebesaran Sang Maha Pencipta? 


Salam dari Cilacap. (*)


C, 060521

#wisatamisteri