Penunggu Kota Tua

Salah satu sudut bagian di Kota Tua.

Hujan deras membuat para pengunjung yang berkumpul sontak berlarian tak mau jika pakaian dikenakan basah. Namun, lain halnya dengan Amara, gadis itu tetap berdiri di tengah tanah lapang luas yang dikelilingi bangunan bersejarah. Tangan terkepal kencang, sedangkan dari bibirnya terdengar tangisan pilu. Amara kini terlihat berbeda tidak seperti biasa.

"Kesurupan!" Dari kerumunan terdengar suara pria berteriak, disusul riuh menyetujuinya.

Amara berlarian kian kemari mengikuti irama derai hujan yang mulai reda. Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, seseorang memegang tangannya meniupkan doa di telinga dan mengusapkan air ke wajah gadis itu. Perlahan netra Amara terbuka, mencari sosok dikenal di antara orang-orang yang mengerumuninya. Tak lama kemudian datang tergopoh-gopoh pria muda, langsung mengajak Amara pergi setelah mengucap terimakasih kepada sang penolong.

Kengerian sesaat yang ditimbulkan Amara di tempat wisata yang biasa disebut Kota Tua, tidak terlalu berpengaruh kepada pengunjung. Terbukti, tambah larut malam semakin ramai. 

Sebagai tujuan wisata di Jakarta, Kota Tua sangat istimewa terlihat dari deretan musium dan gedung-gedung peninggalan jaman Belanda yang mampu membuat turis lokal maupun asing datang berburu objek foto. Salah satunya Amara. Awalnya datang untuk memuaskan hasrat dalam fotografi, sehingga saat Kevin--sahabatnya--mengajak, dia langsung setuju. Spot-spot menarik ditangkap melalui kamera canggih. Dari Gedung Merah, Musium Wayang, hingga berakhir di pelataran Musium Fatahillah.

Ketika Amara menunggu Kevin membeli minuman, tiba-tiba melintas anak perempuan berpakaian ala Eropa. Tertarik, memutuskan mengikuti. Dipikirnya salah satu penghibur yang banyak ditemukan di tempat itu, untuk mendapatkan sedikit uang receh dari pengunjung. Namun, langkah Amara terhenti saat sosok diikuti menghilang. Kini tepat di bawah tiang besar yang berada di depan Musium Fatahillah, pandangan Amara terus mencari objek yang tadi telah membuatnya sampai di sini.

"Help mijn Mama!" Amara tersentak. Tangan kecil menarik bajunya. Anak perempuan yang dicari, tanpa diduga berada di sampingnya. Rambut kuning serta wajah berlumuran darah, menyeringai seraya menunjuk ke atas tiang. Tubuh lemah tergantung dengan leher terbelit tali terjatuh menimpa Amara. Teriakan Amara tertahan suara hujan yang tiba-tiba turun deras, hanya pasrah saat perlahan sosok-sosok tak kalah mengerikan menghampiri, merasuki tubuhnya.

Sebenarnya kasus kerasukan yang terjadi di Kota Tua bukan hal aneh, bahkan sering terjadi. Lumrah, karena banyak kisah kelam di wilayah tersebut. Pembantaian terhadap orang-orang Belanda, saat kekuasaan Bangsa Jepang, hingga hukuman mati sering dilakukan di depan Gedung Fatahillah yang dulunya adalah pusat pemerintahan pada masa Kolonial.

Jadi hendaklah selalu waspada, jangan kosong pikiran jika berkunjung ke Kota Tua agar roh-roh yang masih berkelana tidak merasuk ke diri.

 

 

*Help mijn Mama--- Tolonglah Mama saya.