Misteri Sungai Golan dan Mirah

Ilistrasi, wisata Ponorogo

 

Ponorogo adalah salah satu kabupaten dengan sejuta kisah, dengan banyak kesenian dan tempat wisata atau petilasan yang begitu dikenal akrab di kalangan masyarakat. Banyak legenda turun-temurun yang harus dijaga kelestariannya. Selain menambah keragaman, juga merupakan sebuah warisan budaya yang harus diakui secara sah di mata Negara Indonesia maupun dunia. Petilasan Warok Honggolono adalah satu dari sekian cerita yang masih berkembang pada masyarakat bumi wengker hingga saat sekarang. 

Berawal dari rasa penasaran, saya menghubungi kerabat yang bernaung dalam sebuah komunitas situs bersejarah di tlatah Jawa. Sosok yang tak kenal lelah untuk menaklukkan rasa penasarannya atas teka-teki sejarah. 

Mas Dwi, dialah salah satu sosok yang telah melanglangbuana demi membuktikan kisah-kisah sejarah yang tidak salah jika kita ketahui kebenarannya. Warga asli Ponorogo itu menceritakan tentang dua buah desa yang mengharamkan warganya saling berhubungan, bekerja sama, bahkan menikahkan pemuda-pemudi mereka dengan alasan apa pun. Nama desa itu adalah Mirah dan Golan. 

Mas Dwi menuturkan bahwa legenda haramnya hubungan kedua desa dilatarbelakangi oleh cerita percintaan antara Joko Lancur, anak Warok Honggolono dari Desa Golan dan Putri Mirah Kencana Wungu, putri Ki Ageng Mirah dari Desa Mirah. Kedua tokoh berpengaruh tersebut juga yang melatar belakangi nama kedua desa.

Komunitas pencinta situs sejarah menceritakan bahwa Warok Honggolono adalah salah satu punggawa warok Ki Ageng Kutu, sang penguasa bumi wengker -sebutan Kabupaten Ponorogo saat itu-. Sedangkan Ki Ageng Mirah adalah pemimpin yang disegani. 

Pada masa itu, Ki Ageng Mirah melakukan lelaku spiritual, yaitu berjalan mengembara tanpa henti, sejauh mungkin, sambil menyebarkan agama Islam, hingga sampailah ia di Desa Mirah. Karena merasa cocok, kemudian ia memutuskan untuk menetap di sana.

Ki Ageng Honggolono sendiri mempunyai putra yang sangat tampan bernama Joko Lancur. Putra semata wayangnya itu hobinya hanya bermain judi dan sabung ayam. Pada suatu ketika, ayam jago milik Joko Lancur lepas, berlari dari arena judi sabung ayam. Sontak Joko lancur mengejar dan menemukan ayamnya mengarah ke rumah Ki Ageng Mirah. 

Sesampainya di rumah Ki Ageng Mirah, betapa terkejut pemuda gagah itu menyaksikan kecantikan Putri Mirah yang konon dalam pingitan. Singkat cerita Joko Lancur bertemu dengan Mirah, dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Hubungan keduanya berlanjut, sampai saat tiba Joko Lancur berniat ingin melamar Mirah. Mengetahui sifat dan watak Ki Ageng Honggolono, ayah Mirah tidak rela putrinya dinikahi oleh Joko Lancur. Dengan berbagai pertimbangan, ia mengajukan beberapa syarat. Pertama, Ki Ageng Honggolono harus membuat bendungan untuk dialirkan ke Desa Mirah dalam waktu semalam. Kedua, seserahan berupa lumbung padi dan lumbung kedelai harus selalu penuh. Dan syarat ketiga, lumbung tidak boleh diangkut manusia, harus datang dengan sendirinya.

Bagi warok yang sakti mandraguna, syarat itu bukanlah hal sulit bagi Ki Honggolono. Namun di sisi lain, Ki Ageng Mirah menyadari akan adanya kejadian besar. Beliau hanya bisa berdoa supaya desa yang dipimpinnya dijauhkan dari segala marabahaya.

Hari itu pun tiba. Semua syarat sudah dipenuhi oleh Ki Ageng Honggolono. Namun apa yang terjadi? Atas kesaktian Ki Ageng Mirah, lumbung yang berisi padi berubah jadi jerami, lumbung kedelai berubah tinggal kulitnya saja, damen dan titen. Rupanya sang calon besan melakukan kecurangan, menghalalkan segala cara demi mewujudkan keinginan putranya untuk menikahi Putri Mirah. Ki Ageng Mirah tahu bahwa persembahan dari sang calon besan hanyalah tipuan belaka.

Sebaliknya, merasa dirinya dipermainkan, Ki Ageng Honggolono marah besar. Seiring amarah yang membuncah terlepaslah sumpah dan kutukan dari mulutnya. Orang Mirah dilarang berhubungan dengan orang Golan untuk selamanya, begitu juga sebaliknya. Bukan hanya itu. Hasil bumi dan segala yang berasal dari kedua belah desa tidak boleh disatukan. Jerami dan kedelai pun haram dimiliki kedua desa tersebut. 

Seketika itu Mirah yang mendengar sumpah tersebut merasa hancur hatinya. Ia jatuh sakit dan meninggal dunia. Melihat gadis pujaannya meninggal, Joko Lancur mencabut keris di pinggang, kemudian menusukkan ke dadanya sendiri. Ia mengakhiri hidup, demi perasaan cintanya pada sang kekasih hati.

Anehnya, terbawa sumpah serapah Honggolono, sungai yang dulunya mengalir di kedua desa pun mendadak mendapatkan imbasnya. Tiba-tiba berbalik arah tanpa sebab, dan tak pernah bisa bersatu. Air yang mengalir dari Desa Golan tak bisa mengalir ke Desa Mirah, begitu juga sebaliknya. Keduanya berbalik arah saat bertemu, bahkan hingga sekarang. 

Mas Dwi juga menuturkan, aliran sungai yang berbalik arah itu masih saja menjadi salah satu destinasi wisata, dan bisa ditonton warga dengan mata kepala biasa. Meski tampak tak istimewa, ada ribuan tanya yang tak pernah mendapat jawabnya. Siapa pun yang datang menyaksikan sendiri keberadaan wisata sungai Mirah dan Golan akan berpikir sama. Tak bisa dinalar. Bagaimana bisa air yang harusnya sealiran itu berbalik arah, saling tolak menolak?

Hingga kini, kedua desa tersebut tak pernah bisa bersatu. Jangankan menikahkan putra-putri mereka, bertamu saja menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan bisa terjadi, apalagi sampai berhubungan dalam hal pekerjaan dan lain-lain. 

Percaya atau tidak, terlepas fakta atau mitos, sungai itu menyimpan misteri. Menjadi bukti nyata bahwa sumpah Ki Ageng Hanggolono bukan main-main. Sumpah itu tetap berlaku meskipun kedua tokoh besar tersebut memutuskan taubat dan mendalami ilmu Islam pada seorang kyai. 

Sobat Rimis, misteri sungai Golan dan Mirah adalah satu destinasi wisata yang patut dikunjungi. Karena di sanalah sejarah dimulai. 

#wisatamisteri