Antara Roro Kuning, Petilasan Panglima Sudirman, dan Trisula

Ilustrasi, facebook

 

Tempat wisata adalah satu dari sekian banyak yang menjadi icon atau salah satu daya tarik sebuah kota. Setiap daerah juga memiliki tempat wisata dengan sejarah yang berbeda-beda. Bahkan, kisah tersebut melekat di hati warga dan tak mudah lepas dari sanubari. Sebagian masyarakat percaya bahwa dari balik kisah tersebabnya tempat wisata tersebut menyimpan sejuta berkah dari Sang Maha Daya. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa itu semua hanya mitos belaka. 

Seperti halnya tempat wisata yang terkenal di Kota Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, yaitu Air Merambat Roro Kuning. Tempat wisata berupa air terjun tersebut merupakan salah satu tujuan wisata Kota Bayu, baik lokal maupun mancanegara. Setelah Air Terjun Sedudo tentunya.

Air Merambat Roro Kuning yang letaknya di Desa Bajulan, di kaki Gunung Wilis itu selain tampak indah, sejuk, dan asri, juga menyimpan sejuta misteri yang masih diyakini hingga kini. 

Saat itu saya berkunjung ke Air Merambat Roro Kuning bersama suami dan anak-anak. Selain air merambat, ada beberapa wahana yang menarik sehingga tempat tersebut cocok dijadikan destinasi wisata segala usia. Ada kolam renang, wahana bermain anak, daerah pegunungan yang bisa dijadikan spot foto cantik, dan bangunan petilasan Panglima Sudirman. 

Dari keterangan seorang wanita penjual gorengan yang berada di pinggir jalan menuju pintu masuk area, saya dapatkan sebuah kisah. Konon, Air Merambat Roro Kuning yang diminati masyarakat itu awalnya adalah air terjun biasa, namun menjadi istimewa setelah kehadiran Putri Roro Kuning. Roro Kuning sendiri adalah seorang putri dari Kerajaan Kediri. Ia menderita penyakit kulit yang tak kunjung membaik. Kondisi tersebut memaksanya melakukan perjalanan dari hutan ke hutan untuk mencari kesembuhan hingga bertemu dengan seorang resi bernama Ki Darmo. Di sana sang putri mendapatkan jawaban atas segala doanya.

Dengan proses pengobatan yang cukup panjang, penyakit Roro Kuning perlahan sembuh dan tak meninggalkan bekas. Dan karena kebiasaannya bersemedi di bawah air terjun, sang resi menamakannya Air Terjun Roro Kuning. Namun, proses perambatan air dari celah batuan, membuatnya dikenal sebagai Air Merambat Roro Kuning.  

Saat memasuki area wisata, patung Roro Kuning berwarna emas dengan senyum yang anggun menyambut pengunjung. Selendangnya seolah berkibar ditiup sang bayu. 

Berdasar keterangan ibu penjual gorengan pula, jika malam tiba, tampak seorang wanita berkeliaran di sekitar patung tersebut. Begitu juga ketika kejadian beliau kemalaman di lapak karena hujan yang tak kunjung mereda. Ia melihat dengan mata kepala sosok putri tersebut. Meski parasnya tampak cantik diterpa sinar rembulan malam itu, wanita penjual gorengan tetap saja merasa ketakutan. Sebagian warga meyakini itu adalah penampakan dari Putri Roro Kuning. Belum lagi kisahnya tentang suara  keramaian menyerupai pasar di sekitaran patung. Padahal malam gelap dan sepi. Tak ada siapa-siapa. Kemungkinan itu adalah bagian dari aktifitas mereka yang tak tampak oleh mata kita.

Ada lagi, di sisi jalanan berjarak beberapa meter seringkali tiba-tiba basah meskipun hari sedang tak hujan. Jarak air terjun yang lumayan jauh pun tidak memungkinkan percikannya hingga ke jalanan. Menurut  warga pula, air tersebut pertanda akan adanya marabahaya. Jika mengetahui hal tersebut, jangan lanjutkan perjalanan, berbaliklah! Jangan melawan! Karena jika tidak, akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Wallahu'alam.

Di sisi lain, sebuah bangunan kecil yang tampak biasa saja adalah bukti sejarah petilasan Panglima Sudirman. Beliau pernah singgah selama satu minggu saat melakukan gerilya pada jaman penjajahan Belanda. Meski tampak sederhana, bangunan itu masih terawat dengan baik. Menambah kesan bersejarah tempat wisata yang masih eksis hingga sekarang. 

Air Merambat Roro Kuning mengalir perlahan sampai ke muara membentuk trisula. Konon, diyakini bahwa trisula adalah bentuk senjata sakral dan memiliki sejarah tersendiri bagi warga Kota Bayu yang sampai kini menjadi sebuah misteri. Keberadaannya belum juga bisa ditemui, meski para pemburu senjata misteri berlomba mencari. Trisula diberitakan masih bersembunyi di alam ghaib.  

Mengakhiri pembicaraan tentang Air Merambat Roro Kuning, ibu separo baya itu berpesan agar kami selalu berhati-hati. "Eling marang seng kuasa, supaya ora kena mala." (ingat pada yang maha kuasa supaya terhindar dari bencana)

Dengan segenap hati, kami pun mohon diri, berharap bisa menuliskannya kembali suatu hari nanti. Syukurlah sebuah event menggerakkan jemariku hingga kisah ini sampai ke halaman Risalah Misteri.  

 

#warisan_budaya