Penunggu Kahyangan

Wisata Kahyangan dengan salah satu penghuninya

Rasa penasaran menyeruak di pikiran, saat mendengar obrolan Ibu-ibu tetangga dengan penjual sayur yang biasa mangkal di depan rumahku. Meski mereka berbahasa daerah, tetapi sedikit banyak aku mengerti. Pembicaraan mereka tentang orang terpandang yang ditemukan meninggal di sebuah tempat bernama Kahyangan, setelah pamit dari rumah tiga hari lalu. Tubuhnya membusuk dengan lidah menjulur, desas-desus beredar pria itu melakukan ritual mencari kekayaan dan tampaknya penghuni ghaib tempat tersebut tidak berkenan hingga membunuhnya.

Selepas membayar belanjaan, gegas aku menelusuri salah satu aplikasi di ponsel pintar, tentang tempat itu.  Sungguh mencengangkan mendapati info yang sangat menarik, membuatku terbelalak antara kagum dan ngeri.

Wisata alam indah, terletak di Desa Dlepih Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah, tempat terpencil yang terdapat sungai jernih mengalir di perbukitan dengan dikelilingi pepohonan rindang. Kabarnya sungai tersebut menjadi tempat pemandian bagi para bidadari. Konon Kahyangan juga merupakan tempat kesukaan pendiri Kerajaan Mataram Islam, yakni Panembahan Senopati mencari wangsit dan berbagi kasih dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa laut Selatan.

Berbagai tempat keramat terdapat di Kahyangan, di antaranya Selo Benthek dan Selo Payung, semacam petilasan bagi pelaku spiritual ngalap berkah, walau banyak yang ditemukan tidak bernyawa tak menyurutkan niat orang-orang tersebut. Aku terus berdecak kagum membaca artikel yang memuat tentang Kahyangan, hingga jiwa petualangku meronta. Kupastikan saat libur mengajar akan mengunjunginya, apalagi letaknya tidak jauh dari lokasi rumah baru yang kutempati sebulan belakangan ini.

Hari dinanti tiba. Dari info yang kubaca, di Kahyangan tidak banyak penjual makanan hingga aku persiapkan bekal cukup untuk dua orang, aku dan suami. Mas Danu--suamiku--awalnya melarang datang ke Kahyangan, khawatir terjadi sesuatu tak diinginkan karena dia tahu istrinya mempunyai indera keenam. Namun, setelah kurayu dengan memastikan akan baik-baik saja, akhirnya mengijinkan. Syaratnya dia harus menemaniku.

Sampai juga ke tempat yang dituju, entah kenapa  aku merasa pernah mengunjungi Kahyangan. Ataukah perasaanku saja karena terlalu terpesona dengan keindahan dan kesakralannya?

"Mas'e tunggu! Sampeyan ndak boleh masuk ke Kahyangan!" Seorang pria muncul dari rimbunnya pepohonan, saat aku dan Mas Danu hendak memasuki wilayah yang dibatasi gapura.

"Nopo, Pak?" tanya Mas Danu. Pria tersebut menuturkan salah satu larangan keras di wilayah tersebut adalah tidak boleh memakai baju atau benda berwarna hijau pupus, karena itu kesukaan penguasa ghaib, yakni Kanjeng Ratu Kidul. Jika memaksa maka akan terjadi hal mengerikan.

Mas Danu mengajak pulang, tetapi aku bersikeras melanjutkan perjalanan sendirian. "Tenang saja, Mas. Aku'kan Karateka, kalau ada yang macam-macam tinggal kutendang saja." Walau terlihat berat, akhirnya Mas Danu menyerah.

Kekagumanku semakin menjadi, saat melihat langsung di depan mata sungai dengan air jernih mengalir deras seakan menghanyutkanku ke masa lampau ketika para bidadari cantik membersihkan diri di dalamnya. Pandanganku teralihkan, melihat deretan tangga menuju atas perbukitan. Langkah pasti menuju ke sana, tetapi keanehan terjadi.  Angin yang awalnya berdesir lembut tiba-tiba terhenti, cuaca tadinya cerah berubah gelap langit digelayuti awan kelabu. Suara desisan kencang terdengar, berasal dari ular putih di atas batu besar yang  menatapku. Perlahan bentuknya berubah menjadi wanita cantik bermahkotakan emas permata. Dia memberi tanda agar aku mendekat. Kusadari memang tidak ada orang lain lagi di sini kecuali aku dan sosok wanita misterius itu.

Aroma melati menyentuh indera penciuman tatkala jemari tangannya menyentuh wajahku. Kini aku melihat bayangan-bayangan seperti layaknya slide film, menampilkan kejadian seseorang yang berwajah mirip denganku. Setelah semua usai, aku pun tersenyum. Kini semua pertanyaan di hatiku telah terjawab mengapa sangat tertarik tempat ini. Sosok wanita tersebut kemudian menghilang diiringi desisan yang sama keluar dari bibirku.