Berkah Ilahi

Anak perempuan disia-siakan, akhirnya mendapat kebahagiaan. Bertemu orang yang tepat.

Bulir air mata tampak membasahi pipi Rang,  anak perempuan Bik Tini--tukang cuci di rumahku-- setelah aku berjanji akan membelikan baju dan sandal untuknya.

"Kok, kamu nangis, Rang?" ujarku, seraya merengkuh bahu tipisnya.

Rang menghapus air matanya, lalu berkata, "Ibu  Sari baik banget. Saya tidak pernah diperlakukan seperti ini, bahkan oleh orang tua saya sendiri."

Aku tertawa menanggapi perkataan anak perempuan yang kutaksir berusia sebelas tahun. Sebenarnya wajah Rang sangat cantik. Mata dihiasi bulu lentik, hidung bangir, dan dagu bagai lebah bergantung.  Sayang, sepertinya Bik Tini kurang memperhatikannya. Terlihat dari baju lusuh, kulit menghitam, disertai aroma menusuk indera penciumanku. Pantas saja, Rang tidak mempunyai teman.

Rang masih terduduk di kursi teras, saat kumenyuruhnya ke dapur untuk mengambil makanan buat berbuka puasa. Kebetulan tadi aku masak banyak, lebih dari cukup buatku  dan Mas Sakha--suamiku--tetapi dia menolak. Katanya takut dimarahin Ibunya. Namun, aku memaksa menuntunnya memasuki rumah. Dua rantang berisikan penganan kuberikan, disambut senyum ceria disertai ucapan terimakasih berulang dari bibir tipis Rang.

Keesokan pagi, dengan tergesa Bik Tini memasuki pekarangan rumahku. Dari raut wajahnya terlihat rasa khawatir.

"Ada apa, Bik? Bukannya hari ini libur nyucinya?" tanyaku heran.

Bik Tini menarik napas sebentar, kemudian berkata, "Apa kemarin Rang ke sini, Bu?" Aku mengangguk. Ucapan Bik Tini selanjutnya membuatku terkejut, dia bilang jangan dekati Rang, jika tidak ingin bernasib sial.

"Apa maksud Bik Tini? Rang, anak yang baik. Saya senang berbicara dengannya."

"Sebenarnya Rang itu, bukan anak saya, Bu. Suami menemukannya di tempat sampah, badannya dikerumuni semut rang-rang. Makanya saya memanggilnya Rang, agar jika besar nanti mampu menghadapi semua rasa sakit di dunia, seperti dia kuat menahan gigitan dari semut itu, tapi malah penderitaan dialami keluarga berturut-turut semenjak menemukannya. Kecelakaan menimpa suami mengakibatkan kematiannya, lalu usaha dagang saya yang bangkrut secara tiba-tiba. Belum lagi hal lainnya, pokoknya Rang itu pembawa sial. Ibu kalau tidak percaya tanyakan saja pada orang-orang." Bik Tini menjelaskan semua perihal Rang, semua itu membuatku terkejut. Belum lagi Bik Tini melengkapi dengan mengatakan Rang tidur di luar rumah, karena takut kesialan akan menimpa keluarganya.

Selepas kepulangan Bik Tini, aku memikirkan Rang. Kasihan sekali nasibnya. Ternyata selain yatim piatu dalam hidupnya tidak mendapatkan  kasih sayang. Terbersit dalam pikiranku untuk mengangkat sebagai anak. Selain tidak tega melihat kondisinya, pernikahanku yang berjalan hampir sepuluh tahun belum juga dikaruniai keturunan karena menurut Dokter, rahimku bermasalah. Aku berharap rencanaku disetujui Mas Sakha.

Sore harinya menunggu waktu berbuka puasa, mall dekat rumah menjadi tujuanku. Berbagai jenis barang kubeli, di antaranya baju dan sandal Rang. Kutersenyum di belakang kemudi menuju arah pulang, membayangkan Rang akan senang menerimanya.

Aku tersentak melihat kerumunan orang di jalan. Sekilas melihat Rang di tengah mereka. Kuputuskan berhenti dan menghampiri.

"Hei, apa yang kalian lakukan?" teriakku, saat melihat Rang diikat tangan dan kakinya. Bahkan beberapa perempuan memukulinya. Aku berusaha melepas ikatan Rang, walau beberapa orang mencegahnya. Mereka akhirnya membiarkanku karena tahu aku adalah istri dari perwira kepolisian yang baru bertugas di wilayah ini.

Ketika, aku mengajak masuk Rang ke mobil, terdengar teriakan seseorang mengatakan kesialan akan kuhadapi karena membela anak pembawa petaka.

Rang terus saja menangis, saat sampai di rumahku. Aku berusaha menenangkan dan bertanya dengan pelan apa yang sebenarnya terjadi. Meluncurlah kata-kata yang membuat rahangku mengeras karena emosi. Ibunya telah menjual kepada pria tua untuk dijadikan simpanan, karena tidak mau Rang mendorong pria tua tersebut ke dalam selokan. Sehingga memicu kemarahan keluarga si pria.

Setelah di dalam rumah aku menyuruh Rang mandi, karena tubuhnya kotor serta penuh luka gores karena perlakuan orang-orang tidak punya hati itu. Tak lama kemudian azan Magrib berkumandang. Gegas, berbuka puasa bersama Rang. 

Setelah salat Magrib, aku mengajak Rang Tarawih di masjid, Awalnya dia menolak, tetapi matanya membelalak indah saat dikeluarkan mukenah putih yang baru kubeli dari almari. Anggukkan dan senyuman mewarnai wajahnya. Kami pun berangkat bersama. Sepanjang perjalanan orang-orang memperhatikan dengan tatapan tidak senang. Namun, aku tidak memperdulikannya. Bagiku Rang, anak baik. Begitu juga pendapat Mas Sakha setelah bertemu Rang. Suamiku terlihat terenyuh.

Semenjak Rang tinggal di rumahku, merupakan kenikmatan luar biasa di bulan Ramadan. Kali ini aku tidak kesepian lagi jikalau Mas Sakha tugas ke kota. Ada yang menemani memasak, belanja ke pasar, bahkan membaca Al-Quran. Tidak kusangka dia rajin juga pandai mengaji,  menyesal pastinya Bik Tini merelakan Rang ikut denganku setelah kugelontorkan uang dalam jumlah besar.

Akhirnya hari kemenangan bagi kaum muslim tiba. Gema takbir mengalun indah mewarnai keceriaan. Selepas salat Ied, Rang rapih mengenakan gamis merah muda, wajahnya berseri. Berbeda saat pertama kali bertemu, aku dapat merasakan kebahagiaan pada dirinya. Namun, semua berubah kalut, ketika pandanganku menjadi gelap. Sesaat kuingat Mas Sakha tampak panik, Rang memeluk erat sambil mengelus perutku, kebiasaan yang dilakukannya sejak ikut denganku. Katanya sebentar lagi ada bayi di perut Ibu. Aku tertawa miris.

Aku membuka mata, saat suara lembut memanggil, ternyata Rang berbisik di telinga agar kesadaran datang padaku. "Ibu, bangun."

"Sayang, tadi aku memanggil Dokter Sherly untuk memeriksa kondisimu. Kamu disuruh istirahat dan konsumsi makanan bergizi." Mas Sakha teramat antusias melihatku telah sadarkan diri. Gegas, dia memeluk dan menciumku. Rang memandangi kami sambil tersenyum malu.

"Mas, malu ada Rang."

"Biarkan saja, dia 'kan sudah jadi anak kita," ujar Mas Sakha seraya memberi tanda pada Rang untuk mendekat. Hatiku dipenuhi kebahagiaan, apalagi ketika suamiku yang tampan itu melanjutkan perkataannya lagi. "Kamu tahu Sari Sayang? Sebentar lagi Rang akan mempunyai adik. Ada janin tumbuh di rahimmu."

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa mengucap syukur. Di hari kemenangan ini mendapatkan nikmat luar biasa. Orang-orang itu salah. Rang bukan pembawa sial dan petaka. Namun, berkah dari Ilahi.


#Lebaran_Syahdu