Perempuan Berdaster Kupu-Kupu

Ilustrasi by Pikist

Orang tuanya baru saja beranjak pergi saat Lutfi kembali masuk ke pesantren. Raut wajahnya berubah seketika mendapati pesantren sudah tak seindah tadi. Mendadak ia berselimut rasa takut.
Aku pun sama.

Dinding-dinding yang roboh lagi usang. Cahaya bulan menyorot mayat bergelimpangan di halaman. Sarang laba-laba bertaut bak benang hitam kusut hampir di setiap sudut. Gelap memeluk erat. Hawa dingin menyelinap ke leher melengkapi keheningan.

Aku menangis. Entah sudah ke berapa. Ia mendekatiku. Kupeluk tubuhnya yang berguncang hebat menahan rasa takut. Aku tahu, ia ingin pulang sesegera mungkin.

Perempuan dengan daster motif kupu-kupu bersimbah darah, mengitari mayat di halaman. Lehernya melongok kesana kemari seperti mencari sesuatu. Perempuan tua di luar pesantren mengusap hujan yang jatuh dari pelpupuk mata. Begitu setiap kali kulihat. Lutfi semakin terlonjak, matanya terpejam kuat.

"Broto, kembalikan milikku, kembalikan!!"

Sedetik kemudian terdengar isakan tangis  dari sudut berbeda. Suara perempuan tadi juga entah dari mana. Begitu setiap kali kulihat.

Lutfi tak kuat lagi, air matanya mulai menganak sungai. Tiada henti ia memanggil ayah dan ibunya. Sebagian santri berjongkok di dekat pintu masuk mengharap kedatangan orang tuanya. Letak pesantren yang berada di ujung desa membuat takjub siapa saja yang memandangnya. Padahal itu semua semu.

***

Aku muak melihat ulah Broto. Ambisi untuk kaya lewat usaha sendiri atas permintaan Kirana, membuatnya gelap mata. Malam itu aku melihat Kirana diajak pergi, sepertinya hendak berkencan. Satu jam kemudian, kudengar suara Kirana berontak karena dibungkam. Sepertinya Kirana sudah mengetahui kelicikan Broto. Itu suara terakhir Kirana yang kukenang. Selanjutnya, isak tangisnya memenuhi seisi pesantren di kala petang mulai menjelang.

Broto sangat mencintai Kirana. Tetapi Kirana tak suka sikap Broto yang selalu menyombongkan harta orang tuanya. Dengan segala cara, Broto akan menaklukan pujaan hatinya. Setiap malam, kudengar Broto mengajak satu per satu santri ke sungai dan keesokan harinya hanya tinggal nama, entah jasadnya di mana. Karena banyak memakan korban, pesantren ditutup. Tetapi tekad Broto belum surut.

Meskipun jalan pesugihan yang  ditempuh ialah untuk membuktikan pada Kirana bahwa ia bisa kaya atas usahanya sendiri dan Kirana sudah dilenyapkan, ia tetap melakukan ritual. Baginya Kirana tak pernah mati. Harta yang ia kumpulkan untuk Kirana seorang. Selamanya ritual itu akan terus dilakukan agar cintanya pada Kirana abadi selalu.

Pesantren yang sudah lama ditutup masih terlihat keindahannya karena Broto telah meminta bantuan pada penunggu sungai agar membuat pesantren tetap terlihat utuh dan indah. Dengan begitu ia mudah menjaring santri untuk dijadikan tumbal.

Ayah Lutfi entah orang ke berapa yang terbuai keindahan semu pesantren ini.

***

Kirana berdiri di hadapan Lutfi. Mata Lutfi membelalak.

"Aku minta sedikit ya," kata Kirana sembari mencuil sedikit tubuhku lalu kembali mengitari halaman pesantren.

Aku mencoba menenangkan Lutfi. Jangan sampai ia ditemukan Broto. Lutfi harus selamat. Aku tak ingin ada korban lagi. Tak kuat rasanya menjadi saksi bisu kekejaman Broto setiap ada santri yang datang.

Aku harus memalingkan Lutfi dari perangkap es krim di pintu belakang. Ia tidak boleh terbuai. Aku menebar aroma tubuhku agar Lutfi tenang. Setelah tenang, aku berbisik pada Lutfi untuk segera ke luar pesantren.

***

Malam itu juga Mbah Karti mengubur tengkorak Kirana di belakang rumah. Tangannya terus menepuk-nepuk tanah beriringan airmata yang tumpah ruah. Aku diletakkan di atas gundukan tanah. Kusaksikan kerinduan seorang ibu pada anaknya terbayar sudah.

Kulihat anak kecil itu tersenyum dalam dekapan Mbah Karti. Ia senang bisa mengetahui tengkorak Kirana yang dikubur Broto menggunakan semen untuk dijadikan alas pot bunga. 

Sesaat kemudian, terdengar suara jeritan yang mengangkasa memecah kesunyian. Mbah Karti meyakini suara itu milik Broto. Penunggu sungai marah karena tak mendapat tumbal dan nyawa Broto yang menjadi gantinya.

Tulang-tulang santri yang ditumbalkan tiba-tiba saja muncul di halaman. Seonggok tulang bersebelahan dengan dress kupu-kupu yang sudah koyak. Semakin deras airmatanya menyaksikan akhir pilu nasib putri semata wayangnya.

Keesokan harinya. Warga berbondong-bondong menyaksikan Broto mati mengenaskan di dekat jembatan. Matanya copot. Lehernya tertekuk ke kiri. Tubuhnya membiru penuh luka. Bau busuk memenuhi seluruh sudut desa.

Pesantren itu tak lagi terlihat indah.

***

Kelas hening. Bu Ririn tepuk tangan lalu diikuti semua murid.

"Selanjutnya, Galang silakan maju, bacakan tugas ceritamu."

Galang maju. Angga kembali ke tempat duduknya. Galang mendapati sesosok perempuan dengan daster kupu-kupu duduk di samping Angga.

Selesai

Sragen,

Selasa 27 April 2021