Bingkisan Lebaran Tamu Misterius

Ilustrasi Canva Dok.pri

Di kala semua umat muslim sangat gembira menyambut lebaran. Menyiapkan baju lebaran, membeli beberapa cemilan sebagai hidangan tamu yang akan berkunjung. Tiba. Mereka saling menyalami satu-persatu untuk mengucapkan permohonan maaf.

Diana malah masih berkutik pada pekerjaan yang tak berujung. Ia pun berhenti melakukan hal yang sama dengan orang lain.

"Percuma saja membeli pakaian baru, menyediakan makanan. Toh, siapa yang akan kutemui nanti? Siapa yang akan datang ke tempatku ini?" kata Diana.

Ketika diajak Melda untuk belanja ke sebuah Moll, ia menolak dengan alasan seperti itu.

Lebaran tanpa keluarga, di kontrakan sempit di Ibu Kota. Tentu, Diana akan sangat merindukan keluarganya di kampung. Terutama Sang Ibu.

'Ah, untuk apa aku terus bersedih memikirkan sesuatu yang membuatku pusing.' Desis Diana.

Ia terus berbaring sambil menonton acara televisi. Yang sama saja, masih tentang momen lebaran. Diana menekan tombol remote, menelusuri dengan barisan angka. Stasiun TV, berhenti di program kartun masa kecilnya.

Diana tertawa saat menampilkan adegan lucu, sementara rasa kesedihan itu lenyap. Tapi, setelah berganti iklan, kerinduan akan sosok ibunya semakin membuncah.

Ketukan pintu berulang kali menyadarkan Diana. Ia beranjak lalu membuka pintu. Perempuan dengan pakaian berwarna putih datang di waktu malam takbiran. Bertamu ke rumah Diana.

"Maaf, anda siapa yah? Anda mencari siapa?" 

Tamu itu tetap bergeming hanya menyerahkan sebuah bingkisan untuk Diana. Awalnya, Diana menolak. Namun, dari tatapan mata tajam perempuan itu tak suka dengan penolakan. Terpaksa ia mengambil bingkisan itu.

Diana memapah lengan Si perempuan untuk duduk di ruang tamu. Ada yang aneh, Diana merasa kulitnya begitu dingin. Ia masih berpikir positif, mungkin cuaca di luar dingin. Karena terpaan angin.

"Tunggu sebentar, Mbak. Saya ambilkan teh hangat dulu di belakang," ujar Diana.

Meninggalkan tamu asing seorang diri, pikirnya lagi perempuan itu pasti tetangga baru yang tinggal di kontrakan seberang. Yang ingin bersilaturahmi. Dia muncul dibalik tirai dengan membawakan minuman. Kemudian tamu misterius itu pergi entah ke mana.

Diana keluar mencarinya sepanjang gang, jalan yang dilalui begitu sepi. Karena semua orang masih berada di dalam masjid menunaikan ibadah solat. 

Diana bingung ke mana perginya tamu misterius itu. Ia berbalik memilih pulang ke kontrakan lagi. Memungut bingkisan yang ia taruh di meja tamu. Pelan-pelan ia menyobek kertas berwarna coklat. 

Ternyata isi dalam bingkisan tersebut adalah cemilan lebaran. Tapi, tunggu. Diana harus cermat. Sebelum dimakan, ia harus mencari kode kadaluarsa yang tertera di sana. Diana tak menemukannya.

Dus, yang bergambar Masjid putih dengan pohon kelapa. Bertuliskan 'Selamat Lebaran' masih tampak baru. 

"Apa mungkin masih bisa dimakan?" gumamnya lirih.

Diana berani membuka kotak bening berisi nastar. Mencicipi sedikit demi sedikit. Rasanya begitu nikmat. 

Tiba-tiba sebuah amplop terjatuh ke bawah lantai. Diana mengambilnya. Ia menemukan sebuah foto di depan Tugu Monas. Foto yang buram, dalam warna hitam-putih. Terdapat sebuah keluarga, wajah ibunya masih muda dengan almarhum ayah. Ibu menggendong bayi sedangkan di tengah anak kecil perempuan usia 9 tahun. Tersenyum ke arah kamera.

Diana semakin terpuruk, untuk pertama kalinya ia bisa melihat wajah almarhum ayah. Sebab ayahnya meninggal ketika dia masih bayi. 

"Ayah meninggal bersama buah cinta pertama kami." Ucapan ibu kembali terngiang, terdengar jelas ditelinga Diana.

TAMAT

***

 

PML, 29-04-21

 

#MomenLebaranSyahdu

#Aksara_Sulastri