Teror Kuntilanak Merah

Salah satu makhluk legendaris penunggu Terowongan Casablanca

Keresahan membayangi, ketika harus berpisah dari Lasmi, istri yang baru kunikahi tiga bulan lalu. Tuntutan pekerjaan membuatku terpaksa merantau ke Jakarta, karena tidak mungkin membawa Lasmi. Dia saat ini mengandung buah cinta kami, menurut adat tidak boleh pindah rumah bisa menyebabkan keguguran. Walau tidak percaya, aku harus menurutinya.

"Mas, nanti di Jakarta, kamu hati-hati ... jangan tergoda wanita di sana," ucap Lasmi manja, sesaat sebelum kami tidur. Tidak mungkin aku melakukannya, rasa cintaku begitu dalam padanya.

Keesokan pagi dengan diiringi derai air mata, Lasmi melepas kepergianku di stasiun kereta api. Terlihat Ibunya, mencoba menghibur dengan mengusap-usap punggung Lasmi.

Sesampainya di Jakarta, hari berangkat senja aku langsung menuju alamat yang di berikan Pak Jarwo--atasanku. Sebuah mess kecil yang terletak di pusat kota, tempatku bernaung untuk enam bulan ke depan.

"Ini kamarnya, Mas Sandi bisa mulai bekerja esok hari. Hari pertama saya akan mengantar ke gedung yang instalasi listriknya nanti Mas Sandi pasang," ujar Pak Arya, salah satu orang kepercayaan Pak Jarwo.

"Baik, Pak. Terima kasih sebelumnya."

Setelah berbasa-basi sebentar, Pak Arya pamit pulang, meninggalkanku sendiri di kamar mess yang dindingnya mulai mengelupas. Aku pun membersihkan diri dan mandi, berniat ingin mencari makanan lalu tidur.

Untung saja di depan mess banyak penjual makanan, sehingga tidak perlu jauh-jauh mencari. Sepiring nasi goreng cukup membuat cacing-cacing di perutku terdiam. Tak lama kemudian rasa kantuk mulai menyerang, aku tertidur pulas.

Azan Subuh membangunkanku dari tidur, meski rasa lelah masih menggelayuti tubuh, aku bersiap untuk berangkat kerja. Ketika mempersiapkan alat-alat yang harus kubawa, aku baru menyadari dari semalam belum mengabari perihal diriku pada Lasmi. Benar saja dua puluh panggilan tidak terjawab tertera di layar ponsel, segera menghubungi Lasmi, meminta maaf karena kelalaianku tidak mengabarinya. Lasmi memaafkan dan mengingatkan agar jangan terulang lagi.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu mengakhiri pembicaraanku dengan Lasmi. Pak Arya telah menjemputku untuk mengantarkan ke tempatku bekerja.

Di atas motor yang dikendarai Pak Arya, aku memperhatikan jalanan ibu kota yang begitu ramai dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Pandanganku terpaku saat melewati terowongan yang membelah pemakaman. Entah mengapa bulu kuduk berdiri, seakan ada sesosok yang memperhatikanku di dalam terowongan.

"Ini, Mas Sandi gedungnya. Nanti ada Pak Tobi yang akan menjelaskan detail pekerjaannya," ujar Pak Tobi sebelum pergi ke kantornya.

Gedung tempatku bekerja mempunyai 36 lantai, aku salah satu teknisi listrik yang akan mengurus instalasinya.

***
Sudah larut malam saat jam kerjaku usai, lumayan dapat uang lembur juga motor inventaris. Aku memacudengan kencang tak sabar ingin beristirahat. Tiba-tiba motor berhenti mendadak di tengah terowongan yang tadi siang kulewati. Aku meminggirkan motor. Khawatir jika ada kendaraan lain lewat.

"Bang, motornya mogok, ya?" Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik berpakaian merah menegur.

"Eh, iya, Mbak ... bengkel terdekat di mana, ya?" tanyaku sambil memperhatikan wanita itu. Berpikir, apa yang dikerjakan wanita cantik sendirian malam- malam begini.

"Enggak perlu ke bengkel Bang ... coba nyalakan lagi!" perintah wanita itu. Bagai terhipnotis aku menurutinya. Benar saja motor langsung menyala.

"Hihihihihi ... makanya Bang, kalau lewat permisi. Hihihihihi!" Wanita itu terus tertawa, membuat sedikit ngeri. Apalagi malam-malam begini.

"Permisi sama siapa, Mbak? Enggak ada orang di sini."

"Hihihihihi, permisi sama penghuni terowongan ini. Salah satunya saya." Wajah wanita cantik itu tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Matanya bolong, mengeluarkan darah, bibirnya robek hingga telinga. Menyadari di hadapanku bukan manusia, secepat kilat meninggalkan tempat itu. Namun, karena diselubungi rasa takut motor yang dikendarai menabrak sisi terowongan. Sebelum tak sadarkan diri, sempat melihat setan wanita berpakaian merah tadi mendekat ke arahku.

Nyeri dan gatal membuatku tersadar dari pingsan. Ternyata semut mengerumuni luka di tangan akibat terjatuh dari motor tadi. Aku terhenyak menyadari bahwa berada di tengah pemakaman yang berada di dekat terowongan. Rasa takut menjalari tubuh, apalagi kakiku terasa ada yang menahannya saat aku hendak beranjak pergi.

"Hihihihihi ... mau kemana, Bang? Temani saya, ya." Ternyata setan wanita tadi yang menarik kakiku. Aku berteriak panik meminta tolong, tetapi hanya kesunyian malam dan tawa setan-setan penunggu makam menemani. Merasa lelah karena ketakutan, aku kembali pingsan di atas gundukan tanah merah.

"Mas, bangun!" Tepukan di pipi membuatku tersadar. Seorang pria tua jongkok di hadapanku. Melihatku tersadar, Bapak tua itu memberikan minum.

"Terima kasih, Pak ... tadi ada setan," ucapku ketakutan sambil memperhatikan suasana makam yang gelap gulita.

"Tenang, Mas ... ayo, ikut saya dulu!" ajak pria tua tersebut, menuntunku menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan dekat terowongan. Aku juga melihat motorku terparkir di sampingnya.

Dari dalam mobil keluar seorang pemuda, tampaknya adalah anak dari Bapak tua yang menolongku.

"Di mana rumahnya, Mas? Biar saya antar," ucap Bapak tua tersebut. Akhirnya dengan persetujuanku, aku diantarkan ke mess menggunakan mobil sedangkan motor di bawa oleh si pemuda.

"Terima kasih, Pak ... sudah menolong saya," ucapku, sesampainya di mess.

"Sama-sama, Mas ... untung saja saya melihat motor tergeletak di jalan dan berpikir pasti Kuntilanak Merah penunggu Terowongan Casablanca, sedang menganggu. Benar saja.  Mas, jadi korbannya yang kesekian kali." Bapak tua itu menjelaskan dengan detail kronologi, dia menemukanku pingsan di pemakaman.

"Kuntilanak Merah? Maksud Bapak, setan wanita berpakaian merah?" tanyaku penasaran.

"Betul, Mas ... Kuntilanak Merah sering menganggu pengguna jalan yang tidak menyalakan klakson saat melewati Terowongan Casablanca." Ucapan Bapak tua itu menutup pembicaraan. Pamit undur diri setelah memastikan aku baik-baik saja.

"Mas Sandi, kenapa?!" Pak Arya yang menunggu di depan pintu kamarku, berteriak panik saat melihat aku berjalan tertatih dengan baju sobek berlumuran darah. Aku menjelaskan apa yang terjadi. Pertemuan dengan Kuntilanak Merah yang menyebabkan luka-luka di tubuh.

"Ya, ampun ... jadi benar adanya, Kuntilanak Merah penunggu Terowongan Casablanca. Saya pikir hanya bohong belaka, tetapi walau demikian saya selalu turuti saran dari orang-orang agar menyalakan klakson saat melewati terowongan itu," ujar Pak Arya tersenyum kecut. Sepertinya dia merasakan ketakutan mengetahui Kuntilanak Merah telah mengangguku.