Puisi Cinta Untuk Ilum

Ilustrasi by Pinterest

Suara Argo terdengar berat, tidak seperti biasanya yang selalu renyah setiap kali bercerita atau pun saat membaca buku kesukaanku. Ia akan bicara apa saja, tentang kesialan atau hal-hal lucu yang terjadi  tiap harinya hanya untuk memancing kesadaranku. 

Kali ini dia pamit, mungkin agak lama tidak akan bisa membacakan cerita atau sekedar menyapaku sepulang kerja. Ditugaskan ke luar kota, katanya. Aku merasa ada yang jatuh di sudut hati, luruh seperti daun di musim gugur. Ada bening yang memaksa menerobos namun sekuat itu pula aku tahan hingga hanya menggantung di sudut mata

Seperti biasa aku selalu berusaha menahan rindu, memupus rasa cinta yang meronta. Aku tidak ingin menyemai rimbun belukar yang pada akhirnya duri-durinya akan menancap di ulu hati menyisakan luka bernanah. Begitu pun dengan rasa sayangku pada Argo, kusimpan rapat-rapat dari bertahun-tahun lalu. Entah sejak kapan tepatnya, yang jelas rasa itu datang tanpa aku ingini. Menetap begitu saja tanpa mau kompromi. 

Aku tidak ingin Argo membalas cintaku hanya karena kasihan, tidak tega, atau terpaksa tersebab hanya ingin menjaga perasaanku. Bukan balasan rasa seperti itu yang aku mau. Biarlah, cukup aku pendam saja, mencintai dalam senyap hingga sampai nanti tetap menjadi rahasia semesta. 

Aku tidak ingat sudah berapa lama di sini, hanya berbaring dan terasa membosankan. Bagiku hari-hari berlalu tiada berbeda. 

Tiap kali sayup sapaan dan isak mama akan mampir lekat di telinga. Candaan papa yang berakhir dengan tawa getir. Maafkan, Lin. Maafkan ketidak acuhan adikmu ini, meski sungguh itu bukan maksudku. Ada resah saat mendengar kakak perempuanku mendesah pasrah. Betapa inginnya kusapa kalian, tertawa bersama seperti dulu lagi. Tapi itu semua hanya sebatas ingin. Aku tidak mampu.

Argo, pemuda berkulit gelap berbadan tegap dan bergigi gingsul yang selalu ada untukku dan sudah menjadi penghuni tetap pikiranku. Ia selalu menyisihkan waktu hanya untuk memastikan aku dalam keadaan baik-baik saja. Mengantar dan menjemputku pulang dari sekolah menengah pertama hingga kita melanjutkan kuliah di kampus yang sama. 

Sebenarnya dia telah diterima di universitas bergengsi di kota gudeg tapi dia memilih melepaskan itu. Ia memutuskan untuk mengambil jurusan di fakultas yang sama denganku. Aku sempat marah, dengan tindakan bodohnya. Bagaimana mungkin dia membuang kesempatan berharga itu dan memilih kembali ke sini kuliah di universitas swasta. Tapi dia bersikeras dan akhirnya kami satu kampus lagi. 

Argo selalu ada bersamaku. Dia tidak tahu karena hal itu jadi susah mendapatkan perhatian cewek lain. Tapi dia sepertinya tidak pernah menganggap itu adalah masalah. Dulu saat aku tiba-tiba pingsan dengan sigap dia membawaku ke rumah sakit, menungguiku hingga Mama datang. Ini tidak hanya kadang-kadang tapi sering terjadi karena penyakit jantung bawaan yang kuderita sejak lahir. Setelah kejadian itu aku terpaksa harus menggunakan kursi roda untuk beberapa bulan. Kakiku tidak mampu menopang badan untuk waktu lama, serasa lemas. Ujung-ujungnya aku bisa ambruk sewaktu-waktu karena tenaga yang tiba-tiba terasa terkuras.

Sungguh tidak nyaman dan sangat canggung. Argo selalu dengan rela hati mendorong kursi rodaku, sebenarnya risih dan tidak enak hati. Karena jujur masih ada rasa yang tidak bisa benar-benar aku pupus. Ini sungguh menyiksaku.

Seperti hari ini, entah sudah berapa lama tak terdengar sapaan Argo, ada rindu menusuk-nusuk dalam bisu. Banyak tanya akan keberadaannya hingga tanpa disangka ia datang malam ini. Ia duduk di kursi sebelah ranjang di mana aku menghabiskan waktu berbaring. Ia tersenyum, menyodorkan amplop warna merah jambu dengan gambar hati di tengahnya. 

Tanpa malu lagi aku menggenggam jemari kokoh itu dan meraih amplop warna merah jambu darinya. Ada yang berdetak keras di jantungku yang beberapa hari ini serasa kian melemah. Darah berdesir cepat dan merambat ke seluruh urat nadi sepertinya jantung kembali memompa dengan sempurna. Ingin kubuka tapi Argo menahan dengan kedua tangannya. Menggenggam erat jemari dinginku yang memegang surat darinya. Ia tidak mengacuhkaanku yang salah tingkah justru kian mendekatkan wajahnya. Kelakuannya membuat jantungku semakin tak terkendali melompat-lompat semaunya. Beginikah rasa cinta berbalas, ini rasa yang sangat asing. Sepertinya baru kali ini aku merasakannya. Rasa yang aneh, batinku.

Tanpa disangka dan tanpa malu lelaki muda itu mendaratkan bibirnya di keningku, duh. Badanku gemetaran, rasa hangat meringsek di kedua pipiku.
Dengan hati-hati Argo meniup  anak rambut di keningku. Memaksaku menutup mata sejenak. Mengerjap, kembali menyelami tatapannya yang begitu dalam, menghunjam tepat di relung hati melebur tanpa sekat. 

Namun sedetik kemudian ia beranjak pergi meninggalkan aku tanpa ucapan perpisahan. Ia tak menoleh lagi sampai sosok kekarnya hilang dibalik pintu. Aku terkesiap.

"Lum, Ilum ...."

"Kamu dengar Mama, sayang," sayup sapaan lembut mama membangunkanku. Aku berusaha mengerjap-kerjapkan kelopak mata yang masih sedikit agak berat. Seperti habis tertidur lelap, dan kata orang nyawaku belum terkumpul sepenuhnya. Namun Argo adalah orang pertama yang mengusik pikiranku, kepergiannya yang tanpa pamit menyisakan resah. 

"Ma, mana Argo?" tanyaku sembari menyapu pandang ke seluruh ruangan berwarna putih dan penuh peralatan medis. Tapi tak kutemukan sosok Argo, ia benar-benar pergi, pikirku. Sebelum mama menjawab pertanyaanku beberapa lelaki berjas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya dan juga perempuan berseragam warna yang sama bergegas ke arahku. Meraih pergelangan tangan dan juga memeriksa mataku dengan benda kecil yang menyilaukan. Perih, pandangan sedikit kabur tapi samar kulihat senyum lega di wajah lelaki muda itu. 

"Semua normal, Dok. Operasi kemarin berhasil."

Perempuan muda itu berkata antusias mengangguk ke arah dokter yang sedang memegang lenganku. Nampak senyum cerah menghiasi wajah orang-orang yang ada di sekelilingku. Tapi tak juga kutemukan wajah Argo. Apakah dia benar-benar pergi? Padahal aku sudah mengumpulkan keberanian untuk ungkapkan perasaanku yang sesungguhnya. Tak ada lagi yang ingin kusembunyikan darinya. Aku tidak mau menyesal seumur hidup, sungguh.

Ibu tak juga menjawab pertanyaanku, justru mendung jelas nampak di wajah lelahnya. Ada segurat sendu dari senyum yang seolah dipaksakan. Dia hanya meletakkan telapak tangannya di dadaku, tepat di jantung yang kini berdetak lebih normal. Aku teringat amplop merah muda yang diberikan Argo semalam. Badan masih terasa letih tapi aku memaksa bangkit, berusaha menyisir tepi ranjang dan menyingkap selimut jika saja terjatuh saat aku terlelap tadi. 

"Ini yang kamu cari, Lum?" 

Ibu menyodorkan apa yang aku cari. Iya, betul sekali itu surat dari Argo  yang ada di tangan Ibu. Aku mengangguk dan buru-buru membuka sampul merah jambu itu. Jantungku berdetak kian liar, jemari gemetar saat membuka lembar kertas berwarna senada dengan harum mawar. Aku hafal betul tulisan tangan itu, mengeja huruf demi huruf dengan bait-bait yang berderet rapi. Puisi yang sangat menyentuh dan indah. Belum pernah aku dibuatkan puisi seindah ini. Belum pernah sekalipun. Argo kamu semakin membuatku urung memupus mati rasa cinta ini, justru semakin tumbuh rimbun. 

"Bu, Argo mana?" tanyaku lirih dengan mimik memelas. 

Tak ada sepatah kata terlontar, bibirnya gemetar dan kulihat ada embun di sudut matanya. 

"Bu ...." Kuraih jemarinya menggoyangnya hati-hati meminta jawaban. Isak ibu tertahan, tiba-tiba ada rasa menyelusup serupa ketakutan. Mungkinkah ia benar-benar pergi dan hanya meninggalkan bait-bait puisi cinta ini. 

Perlahan ibu menggenggam jemariku meletakkannya di atas dadaku tepat di mana jantungku berdetak. 

"Argo ada di sini. Dia tidak akan pernah meninggalkanmu. Lum. Seperti biasanya dia selalu ada untukmu." 

Tangis ibu pecah, bulir bening di kelopak mataku pun tumpah, mengurai nyeri yang menusuk-nusuk kalbu. 

"Argoo ... i love you," ucapku lirih. Hanya berharap ia bisa mendengarnya. Tapi nyatanya tuhan lebih menyayanginya, aku bisa apa tapi ia tinggalkan miliknya yang berharga dan sangat aku butuhkan. Kuraba dadaku yang masih berlapis perban merasakan setiap detaknya. "Terima kasih untuk puisi cintamu, Argo."

Jakarta April 2021

Khotimah Zaenuddin