Pesantren Angker - Teluh yang Menembus Dinding Pesantren

harianmerapi.com

"Jangan mendekat, pergi dari sini!" teriak Gus Rofik.

 

"Istigfar, Nak, ini Aba." Kiai Ahmad bertutur lembut.

 

"Pergi!" Gus Rofik kembali berteriak sambil mencengkeram kepalanya sendiri. Mendadak dari mulutnya keluar gumpalan hitam pekat. Awalnya seperti cairan, namun lama kelamaan menjelma ulat bulu hitam dalam jumlah yang bikin bergidik. 

 

Jutaan ulat bulu itu merayap keluar mulut Gus Rofik yang hanya mampu mendelik menahan nyeri luar biasa. Ulat terus membanjir dari rongga mulut, menyebar ke setiap senti kulit yang ada di tubuh Gus Rofik hingga dirinya kini seakan tengah dililiti selimut bulu.

 

Akhirnya tubuh itu rubuh di lantai secara mengenaskan, nafasnya terhenti saat itu juga.

 

Setabah-tabahnya Kyai Ahmad, tetap dirinya tak kuasa menahan isak memandang tubuh putranya yang kini lebih mirip kepompong hitam yang berkedut lembut. Doa dan zikir tak putus melantun pada untai bibirnya hinggga akhirnya tubuh sang putra bersih kembali, namun jiwanya tetap tak mungkin kembali.

 

***

 

"Aku akan pergi sebentar, titip pondok untuk sementara waktu," bisik Kiai Ahmad sambil menepuk lembut pundak Kiai Ali.

 

"Apakah kepergian Kiai berhubungan dengan kematian Gus Rofik?" tanya Kiai Ali hati-hati.

Kiai Ahmad menghela nafas sejenak.

 

"Kiai, apakah benar tentang rumor bahwa Gus Rofik …." Kalimat Kiai Ali terhenti saat melihat tangan Kiai Ahmad terangkat.

 

"Aku berangkat, titip pondok."

Kiai Ali memandang punggung sang pemilik pondok yang semakin menjauh.

 

***

 

Sungai berair jernih itu memantulkan wajah seorang laki-laki berusia lebih dari setengah abad. Rambutnya yang telah perak sebagian berkilau ditimpa sinar matahari, menambah gurat ketegasan yang terpatri di bentuk wajahnya.

 

"Ternyata benar kau adanya, Ahmad." Suara jernih penuh wibawa membuat Kiai Ahmad membalik badan.

 

"Syaikh …." Kiai Ahmad bergegas mencium tangan si pemilik suara.

 

"Apakah kau sedang gundah? Karena setahuku, sejak dulu tempat ini hanya kau datangi kala tengah dirundung duka."

Kiai Ahmad mengangguk.

 

Hening melingkar di cungkup udara yang melingkupi guru dan murid itu. 

 

"Syaikh, apakah ada yang terlewat dari pandangan saya tentang Rofik?"

 

Sang Guru terdiam.

 

"Sepertinya, sejak pulang dari belajar di pondok Kiai Rusdi, dia berubah.”

 

Sang Guru masih terdiam.

 

"Datanglah ke pondok, aku akan menceritakan semuanya. Tapi berhati-hatilah, jangan sampai ada yang mengikutimu."

 

Sang Guru berbalik badan, berjalan mendahului Kiai Ahmad yang masih diliputi kegundahan. Ketika Kiai Ahmad mengangkat wajahnya, sosok Sang Guru telah hilang di kedalaman hutan.

 

***

 

Ruangan berdinding kayu itu terlihat kusam dan mesum. Dua laki-laki berwajah bengis tampak bersitegang.

 

"Rofik sudah mati, To. Apakah kau masih belum puas?" tanya lelaki berkaus merah dengan cincin akik besar berjejer di jemarinya.

 

"Aku masih ingin bermain-main lagi, Yo" ucap Broto, lelaki dengan gelang akar-bahar di pergelangan tangannya.

 

"Bermain-main? Dengan siapa?" selidik Bagyo, si lelaki akik.

 

"Dengan ayahnya," jawab Broto enteng.

 

"Kau gila, ya? Itu namanya cari mati," tukas Bagyo.

 

Broto tertawa terbahak-bahak.

"Buktinya aku bisa membunuh anaknya. Itu berarti pesantren pun tak kebal dari teluh, kan? Mana yang katanya orang sakti dan tak mempan teluh?" Broto tertawa lagi, membuat Bagyo hanya menggelengkan kepala.

 

"Itu karena Rofik masih terbawa nafsu, dia masih menuruti darah mudanya. Berbeda dengan ayahnya."

Broto menatap Bagyo, tak ada tipu muslihat di sana.

 

"Apakah ada yang kau sembunyikan dariku, Yo?" selidik Broto penuh curiga.

Bagyo menghela nafas.

 

"Mengapa kau tahu sampai sedetail itu melebihi aku, Yo?"

 

"Karena aku dulu pernah ikut Kiai Ahmad, To." Bagyo kembali menghela nafas, bahkan kali ini dengan hembus yang lebih keras. Pandangan matanya jauh menerawang. "Dan asal kau tahu, To, dengan kematian anaknya, Kiai Ahmad tak akan tinggal diam."

 

Lambang Celurit Merah pada bendera putih yang tersemat di dinding menjadi saksi percakapan mereka. Lantai kayu hanya bisa membisu tanpa derit yang biasa diperdengarkannya.

 

***

 

Kiai Ahmad dan Sang Guru kini berada di sebuah ruangan penuh kitab. Mereka duduk berhadapan hanya terpaut meja kayu. Beberapa lembar berkas dengan kepala surat bertuliskan nama pondok termasyur di Kediri, ada di hadapan mereka.

 

"Bacalah, kau akan tahu awal mula mengapa Rofik berubah."

 

Dalam lembaran penting itu tertulis bahwa Rofik adalah salah satu telik sandi yang dikirim untuk menyelidiki Organisasi Celurit Merah yang meresahkan masyarakat di ujung Timur Pulau Jawa. Semuanya berjumlah lima orang.

Nahasnya, penyamaran Rofik terbongkar dan membuat dirinya digelandang. Sejak saat itu keberadaan Rofik tak lagi terdeteksi oleh empat rekan sejawat lainnya.

 

Rofik berusaha sebisa mungkin untuk lolos, dan memang akhirnya berhasil. Anehnya, sejak itu satu persatu anggota Organisasi Celurit Merah ditemukan telah menjadi bangkai.

 

"Kau tahu siapa yang membunuh orang-orang pintar itu, Ahmad?"

Kiai Ahmad mengangguk.

 

"Saya pernah membaca daftar nama mereka di meja Residen Soewardi, Syaikh."

 

"Kau tahu apa artinya?"

 

"Ya, Syaikh. Anak saya telah dijadikan kambing hitam untuk penumpasan yang dilakukan oleh oknum pemangku negeri."

 

"Hanya satu kelemahan Rofik, dan itu yang menjadi pintu masuk bagi ilmu hitam ke dalam tubuhnya."

Kiai Ahmad mengangkat alisnya dengan ekspresi penasaran.

"Dia sempat makan makanan penduduk setempat. Padahal, itu merupakan salah satu pantangan yang paling utama."

 

Tiba-tiba tubuh Kiai Ahmad menegak. Ia merasa seperti ada yang menggedor dadanya. Tidak terasa sakit, hanya membuatnya waspada. Itu berarti sesuatu sedang terjadi di pondok kediamannya yang dititipkan ke Kiai Ali.

 

***

 

Dugaan Kiai Ahmad terbukti!

Nun di pesantren Kiai Ahmad, benar sedang terjadi hal yang sangat di luar nalar.

 

Awalnya hanya seekor ulat bulu menempel di pagar tembok pondok, namun lama-kelamaan semakin tak terhitung saking membludaknya hewan menjijikkkan itu, seperti sengaja menyerbu pondok dari segala penjuru. Tak butuh waktu lama untuk pagar putih pondok menghitam seperti beledu dan berkedut.

 

Seluruh penghuni pondok bergidik ngeri. Bersama Kiai Ali mereka terus melafazkan zikir, juga upaya-upaya lainnya. Namun bukannya hilang, ulat-ulat bulu tersebut malah berhasil merambat pelan memasuki bangunan pondok.

 

Di tengah situasi yang semakin genting, Kiai Ahmad pulang. Mata seluruh santri terbelalak melihat tanah yang dipijak Kiai Ahmad kemudian membentuk jalan setapak yang tak dapat ditembus kerumunan ulat bulu.

 

“Serangan ini terlalu kuat,” bisik Kiai Ali setibanya pengasuh pondok pesantren tersebut di pendopo utama.

 

Kiai Ahmad mengangguk seraya memberi tanda agar Kiai Ali menemaninya ke dalam ruang khusus yang biasa digunakan untuk tirakat.

 

“Tolong bantu aku dari sisi belakang,” bisik Kiai Ahmad sambil membagi amalan yang baru diijazahi oleh Sang Guru.

 

Belum sampai sepeminum teh berzikir ketika Kiai Ahmad berseru dengan suara penuh wibawa.

 

“Allaa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin.”

 

Mendadak, dihadapan mereka berdua muncul ulat bulu besar, yang sepertinya merupakan pimpinan rombongan gaib penyerbu pondok.

 

Belum lagi kiai Ahmad dan Kiai Ali sempat melakukan apapun ketika serentetan cahaya terlihat langsung berkutat meringkus ulat raksasa berbentuk menyeramkan itu, sebelum ledakan bertubi-tubi terjadi dalam ruangan bersamaan dengan lesatnya selarik sinar hitam menjebol wuwungan.

 

***

 

“Lari, To!” teriak Bagyo ngeri. Tapi terlambat. Terpaut sekian nanodetik dari peringatannya, tubuh Broto telah menjadi tak berbentuk termakan kirimannya sendiri. Senjata makan tuan!

 

Tak kuasa menghindar, Bagyo bersimpuh sambil sesenggukan memohon ampun, sambil sesekali melirik tubuh Broto yang kini gerowong di sana-sini dipenuhi ulat bulu hitam. Bahkan sekilas Bagyo merasa kepala temannya berubah serupa ulat bulu raksasa yang menjijikkan.

 

Seperti orang kesurupan Bagyo terus menceracau mohon ampun, sebelum kepala raksasa menjijikkan itu menangkup wajahnya dan mulai menggerogoti daging yang terdapat di sana, menyisa lengking panjang menyayat telinga.

 

***

 

“Maaf telah membuat repot Eyang sekalian,” bisik Kiai Ahmad takzim kepada deretan sosok cahaya yang kini meriung bareng dalam ruang tirakat.

 

Hatinya tetap gundah. Matanya basah, mengingat putranya yang syuhada meski cara kotor oknum pemangku negeri amat disesali.

 

April ke-27

Na

 

Glossarium:

 

"Janganlah kamu berlaku sombong kepadaku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri." (QS An-Naml: 30-31)