Pesantren Angker- Gadis Berkebaya di Bukit Batu Ceper

Ilustrasi ist

Tempatnya cukup terpencil, tidak akan ada yang menyangka jika di bawah rimbun pohon mahoni dan albasia ada satu pondok pesantren dengan beberapa ratus anak didik. Terdiri dari beberapa buah bangunan semi permanen. Ada bangunan seperti barak yang dipetak menjadi kamar para santri. Tepatnya empat barak, barak dua di sisi barat dan dua lagi di sebelah timur untuk memisahkan  antara asrama santri laki-laki dan santri perempuan. Sedangkan tepat di tengahnya berdiri kokoh bangunan utama yang berbentuk joglo digunakan sebagai masjid. Di sebelah kiri bangunan tumbuh rindang pohon waru raksasa dengan bunga kuning yang tiap pagi berserak memenuhi halaman. Harum bunga kopi seringkali menjadi aroma khas karena memang banyak tumbuh di sekeliling tempat ini. 

Kebanyakan yang belajar di pondok pesantren Kyai Hasyim ini berasal dari luar kota bahkan ada yang dari ujung timur Papua. Aku sendiri berasal dari Pekalongan, karena rekomendasi kerabat ayah akhirnya aku terdampar untuk belajar ilmu agama di sini. 

Awal tinggal di sini sungguh tidak nyaman, pondok berada di kawasan bukit Batu Ceper dan cukup jauh dari kota. Sedangkan desa terdekat berjarak hampir enam kiloan meter dari tempat ini. Yang hanya bisa ditempuh melewati jalanan berbatu dan akan licin saat musim hujan tiba, membuat para pengguna jalan harus ekstra hati-hati. 

Baru sampai beberapa minggu sudah di suguhi gosip tentang hal-hal ganjil yang dialami beberapa santri di sekitaran pondok. Doel salah satunya, anak berbadan gembul itu sangat antusias menceritakan penampakan yang pernah dilihatnya dan mendapat anggukan dari beberapa teman termasuk Munaf santri jenaka asal Aceh. 

Bukan itu saja, Bari juga pernah mengalami sendiri melihat sosok berjubah putih di belik pemandian yang berada di belakang pondok dan biasa dijadikan tempat mandi para santri. 

Bukan karena tidak tersedia kamar mandi di pondok, ada. Bahkan setiap asrama yang berisi enam kamar tidur dilengkapi dua kamar mandi lengkap. Tapi sebagian dari para santri tetap memilih mandi di sana. Katanya sih karena airnya yang jernih dan sejuk berasal dari mata air dari atas bukit Batu Ceper. Menurut mereka setelah mandi keramas dengan air belik badan dan otak terasa segar dan menjadi mudah menyerap ilmu yang diajarkan di oleh para guru. Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka, tapi tidak begitu percaya tentang kebenaran cerita itu. Bisa jadi hanya sugesti dan membawa pengaruh pada pikiran mereka. 

Tapi sejak beberapa bulan terakhir aku sering mengalami hal-hal seperti yang diceritakan oleh Bari dan kawan-kawan. Tentang perempuan berkebaya putih dan berkain sarung batik warna coklat tua. Pertama kali melihat saat mandi sendirian di belik. Waktu itu hampir maghrib, suasana pun mulai temaram. Ia memakai kerudung senada dengan kebaya yang dipakainya.  Sekilas ia meniti anak tangga menuju makam yang berada tepat di bukit kecil yang terlihat menggantung di atas belik. Tidak ada perasaan apa-apa hanya terlintas tanya, pemberani sekali wanita itu menjelang malam pergi ke makam, batinku kagum. Mungkinkah ia salah satu tamu atau keluarga kyai, satu lagi serbersit tanya lewat di pikiranku. 

Selang beberapa hari kembali aku memergoki keberadaannya, akan tetapi kali ini ia berjalan menuju tempat wudhu yang berada persis di sebelah masjid.  Sengaja aku menunggunya, ada keinginan untuk berkenalan. Namun setelah beberapa saat wanita itu tak juga nampak keluar dari tempat wudhu. Ada rasa gusar aku pun bergegas menyusul, memeriksa ruangan  jika saja terjadi apa-apa dengannya. Sungguh aneh, di dalam aku tidak menemukan siapa pun. Aku yakin sekali wanita itu belum keluar sejak masuk tadi. Sampai detik ini tidak ada orang yang keluar dan ini satu-satunya pintu di ruang wudhu. Ajaib, keningku mengernyit berpikir keras. 

Aku tidak berani menceritakan kejadian yang kualami pada teman-teman yang lain. Takutnya akan membuat gempar dan menjadi gosip yang tidak sedap tentang pondok pesantren. Setelah malam itu masih beberapa kali aku melihatnya namun tidak sekalipun melihat jelas wajah wanita berkebaya yang memenuhi isi kepala akhir-akhir ini. Sehingga susah mengenalinya dan tidak berkesempatan untuk menyapanya.

Akhirnya aku tidak lagi bisa menguasai rasa penasaranku. Sore itu selepas ashar aku sengaja diam-diam menyelinap ke atas makam berbekal sapu lidi untuk membersihkan makam yang berada di atas belik dan berkirim doa tentunya. Ternyata letaknya cukup tinggi nafas sampai terengah setelah mencapai anak tangga terakhir. 

Bukan seperti makam yang aku bayangkan, tidak ada cungkup yang menaungi nisan dengan nama leluhur di atasnya hanya ada lima gundukan tanah kering. Bukan lima tapi enam tepatnya yang satu agak nyempil di bawah pohon bunga tanjung dilihat dari daunnya yang tumbuh rimbun. Anehnya meski tidak sedang berbunga tapi tercium aroma wangi atau mungkin hanya penciumanku saja. Sedangkan di tiap gundukan tanah terdapat batu kali dengan jumlah yang berbeda dari kelimanya. 

Sementara yang di bawah bunga tanjung hanya ditandai dengan batu tipis berbentuk oval yang ditancapkan diujung gundukan sebagai tanda  mungkin. Ini semakin membuatku penasaran. Tapi ada rasa berbeda semenjak menginjakkan kaki di tempat ini, seperti aliran dingin menembus pori-pori perlahan merambat dari ujung kaki hingga ubun-ubun. Bisa jadi karena tempatnya yang teduh dengan rindang pohon Randu keling yang mungkin sudah tumbuh puluhan tahun atau bahkan ratusan dilihat dari pohonnya yang besar dan kokoh serta akarnya yang menjuntai. 

Selesai sudah aku menyapu, sekarang tempat ini bersih tak ada lagi daun kering dan rumput liar yang berserakan. Sejenak berjongkok mendoakan para arwah yang jasadnya bersemayam di bawah pohon. Aku sendiri tidak tahu siapa sebenarnya hanya pernah mendengar cerita para guru  bahwa ini makam para kyai sepuh pendiri pondok pesantren Kyai Hasyim. Tapi tidak tahu  pastinya siapa saja karena tidak ada nama yang tertera di atas batu nisan. 

Baru saja berdiri untuk meluruskan kaki yang sedikit kesemutan aku dikejutkan suara langkah di belakangku. Spontan menoleh ke sumber suara yang ternyata sosok kyai guru pemilik pondok . Aku tersipu, malu karena telah lancang datang ke tempat ini tanpa minta ijin terlebih dahulu. 

"Ma ... maaf, Pakyai. Saya tadi tidak pamit langsung ke sini." Suaraku terbata merasa tidak enak dan memberanikan diri meminta maaf. Bagaimana lagi wong sudah terlanjur kepergok.

"Turunlah, sudah hampir maghrib," perintah lelaki paruh baya berwajah teduh itu mengangguk, sepertinya beliau memaafkan kelancanganku. Kuembuskan nafas pelan yang sedari tadi aku tahan. Ada lega menguar di sebalik dada.

Tanpa menunggu lama kucium punggung tangan pakyai dan segera berlalu. Sesampainya di kamar aku disambut teriakan Badri salah satu santri yang sering membantuku mengurus dapur menyiapkan makanan untuk keluarga pakyai. 

"Dari mana saja sih kamu, di tunggu Pakyai dari tadi. Kata beliau kamu mau membuatkan wedang uwuh, malah nggak nongol. Aku udah muter-muter satu pondok nyariin, Gus. Payah kamu," cerocosnya kesal. 

"Lah, tadi aku ketemu Pakyai di atas nggak nanyain tuh,." jawabku agak heran. 

"Di atas mana? Wong dari tadi Yai di pendopo menemui beberapa wali santri yang datang. Sekarang masih nungguin kamu itu, cepat sana!" perintah Badri kesal. Ucapannya semakin membuatku bingung dan penasaran. juga menambah daftar pertanyaan yang butuh jawaban secepatnya. 

Tapi tidak mungkin aku menanyakan hal ini sekarang. Sepertinya harus menunggu waktu yang tepat untuk menanyakannya pada guru. Untuk sementara biar dulu, aku harus rela bersabar, desahku. Selanjutnya aku bergegas ke arah dapur untuk menyeduh wedang uwuh pesanan guru. 

Cungkup: bangunan beratap area pemakaman 

Belik: mata air yang biasanya berbentuk kolam

Jakarta, April 2021

Khotimah Zaenuddin