Pesantren Angker - Malaikat Pembawa Korek

Pict by me. Desain pict by canva.

Baron menutup telinganya dengan bantal. Sudah berulang kali teman sekamarnya berusaha membangunkannya. Akan tetapi, pemuda itu tetap tidak mau beranjak dari kasur, padahal ia tahu betul konsekuensi bagi santri yang melanggar peraturan pesantren.

 

Sudah sepekan Baron tinggal di pesantren Kiai Ibrahim—kakek kandungnya. Pemuda berambut kribo itu dipaksa mondok oleh orang tuanya. Mau tidak mau ia harus manut karena pihak sekolahnya pun sudah berencana mengeluarkannya dari sekolah sebab kelakuannya yang buruk.

 

Suara bising dari teman-temannya sudah menghilang menyisakan hening. Setelah memastikan tidak ada lagi yang akan mengganggu tidurnya, pemuda itu memutar badan menghadap tembok. Namun, tiba-tiba ia merasakan sapuan halus menyentuh lengannya, membuat bulu-bulunya seketika meremang. Baron mengerjapkan mata, bangkit dari tidurnya. Lalu, menilik sekitar yang remang-remang. Tak ada siapa pun, kecuali dirinya dan ranjang-ranjang susun yang telah kosong.

 

Wajahnya diusap kasar, mata bulat itu menyipit melihat ke arah jam dinding berbentuk oval menunjuk angka dua. Baron bangkit dari ranjang, lalu menyambar peci serta sarung. Tak lupa mengambil rokok yang disembunyikan di belakang lemari.

 

“Cepat ambil wudu. Lepas tahajud jangan lupa tadarus.”

 

Baron terkesiap melihat Ustaz Fikri yang bertugas membangunkan santri sudah berdiri di belakangnya. Kali ini, ia tak membantah. Ia langsung bergegas ke tempat wudu. Nyaris saja dirinya ketahuan membawa benda yang dilarang di pesantren. Sebungkus rokok itu ia masukkan lebih dalam lagi ke saku celananya.

 

Usai berwudu, Baron melangkah menuju masjid. Sesampainya di depan pintu, ia melepas sendal. Lalu, berbelok ke area belakang di mana terdapat bangunan tua bekas kelas yang sudah lama tidak terpakai. Pemuda itu memang belum ada niat untuk bertobat. Apa gunanya menitipkan alas kaki di depan masjid sementara tubuhnya berkeliaran tanpa tujuan.

 

Sebatang rokok ditarik dari kotaknya. Baron kembali merogoh saku celana, mencari korek api. Namun, tidak menemukannya. Ia lupa membawa serta benda itu. Bagaimana dirinya bisa menikmati kepulan asap dari gulungan tembakau itu, kalau apinya tidak ada.

 

“Koreknya, Bang.”

 

Suara serak dari seorang lelaki membuat Baron gelagapan. Rokok yang ada di sela jarinya hampir saja patah. Ia mengelus dada kurusnya berulang-ulang, menatap wajah pucat orang di sampingnya.

 

Seketika Baron merasa Tuhan sedang mendukungnya, dengan mengirimkan padanya malaikat pembawa korek. Ia buru-buru membakar ujung rokok itu, lalu menghisapnya dalam-dalam dan melepas kepulan asap tebal di udara.

 

“Makasih, Bro,” ujar Baron seraya tersenyum lebar. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan orang yang punya pikiran sama dengannya.

 

Lelaki yang mengenakan t-shirt berwarna putih dan celana jeans itu hanya mengangguk.

 

“Oh, iya. Lu santri sini juga?” tanya Baron seraya duduk di kursi kayu yang ada di depan bangunan itu.

 

Lelaki itu mengangguk. “Abang ini tidak ikut salat?”

 

Baron tertawa hampa. Sebenarnya ia tak suka dipanggil abang, melihat raut wajah orang itu jauh lebih tua darinya. Namun, hatinya sedang bahagia karena bisa menikmati kebebasan yang sudah beberapa hari tidak ia rasakan.

 

“Sudah kemarin,” jawab Baron enteng. Lalu, melempar pandangan ke langit, menatap bulan berbentuk sabit. “Lu sendiri ngapain di sini? Kalau mau salat tempatnya di sana.”

 

“Saya lagi menunggu teman sepertimu, Bang.”

 

Tiba-tiba saja suara lolongan anjing terdengar riuh, memecah kesunyian malam yang gelap nan gigil. Baron bergidik. Ia mengusap tengkuknya, lalu melepas peci yang bertengger di kepalanya.

Pemuda itu melirik ke samping dan tak lagi mendapati orang tadi. Perasaannya mulai tak enak. Ia bangkit dari duduknya, berniat mencari pemilik korek api itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh tepukan kasar di bahunya.

 

Baru kali ini Baron merasa ketakutan. Ia memberanikan diri menengok ke belakang. Rokok yang tinggal setengah itu lepas sudah dari jarinya. Sekujur tubuh tipisnya gemetaran, melihat sosok lelaki tadi berlumuran darah dengan wajah nyaris tak berbentuk. Aroma anyir bercampur bau bangkai seketika mendera penciumannya.

“Hiduplah bersamaku di sini!” pekik makhluk itu.

Baron berlari sekuat mungkin, berusaha menghindar dari makhluk itu. Namun, ia lagi-lagi kembali ke tempatnya semula, padahal ia sudah berlari sangat jauh.

“Setan sialan!” pekik Baron dengan napas memburu. Ia mulai frustrasi.

 

Tiba-tiba pemuda itu merasakan lehernya dicekik. Ia berontak, mencoba melepaskan diri. Namun, tenaganya mulai habis. Kaki jenjangnya berjinjit, berusaha untuk tetap menginjak tanah.

Tidak, Baron tidak ingin mati sebelum tobat. Ia tiba-tiba teringat Tuhan yang sudah lama ia abaikan. Pemuda itu memutar otak, menyusuri jejak-jejak ingatan tentang doa yang pernah dia pelajari di sekolah. Namun, jangankan doa pengusir setan, doa makan saja ia tak tahu.

 

Pelan-pelan kaki Baron melayang ke udara. Oksigen dirasakannya semakin menipis. Ia mulai pasrah menemui Tuhan sebelum menghabiskan sebatang rokok, tetapi hati kecilnya tak terima dirinya mati sebelum sempat bersujud.

 

Astagfirullah, Baron!” teriak Ustaz Fikri yang baru saja tiba bersama beberapa santri.

 

Mereka berhamburan menolong Baron yang menggelantung di seutas tali. Ustaz Fikri melepas ikatan talinya, lalu membopong tubuh pemuda itu ke pelataran masjid dibantu santri lain.

 

Kabar Baron yang mencoba bunuh diri dengan cepat menyebar luas, membuat seluruh penghuni pesantren jadi heboh. Sementara dirinya sadar betul, ia tak pernah melakukan tindakan konyol itu. Namun, ia belum bisa memberikan penjelasan. Air matanya sedari tadi tumpah ruah di pangkuan Kiai Ibrahim yang langsung menemuinya usai diberitahu.

 

Lelaki sepuh itu menanyakan perihal tujuan Baron ke bangunan tua yang sejak lama terkenal angker itu. Namun, Baron hanya bungkam. Bagaimana bisa ia mengatakan kalau dirinya sedang berusaha bersembunyi dari Tuhan hanya untuk menikmati sebatang rokok.

 

Lalu, Kiai Ibrahim bercerita perihal bangunan itu. Dua puluh tahun lalu, seorang santri yang tergolong sangat bandel meninggal akibat kebakaran yang terjadi dan kini tempat itu terkenal angker. Mendengar cerita sang kakek membuat Baron bergidik. Dirinya beruntung karena tertolong.

 

“Setan sangat mudah memperdaya manusia. Yang kita pikir buruk, bisa saja itu yang terbaik,” ujar Kiai Ibrahim menutup ucapannya.

 

Air bening kembali berjatuhan di pipi pemuda itu tatkala matanya tertumbuk pada sendal yang ia taruh di depan pintu masjid. Penyesalan seketika menghantam dadanya.