Pesantren Angker- Misteri Harta Karun Ayat Seribu Dinar

Ilustrasi gambar dokpri

Pondok pesantren Madrasah As-Salam yang berdiri kokoh di puncak Gunung Gajah menjadi pilihan Umi untuk Hadi belajar ilmu agama. Ia tinggal di dalam sebuah asrama bersama santri dari luar Jawa.

Pondok yang jauh dari hiruk pikuk roda kendaraan, lingkungannya masih asri ditumbuhi tanaman dan pohon-pohon di sekeliling. Hadi merasa asing dengan kehidupan baru di sini. Ia sudah terbiasa hidup di kota.

Terlebih di sini pun dilarang menggunakan gadget. Semua santri diharuskan fokus pada proses belajar. Hadi merasa bosan, karena mau tidak mau ia harus meninggalkan kebiasaan bermain game online.

Umi sangat sedih dengan kebiasaan buruk anaknya. Bukan hanya menjadi anak pemalas. Hadi juga melalaikan kewajiban solat. Bahkan ia sampai menghabiskan banyak uang untuk sekedar top-up dan beli kuota setiap bulan.

Abi dan Uminya lantas membuat keputusan. Setelah lulus SD Hadi dikirim ke pondok pesantren. Umi berharap Hadi bisa berubah menjadi anak yang soleh.

"Di, kau kenapa? Sedari tadi memandang ke luar jendela. Ada masalah?"

Janu datang membuyarkan lamunan. Hadi tersentak memperlihatkan muka padam.

"Lain kali, kalau kamu datang kasih tanda. Bikin kaget, tahu!"

"Maaf, Di. Kan sebentar lagi azan Magrib. Bukannya masuk, kamu malah masih berdiri di luar."

Perkataan Janu tak digubris, ia lebih memilih untuk menyusuri gedung. Membaca setiap papan yang menancap di atas pintu lubang ventilasi. Jika di lantai utama dikhususkan untuk asrama, ruang tidur, ruang belajar dan lavatori. Di lantai dua dijadikan ruang kelas laboratorium, kantor administrasi, ruang ustaz, kantor pengelola dan pengasuh santri. Sedangkan, masjid berdiri di tengah pelataran menghadap ke arah pintu gerbang.

Di saat semua ustaz dan para santri berkumpul di dalam masjid, Hadi justru berhenti di depan perpustakaan yang letaknya di bawah gedung. Dalam benaknya, ia akan sembunyi di dalam ruangan itu.

Hadi masuk perlahan-lahan ke ruang perpustakaan yang belum dikunci . Bersorak ria karena berhasil menemukan tempat aman.

Ia teringat ucapan Zen saat di kamar. Menurutnya, di perpustakaan ada harta karun ayat seribu dinar. Hadi pun ingin membuktikan, kebenaran ucapan Zen.

Hadi mencari setiap buku di atas deretan rak yang memanjang. Ratusan buku tertata rapi. Namun dalam sekejap karena ulah tangan Hadi, semua menjadi berantakan. Ada yang terbalik sampulnya, terjatuh ke lantai dan ada yang sobek karena ditarik paksa.

Ia begitu lelah menilik semua buku. Membaca satu persatu judul tapi belum juga menemukan harta karun. Apa mungkin Zen berbohong?

Hadi tak mengerti wujud harta itu. Apakah bentuknya serupa logam, buku kuno, atau hanya lembaran peta sebagai petunjuk ke suatu tempat di mana harta karun itu disimpan?

Ah, pusing! Hadi menjedutkan kepalanya ke rak buku. Sebuah buku terlempar dari atas rak, mengenai kepalanya. Hadi berdesis, "Aduh!"

Setelah menghamburkan sumpah serapah, Hadi memungut buku dengan sampul berwarna hijau. Mengeja judul buku, "Misteri dan Keajaiban Ayat-ayat Seribu Dinar."

Sebuah keberuntungan. Ucapan Zen ternyata benarnya. Hadi langsung membayangkan dirinya akan kaya raya tujuh turunan seperti dikatakan Zen. Ia bisa memiliki apa saja, bahkan gadget canggih untuk main game dan tidak perlu berbohong pada Umi untuk to up.

Membayangkan itu, Hadi tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

Namun ia terkejut ketika membuka buku tersebut. Aneh, isinya hanya kertas kosong. Tak ada tulisan apa pun di atas lembaran kertasnya. Hadi lantas menutup buku itu dan kembali membukanya dengan hati-hati. Ia takut ada yang salah atau terlewatkan.

Namun hasilnya tetap sama. Kosong. Buka - tutup berulang kali hasilnya tetap nihil. Ia frustasi dan akhirnya membanting buku itu ke sembarang tempat.

Hadi melangkah bermaksud keluar ruang perpustakaan. Namun lampu tiba-tiba padam. Hadi panik. Ia berteriak meminta tolong.  Tidak seorang pun yang mendengar. Hadi meraba-raba, agar sampai ke pintu depan. Kakinya tersandung sesuatu benda dan membuatnya terjatuh.

Tiba-tiba terdengar suara mencekam, "Letakkan kembali buku itu!"

Hadi bergeming. Detak jantungnya berdegup kencang. Suaranya tertahan saat hendak berteriak lagi. Akhirnya dia jatuh pingsan. Tertidur semalam di dalam perpustakaan.

Esoknya, Ustaz Aziz begitu terkejut ketika mendapati perpustakaannya berantakan. Lebih terkejut lagi ketika melihat Hadi masih pulas di lantai.

"Nak Hadi, bangun!" ujarnya sambil menepuk pipi santrinya dengan lembut,

Hadi setengah sadar terbangun. Ia lantas berteriak minta ampun. Ustaz Aziz menyuruhnya istigfar dan mengantarkannya ke kamar. Melihat Hadi masih lemas, Ustaz Aziz pun memaklumi dan tidak memaksa untuk menceritakan peristiwa yang membuat perpustakaan berantakan.     

Sampai beberapa hari, Hadi masih terlihat ketakutan dan enggan menceritakan peristiwa yang dialami. Setiap kali mengingat, ia merasa ketakutan.

Sebulan berlalu kejadian yang dialami Hadi, terjadi pada Janu. Semua karena pengaruh cerita Zen.

Setelah situasi tenang, Hadi dan Janu membawa Zen ke aula yang sepi, Mereka ingin tahu maksud Zen mengarang cerita dusta.

"Zen, kamu sengaja cerita soal harta karun ayat seribu dinar agar kami celaka, kan?” ujar Hadi.

"Gara-gara kamu,  semalaman aku sampai terkunci di dalam perpustakaan. Ternyata buku harta karun itu isinya kertas kosong. Itu semua hanya bualanmu saja."

Zen terdiam. Ia nampak gelisah.

"Kenapa diam saja, Zen?!" gertak Hadi.

"Oke, aku akan jujur pada kalian. Tapi, harta karun itu memang ada. Kan?"

Hadi dan Janu menjawab bersamaan, "Ya. Ada."

"Jadi, aku tidak berbohong."

"Tapi isinya hanya lembaran kosong. Buku itu tak ada tulisan sama sekali," jelas Hadi.

Zen tersenyum. "Sampai kapan pun kalian tidak akan mengetahui isinya."

"Mengapa?" Janu balik bertanya.

"Karena hanya orang-orang tertentu saja, dan berhati mulia yang bisa membaca buku itu," ujar Zen tiba-tiba terisak.

Hadi dan Janu pun kebingungan.

"Ada apa, Zen?"

"Aku hanya teringat sahabatku yang sudah meninggal setahun yang lalu," ungkapnya.

Janu makin bingung, "Lantas apa hubungannya dengan buku itu?"

"Dia pemiliknya."

 

TAMAT

#Aksara_Sulastri

PML, 27-04-21