Pesantren Angker-Pengabdian Wak Ical

Ilustrasi from google

Seminggu sebelum Ramadan tiba Wak Ical sudah sibuk di pesarean khusus keluarga Bu nyai. Jika hari biasa palingan cuma hari Jumat bertandang ke sana, membersihkan ilalang dan rerumputan yang tumbuh subur. Karena rutin berkunjung bisa dipastikan pesarean sudah bersih dari rontokan daun ranggas. Wak Ical duduk dengan posisi tawaru', menyiramkan air yang dipersiapkan di sebuah kendi ke seluruh makam Kiai Rojab, dari atas patok bagian kepala sampai ke patok bagian kaki. Berdoa cukup lama dan terakhir sebelum meninggalkan makam, diciumnya ujung patok bagian kepala dengan takzim. Yang paling membuat takjub para santri adalah ketika hendak pulang, jika orang lain atau kami para santri pasti berjalan biasa melaju ke arah depan. Akan tetapi, tidak dengan Wak Ical yang berjalan mundur hingga sampai pintu keluar pesarean.

 

Kisah tentang Wak Ical selalu berputar tiap tahunnya. Bu nyai sengaja membekali para ustazah kisah inspiratif Wak Ical yang diceritakan kembali kepada para santriwati setiap kali hendak Ramadan. Terkhusus untuk santriwati baru.

 

"Kok bisa ada manusia tawadu' begitu, sih, Mbak Lel," tanya seorang santriwati yang tangannya sibuk mengupas kentang.

 

Mbak Lely, tenaga yang diperbantukan di pesantren untuk mengurus keperluan dapur memang telah tinggal di sini semenjak Kiai Rojab masih hidup. Matanya menerawang jauh ke arah jendela, seperti mengingat awal perjalanan Wak Ical.

 

"Tak ada manusia yang sempurna. Wak Ical sangat berterima kasih kepada Kiai, sebab beliau yang menyadarkan Wak Ical dari kubang dosa. Lihatlah Wak Ical selalu menggunakan baju lengan panjang, bukan?"

 

Kami mengangguk sebagai tanda yakin bahwa Wak Ical memang terbiasa menggunakan kaus lengan panjang atau hem lengan panjang.

 

"Seluruh tubuh Wak Ical penuh tatto. Beliau dulunya tukang tagih bank titil, atau orang yang butuh bantuan pasti dibantu, sekali pun melenyapkan nyawa orang."

 

Kami menutup mulut kaget dengan perjalanan Wak Ical yang sesungguhnya, santriwati yang kebetulan piket di dapur tak kalah kaget.

 

"Setelah diberi ceramah dan dibimbing untuk taubat akhirnya Wak Ical mengabdi di pesantren ini. Pastinya tak pernah menerima upah, lebih tepatnya menolak upah yang diberikan Bu nyai. Ada filosofi tentang marbot makam, kata Wak Ical dengan menyapu makam sama halnya membersihkan dosa-dosa yang melekat padanya. Selama 25 tahun menjadi preman tak sedikit pun berbuat baik, sehingga semasa hidupnya ingin mengabdi di sini. Di pesarean keluarga Kiai."

 

Kami yang memperhatikan cerita Mbak Lely hanya berucap "Oh...." 

 

Tahun ini tepat lima tahun kematian Wak Ical, biasanya beliau sudah sibuk mempersiapkan keperluan nyekar para wali santri di pesarean.

 

Santriwati tahu tugas masing-masing, jika kakak kelas pasti mengajari adik kelas yang memang belum hafal seluk-beluk pesantren.

 

"Nik, nanti kamu siapin kuali besar yah, kalau sudah diisi penuh. Kamu taruhnya di depan pintu masuk makam."

 

Santriwati yang diperintah menurut saja, sembari bibirnya tak bisa diam mendawamkan sesuatu. Berjalan menuju pesarean dan mengucap salam terlebih dahulu, lantas membalik kuali besar yang berada di pintu masuk makam. Kuali besar berdiameter satu meter tersebut dicoba digulingkan, untuk disikat dan diisi air.

 

Dengan cekatan tangan lain membantu santriwati tersebut.

"Atos-atos, Neng." 

"Njih, Pak, matur suwun. Mari, saya mau mengulur selang, mau isi kuali."

 

Seseorang yang membantunya hanya mengangguk dengan posisi menunduk. Santriwati yang berjalan menuju sumber air telah kembali dan mengisi air hingga penuh. Seharusnya ini dilakukannya pagi atau siang tadi, tetapi karena kesibukan yang menyita waktu akhirnya baru sore dilakukan. 

 

Fungsi kuali di depan pintu masuk makam selain untuk mencuci tangan dan kaki, atau berwudu sebelum masuk ke pemakaman. Di sana terdapat beberapa makam selain Kiai Rojab, ada kakek dan paman-pamannya Kiai Rojab.

 

Dengan cekatan santriwati yang diutus tadi menyapu dalamnya pemakaman, sehingga jika besok diserbu wali santri sudah bersih. Harusnya ada teman lain yang datang, namun tak tahu mengapa hingga matahari meredup tak jua tampak batang hidungnya.

 

Sampah dedaunan dan ilalang kering yang dikumpulkan di depan makam, tiba-tiba dipungut oleh lelaki renta yang menggunakan caping bambu, sehingga kurang tahu wajahnya jika tidak dilihat dengan saksama. Beberapa kali lelaki tersebut mondar-mandir untuk membantu membersihkan tumpukan sampah daun kering.

 

"Matur suwun njih, Pak."

 

Yang diajak berbicara hanya mengangguk lantas berjalan kembali ke arah belakang dan tak kembali lagi. Karena tugas belum sepenuhnya selesai sehingga santriwati yang sedang piket masih menyiramkan air ke atas tanah makam.

 

"Lho, dek Nanik, sudah semua, toh?" tanya Firdaus, kakak kelasnya.

 

Beberapa santriwati yang piket juga berdatangan lebih dari enam orang.

 

"Lho, sepertinya sudah semua. Siapa ajah yang ngerjain, aku mau terima kasih," ucap yang lainnya.

 

"Ada Mbak Fir, sepertinya orang sini juga kok."

 

"Laki-laki atau perempuan?"

 

"Bapak-bapak dengan baju lengan panjang dan memakai caping bambu yang membantuku, siapa sih dia?"

 

Degh.

 

Semua santriwati yang mengetahui ciri-ciri lelaki yang dimaksud masih tak percaya.

 

"Te-terus, ada baret luka di punggung telapak tangannya?" tanya Mbak Firdaus penuh penekanan.

 

Hening beberapa saat, "Emm, ada Mbak di tangan kiri, kan?"

 

"Astaghfirullah, beliau datang untuk membersihkan makam Kiai." Kompak para santriwati senior membekap mulutnya sendiri.

 

Malang, April 2021

Kiki MD