Pesantren Angker - Adu Ilmu

Ist. Canva by me

 

Joyo menghisap rokok tingwe-nya dengan segenap perasaan. Pikirannya mengembara bersama kepulan asap yang dilepas ke udara. Ia telah bolak-balik menimbang keinginannya, keinginan yang terbit akibat rasa penasaran yang masih tersisa di dasar hati.


Sekarang atau tidak sama sekali, putusnya sembari membuang sisa puntung ke tanah. 


Lelaki gempal berkulit gelap ini beranjak dari balai bambu di teras rumahnya. Ia berjalan pasti menuju Ndalem Kiai Sirodj di Kauman, yang terletak di sebelah selatan desanya sendiri. Sepanjang jalan ia berpapasan dengan warga. Rata-rata mereka mengangguk hormat pada Joyo.


Tak lama Joyo sampai di tujuan. Kedatangannya bertepatan dengan azan duhur yang berkumandang dari masjid. Joyo tak jadi ke rumah Kiai Sirodj, melainkan berbelok menuju masjid. Ia tahu sang Kiai pasti akan mengimami salat di sana. Dengan canggung Joyo ikut berwudu bersama puluhan santri lain. Ia masih belum terbiasa dengan kebiasaan baru ini. Tak lama lelaki ini telah berada di saf depan.


Seusai wiridan bada salat, Joyo beringsut mendekati Kiai Sirodj. Kiai yang telah sepuh tersebut tersenyum melihat kehadirannya. "Awakmu melok solat?" tegur beliau ramah. Joyo mengangguk takzim. 


"Anu, Mbah Yai, saya ingin menyampaikan sesuatu," ucap Joyo hati-hati. Kiai Sirodj memberi isyarat agar ia meneruskan bicara. 


"Saya ingin Mbah Yai bertemu dan berbincang dengan Ki Martoyo, bekas guru saya." Joyo mengucapkan maksudnya, tanpa berani memandang wajah berkharisma di hadapannya.


 Sejenak tak ada jawaban. Rupanya Kiai Sirodj membetulkan letak sorban di kepalanya terlebih dahulu. Kemudian ia menelisik wajah Joyo. Sang Kiai tersenyum dikulum.

"Ngono? Yo, boleh. Tapi ada syaratnya. Gurumu suruh datang duluan ke tempatmu.  Kasih dia tempat yang bagus dan terhormat. Setelah itu baru aku  datang menemuinya."


Joyo terperangah, tanpa sadar ia mengangkat wajah. Namun tak dilihatnya selaput kemarahan maupun kekesalan di wajah Mbah Kiai. Akhirnya lelaki ini mengangguk tanda paham. Setelah itu Joyo pamit undur diri. 


**


Joyo memang belum lama menyatakan tobat di hadapan Kiai Sirodj. Sebelumnya, ia adalah seorang tetua di desanya, desa Gembongan. Ia dan pengikutnya  menganut ilmu klenik. Tentu saja apa-apa yang mereka puja dan agungkan sehari-hari berlawanan dengan akidah agama. Maka tak heran, Joyo pribadi memendam rasa tak suka pada aktivitas pesantren yang berada tak jauh dari Gembongan. Lalu disusunlah rencana.

Mereka mengundang perwakilan dari pesantren Payaman, guna membacakan manakib di depan warga desa Gembongan. Yang pertama kali datang adalah salah seorang santri senior bernama Kurumain. Ketika ia tengah membaca manakib Syekh Abdul Qodir Al Jaelani, orang-orang penganut klenik yang ada di situ menyuruhnya berhenti. Mereka lalu mengajukan pertanyaan sulit pada Kurumain. Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah mereka rancang untuk mempermalukan ulama di majelis itu. Dan benarlah, Kurumain tak mampu menjawabnya. 


Beberapa bulan kemudian, jamaah klenik tersebut kembali mengundang pembicara lain, bernama Abdul Rozak atau akrab dipanggil Pak Durajak. Sama seperti pendahulunya, ia pun dihujani pertanyaan-pertanyaan sulit di tengah pembacaan manakib. Menyadari  hendak dipermalukan, Pak Durajak menjadi geram dan menantang orang-orang tersebut berduel. Namun mereka tak ada yang berani menyambut tantangan itu. Sehingga Pak Durajak pulang dengan hati dongkol. 


Semua tindakan tersebut dilakukan para penganut klenik desa Gembongan sebagai bentuk penegasan sikap mereka yang tidak percaya pada Allah. Mereka hanya meyakini apa yang logis menurut hawa nafsu. Mereka tidak suka pada syiar agama yang dilakukan pihak pesantren. 


Hingga pada suatu ketika, kembali datang seorang ulama dari pesantren, ke desa Gembongan. Kali ini Kiai Sirodj sendiri yang datang memenuhi undangan penduduk setempat. Seperti yang sudah-sudah,  pembacaan manakib oleh Kiai Sirodj dihentikan oleh orang-orang tersebut. Mereka  menghujani kiai dengan pertanyaan yang sulit. Namun kali ini orang-orang itu kecele. Sebab Kiai Sirodj ternyata mampu menjawab seluruh pertanyaan hingga tuntas. 


Setelah mereka terdiam kehabisan pertanyaan dan bantahan, Kiai Sirodj balik bertanya. "Sekarang aku akan balas bertanya kepada kalian semua. Lampu petromak itu wujud. Kalian percaya tidak bahwa ada yang membuatnya?"


Mereka bungkam. Sebab secara logika tentu saja jawabannya ada. Namun itu tak mungkin mereka utarakan karena akan bertentangan dengan keyakinan awal mereka tentang keberadaan Tuhan.


"Lalu petromak itu umpama ada yang membuatnya, apakah dia laki-laki ataukah perempuan?" 


"Al Quran itu ribuan tahun sudah memberitakan tentang malaikat, nabi, dan wali Allah. Bila kalian tetap tidak percaya, besok kalau mati jadi celeng!" Demikian tegas ucapan Kiai Sirodj terhadap kebebalan mereka. 


Selang beberapa waktu kemudian, terjadilah hal yang mengerikan. Salah seorang warga penganut klenik meninggal dunia. Setelah ia mati, seminggu sekali rumah orang tersebut selalu didatangi seekor celeng. 


Karena keganjilan itu, Joyo sebagai ketua penganut klenik akhirnya mendatangi Kiai Sirodj. Ia membawa kitab pegangannya. Di hadapan sang Kiai, Joyo menanyakan beberapa hal yang termaktub dalam kitabnya. Dan Kiai Sirodj dengan keluasan ilmu serta keluwesannya berinteraksi, mampu menjawab semua pertanyaan Joyo.

Hal ini menyebabkan hati Joyo terketuk. Ia lalu menyatakan tobat, sekaligus minta diterima menjadi murid  Kiai Sirodj.  


Peristiwa tobatnya Joyo membawa dampak signifikan. Banyak warga desa Gembongan yang turut tobat, kemudian  menjadi muslim. Meskipun demikian, ada satu pertanyaan besar yang kala itu masih Joyo pendam dalam hati. Yaitu: siapakah yang lebih mumpuni dan digdaya, Kiai Sirodj atau guru ilmu kleniknya? 


**


Setelah mendapat kesediaan Mbah Kiai, Joyo segera mempersiapkan hari pertemuan. Ia mengundang gurunya yang bertempat tinggal di Muntilan. Gurunya itu diberi tempat yang megah dan terhormat. Kemudian Joyo mengutus anak buahnya guna menjemput Kiai Sirodj di Kauman. 


Mbah Kiai segera mempersiapkan diri. Beliau mengajak serta dua tetangganya, yakni Pak Usman dan Pak Syuaib. Dua orang ini dikenal mumpuni dalam olah kedigdayaan dan pencak silat. Kiai Sirodj berpesan kepada dua pengiringnya agar selama dalam perjalanan tidak tengak-tengok, dan selalu mendaras ayat 18 dari surah Al Baqarah. 


Begitu rombongan sampai di halaman rumah pertemuan, orang-orang yang hadir segera berdiri untuk menyongsong kedatangan Kiai Sirodj. Akan tetapi hal sebaliknya terjadi pada Ki Martoyo. Ia langsung terlihat panik begitu melihat sang Kiai. Apalagi ketika Kiai Sirodj melangkah ke arahnya, lelaki itu malah meloncat dari tempat duduk, dan berlari ke arah pojok rumah. 


"Jangan, jangan ke sini!" seru Ki Martoyo. Ia  meringkuk di lantai, wajahnya disembunyikan dari pandangan Kiai Sirodj. 


"Monggo lenggah mriki," ajak Kiai Sirodj. Tapi Ki Martoyo betul-betul tak kuasa menggerakkan tubuhnya. Ia terlampau ketakutan. 


Joyo dan warga lainnya terkesima menyaksikan hal tersebut. Kini jelaslah bagi Joyo, siapa yang lebih digdaya. Dan semua itu tak luput dari pertolongan Yang Maha Kuasa. (*)


Cilacap, 260421

Keterangan :
Rokok tingwe                 : rokok hasil melinting sendiri. 
"Awakmu melok solat?" : "Kamu ikut solat?"
"Monggo lenggah mriki,"  : "Mari duduk di sebelah sini,"

(sumber kisah: M. Halim Abdurrahman, Cerita dari Payaman) 

#pesantrenangker