Pesantren angker- Sapu Lidi Mbah Selawe

Gambar: Sapu Lidi (ist)

Keysa baru saja menunaikan enam rakaat dhuha. Seperti biasa, gadis berpipi chubby itu mulai merapalkan beberapa kosa kata bahasa Arab. Sehari tujuh kata untuk kemudian disetor pada ustadzah penanggung jawab setorannya. Kamarnya sepi. Teman satu kamar sudah berangkat sekolah semua, kecuali Keysa. Seharusnya tahun itu dia masuk ke SMA. Namun ia menundanya satu tahun untuk fokus belajar di pesantren. Tak heran, dia kerap sendirian di ma’had saat siang.

Dia sebenarnya tergolong santri yang rajin beribadah. Tapi sering mangkir dari piket kebersihan. Alasannya, dia alergi dengan sapu lidi. Pergelangan tangannya mudah lecet jika tergores pangkal lidi yang terikat rapat. Dia lebih suka membayar teman untuk menggantikannya saat piket harian. Tentu saja tidak ada pengurus yang tahu akan kebandelan Keysa.

Sreeek … sreeek … sreeek ….

Keysa menajamkan telinga. Sebuah suara sapu lidi beradu dengan tanah, muncul di sekitar pohon nangka yang berdiri kokoh di pojok ma’hadnya. Bukankah tadi pagi petugas piket sudah menyapu seluruh halaman? Kenapa masih ada yang menyapu siang-siang? Keysa menghentikan hapalannya. Dengan penasaran, kepalanya muncul dari balik jendela kaca. Matanya menjelajahi seluruh halaman. Memastikan bahwa yang didengarnya bukan halusinasi.

Sreeek … sreeek … sreeek ….

Alunan sapu lidi beradu dengan tanah masih terus memenuhi rongga telinga Keysa. Temponya stabil. Tidak lambat. Tidak juga terburu-buru seperti orang sedang marah. Keysa begitu menikmatinya. Saat mata Keysa berhenti pada pokok nangka, ia melihat sosok kakek tua. Tubuhnya renta. Punggungnya melengkung dengan tonjolan di tulang belakang sekitar belikat.  Mungkin karena terlalu sering membungkuk, sehingga tulangnya tak lagi tegak. Kakek itu hanya memakai celana longgar warna hitam tanpa baju. Udeng batik melilit kepala yang rambutnya telah memutih dimakan usia.

Merasa ada yang mengamati, kakek itu menghentikan aktivitasnya. Wajahnya menoleh pada sebuah jendela kaca, di mana wajah Keysa sedari tadi memperhatikannya. Kakek itu melempar senyum ramah membuat Keysa menganggukkan kepala takdim. Keysa keluar seraya membawa gelas dan sebotol air mineral. Menuangkannya kemudian menyerahkan kepada kakek yang sudah duduk di bawah pohon nangka bersamanya. Dengan pelan, kakek tua itu mereguknya. Menikmati setiap tetes yang mengobati dahaganya.

Selawe,” kata kakek itu pada Keysa, “duit selawe,” tambahnya.

Keysa mengernyitkan dahi. Selawe dalam bahasa Jawa berarti dua puluh lima. Kakek itu meminta uang dua puluh lima. Mungkin itu adalah nominal bayaran untuk  membersihkan halaman ma’had. Menyadari tak  ada satu pun pengurus yang nampak, Keysa memutuskan memakai uang sakunya untuk diberikan pada kakek tua. Langkahnya terburu menuju kamar. Beruntung kemarin lusa, ibu mengirim uang saku lebih untuknya. Dua puluh lima ribu adalah jumlah tak seberapa bagi anak juragan batik terkenal di kotanya.

Keysa berlari kembali ke bawah pohon nangka. Namun nihil. Kakek ber-udeng batik kusam itu sudah tidak di tempat semula. Sapu lidinya pun tidak ada. Hanya ada jejak berupa guratan-guratan lidi pada tanah.

“Ah, mungkin saat aku ambil uang, sudah dikasih duluan sama pengurus,” gumam Keysa.

 

***

Hampir setiap pukul sepuluh pagi, suara sapu lidi dan kakek tua terdengar oleh Keysa. Keysa menikmatinya. Kemudian keluar dengan membawa minuman atau makanan sekadarnya. Lagi-lagi, kakek itu hanya minta uang dua puluh lima. Kejadian berulang kembali saat Keysa masuk kamar mengambil uangnya, kakek itu pergi.

Hari ini, Keysa sengaja mengantongi uang dua puluh lima ribu. Agar ia tak kehilangan jejak kakek tua. Keysa keluar menuju pohon nangka begitu mendengar sapu lidi kakek itu beradu kembali dengan tanah. Ia duduk sambil mengamati kakek tua menghabiskan minumya. Sapu lidi yang dibawanya, sudah sangat pendek karena terlalu sering dipakai. Sapu itu seperti umumnya sapu lidi. Diikat oleh anyaman rotan. Namun di tengahnya, ada sebatang kayu untuk mengganjal. Supaya kumpulan lidi itu tidak terburai saat digunakan.

Duit selawe.”

Suaranya lirih. Keysa tersenyum lantas merogoh saku gamisnya. Menyerahkan lembaran uang bergambar Sam Ratulangi dan Tuanku Imam Bonjol padanya. Kakek yang seluruh alisnya telah putih itu tersenyum. Ia menolak dengan santun uang pemberian Keysa.

“Ini mungkin bisa buat beli sapu lidi baru, Kek. Sapu kakek sudah sangat pendek. Sepertinya kurang nyaman.”

Namun usaha Keysa gagal. Kakek itu tetap menolak pemberian Keysa. Setelah mengangguk dan tersenyum, kakek itu pergi keluar gerbang ma’had. Keysa yang masih penasaran, mengikutinya keluar hingga tubuh kakek itu tak nampak lagi di ujung gang.

Saat Keysa akan kembali menuju kamar, matanya membaca aturan pesantren di depan gerbang tempatnya berdiri. Laki-laki selain pengurus dan wali santri dilarang masuk ma’had. Lantas, kenapa kakek-kakek itu tetap diijinkan pengurus masuk?  Apa karena dia tukang sapu jadi dibiarkan saja?

“Ustadzah!” teriak Keysa saat melihat Ustadzah Khusnah keluar dari ruangan pengurus.

Perempuan berjilbab segi empat itu berhenti. Di wajahnya tergambar senyum. Teduh. Dengan tegesa, gadis berusia lima belas tahun ini menghampiri Ustadzah Khusnah.

“Ustadzah tahu tidak, ada kakek yang tiap pagi ke sini menyapu halaman?”

Yang ditanya menyatukan alis tanda heran. Setahu dia, tidak pernah ada kakek-kakek datang untuk menyapu halaman, karena tiap hari sudah ada petugas piket kebersihan. Pihak pondok pesantren juga tidak pernah mempekerjakan kakek lanjut usia untuk bersih-bersih halaman.

“Lalu, kakek tadi siapa? Dia selalu mengatakan selawe. Njaluk duit selawe-minta uang dua puluh lima-.”

“Oh, itu Mbah Selawe. Dulu pemilik tanah sebelum kemudian dijual untuk pesantren ini,” kata Ustdzah Khusnah.

“Orangnya sekarang tinggal di mana?”

“Di ujung gang sana. Tepatnya di pemakaman muslim.”

“Oh, Mbah Selawe juga juru kunci makam?” kejar Keysa.

Ustadzah Khusnah tersenyum. Tangan lembutnya menggandeng tangan Keysa. Sambil berjalan menuju kamar, Ustadzah Khusnah bercerita, bahwa Mbah Selawe sudah berpulang sepuluh tahun silam. Keysa terkesiap. Bulu kuduknya meremang seketika.

“Ndak usah takut. Mbah Selawe ndak pernah mengganggu kok,” kata Ustadzah Khusnah menenangkan.

Keysa menutup pintu kamarnya setelah Ustadzah Khusnah pergi. Saat memulai menghapal kosa kata bahasa Arab, Keysa terkejut mendapati sapu lidi Mbah Selawe teronggok di salah satu sudut kamarnya.

Oo0oO

Selesai

SW2K, 26042021-Alaskembang Mlg